Mural Sebuah Karya Seni, Anis Matta Minta Pemerintah Nggak Usah Paranoid

Kamis, 9 September 2021, 13:20 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Viralnya mural yang dihapus belum lama ini, ditanggapi berbagai macam pandangan. Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta pun ikut menanggapi dengan meminta pemerintah tidak perlu paranoid, pasalnya mural adalah sebuah karya seni yang seharusnya patut dihargai.

Anis Matta mengatakan, mural merupakan karya seni jalanan yang memliki peradaban yang cukup lama, di samping memiliki energi kreativitas dan energi survival untuk bertahan hidup. Untuk itu, pemerintah tidak perlu merasa terganggu.

"Kalau lihat emosinya, yang menyertai komen publik, ada takut sedih dan senang seperti makanan Thailand, asam, pedas manis. Jadinya rasanya nano-nano, campur-campur seperti warna-warni yang ada dalam mural itu. Karya seni itu seharusnya harus dihargai dan diapresiasi, apalagi di alam demokrasi," kata Anis dalam Gelora Talks bertajuk 'Mural yang Viral, Dihapus di Dinding Menjalar ke Medsos’ di Jakarta, Rabu (8/9/2021) petang.

Baca juga : Soal Formula E, Anggota Fraksi Gerindra DPRD DKI Malah Protes

Diskusi yang digelar virtual ini juga dihadiri budayawan Ridwan Saidi, seniman dan pelukis kawakan Iwan Aswan, serta Founder Drone Emprit Ismail Fahmi itu.

Selain itu, mural, dikatakan Anis, bersentuhan dengan realitas kehidupan dan bisa juga memberikan pesan atau energi positif buat pemerintah. "Mural seharusnya bisa menjadi energi positif, sehingga pemerintah tidak perlu paranoid, justru kita harus mengarahkan dengan semangat mengakomodasi, energi kreatif dan survival ini. Mural akan memberikan energi positif, kalau dia diakomodasi secara baik," terangnya.

Sehingga, ia meminta pemerintah tidak terlalu reaktif dengan menghapus karya seni tersebut, yang berisi kritik sosial dari realitas kehidupan. Sebab, semakin dihapus, malah mural-mural baru bisa bertambah banyak.

Baca juga : Aturan Makan 20 Menit, Pemerintah Minta Kesadaran Warga Berperilaku Baik

"Kalau pemerintah sensitif, justru akan bermunculan mural-mural lainnya. Bahkan akhir-akhir ini sudah mulai merambah di media sosial (medsos)," ungkapnya.

Menurutnya, mural harusnya dikembalikan ke karya seni yang seharusnya diapresiasi. Mural bisa dikembangkan menjadi produk seni dan masuk dalam program pengembangan ekonomi kreatif yang bisa mendatangkan wisatawan.

Di sisi lain, Anis Matta juga meminta masyarakat dalam menyampaikan ekspresi juga harus ada etika kesopanan, termasuk mengekspresikan dalam bentuk mural. Sebab, kebanyakan mural yang selama ini dibuat terkesan kritik, terutama pada pemerintah atau penguasa.

Baca juga : Sebanyak 9.198 KK Tak Dapat PKH, Dika: Pemerintah Harus Tambah Kuota

"Mudah-mudahan saran kita didengar pemerintah, sehingga para seniman mural mendapatkan ruang besar dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga demokrasi kita punya makna lain, demokrasi yang punya art, demokrasi yang punya seni," pungkas Anis Matta.

Sementara budayawan Ridwan Saidi mengatakan, mural merupakan salah satu karya seni tertua yang sudah ada sejak ribuan tahun. Dia mencontohkan di sejumlah goa di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara ditemukan mural dalam bentuk tulisan dan gambar maupun grafis yang memberikan pesan di masa itu.

"Bahkan mural-mural itu juga telah menggambarkan sistem kekuasaan atau pemerintahan di masanya. Dengan mural-mural itu para sejarawan bisa mendapatkan gambaran peradaban masa lalu," tandasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal