LampuHijau.co.id - Kritikan pedas Indonesian Corruption Watch (ICW) terhadap kepemimpinan Agus Rahardjo di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tak lantas membuat lembaga antirasuah itu patah semangat. Menanggapi hal itu, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan wajar jika aspek-aspek tersebut disorot oleh ICW.
"Tidak hanya ICW, semua warga atau kelompok harus menilai KPK dari approach masing-masing, dari sisi pendidikan, penindakan, dan pencegahan," kata Saut kepada wartawan, di Jakarta, kemarin.
Saut pun menitikberatkan soal sumber daya manusia hingga anggaran KPK. Menurutnya, untuk menyembuhkan Indonesia dari penyakit korupsi, diperlukan 20 ribu pegawai dan anggaran sebesar 0,2 persen dari total APBN.
Baca juga : Fahri Jemput Presiden Jokowi, Bamsoet Celetuk People Power
"Dari sisi SDM yang saya minta 20.000 orang. Dari sisi APBN yang sebaiknya minimal 0,2 persen APBN dan lain-lain. Semua itu adalah harapan agar negeri ini cepat pulih," ucap Saut.
Terkait penilaian itu, Saut mengucapkan terima kasih. “Mari kita kirim sebanyak dan sebaiknya-baiknya pemuda Indonesia ke KPK, biar KPK semakin keren karena memenjarakan lebih banyak lagi orang jahat, biar efek jeranya lebih cepat. Jadi, terima kasih buat ICW yang sudah mendorong KPK," tandasnya.
Sementara, Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) justru menilai KPK di bawah pimpinan Agus Rahardjo sudah sangat baik. Pernyataan Bamsoet tersebut menanggapi kritikan ICW yang menilai KPK di bawah pimpinan Agus belum maksimal, di antaranya rendahnya tuntutan pidana hingga adanya gejolak internal KPK.
Baca juga : Beda Pendapat Soal Selisih Suara, Caleg PDIP Hantam Caleg Nasdem
“Menurut saya apa yang ada selama kepemimpinan sekarang sudah sangat bagus. Tiap kepemimpinan pasti ada plus minusnya dan menurut saya selama ini kepemimpinan Pak Agus Rahardjo dan kawan-kawan masih baik dan bagus," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.
Terkait adanya gejolak di internal KPK, menurut Bamsoet sudah terjadi sejak lama dan bukan di bawah kepemimpinan Agus Rahardjo saja. Begitu juga dengan adanya sejumlah kasus yang mandek.
"Menurut saya dulu juga banyak riak-riak dalam, dulu juga banyak yang belum selesai kasus-kasusnya dilanjutkan dengan pimpinan Pak Agus dan kawan-kawan," papar Bamsoet.
Baca juga : Ini 3 Permintaan Masyarakat Desa Pantai Bakti kepada Jokowi
Politisi Partai Golkar itu mengatakan, gejolak yang terjadi di internal KPK, tidak bisa dilihat secara parsial, melainkan harus secara keseluruhan. Karena gejolak tersebut bisa saja muncul di bawah kepemimpinan KPK periode sebelumnya. "Bisa jadi riak-riak ini lahir pada kepemimpinan yang lalu terjadi. Jadi tidak bisa dinilai secara sekarang tapi juga harus secara keseluruhan," tandas Bamsoet.
Sebelumnya, ICW dan Transparency International Indonesia (TII) memberikan penilaian terhadap kinerja komisioner KPK selama dipimpin Agus Rahardjo. Dari sektor penindakan, ICW dan TII menilai tuntutan hukum KPK masuk dalam kategori ringan. Kemudian soal sumber daya manusia, pimpinan KPK saat ini lambat merespons dan seakan tidak memiliki komitmen dalam menyelesaikan kisruh, serta dugaan penghambatan proses perkara yang terjadi. (DED)