LampuHijau.co.id - Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono mengatakan, gugurnya Kepala BIN Daerah Papua (Kabinda) Mayjen TNI (Anm) I Gusti Putu Danny Nugraha Karya karena ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), kembali menjadi catatan kelam dalam menangani masalah Papua. Penyelesaian masalah di Negeri Cendrawasih tersebut, menurutnya, tidak cukup dengan hukum dan senjata.
Demikian diungkapkannya dalam diskusi Empat Pilar MPR RI bertajuk "Peran TNI Polri dalam Menumpas KKB Papua" bersama anggota MPR RI, Dave Akbarshah Fikarno (F. Golkar), dan Yan Permenas Mandenas (F. Gerindra), Selasa (27/4/2021) di Media Center, MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta.
"Menangani masalah Papua tidak cukup melalui pendeketan hukum dan senjata. Namun, harus juga melalui pendekatan kesejahteraan dan keadilan. Semua pihak harus jujur melihat persoalan Papua. Otonomi khusus yang telah diterapkan di Papua juga harus dievaluasi sebelum diperpanjang," tuturnya.
Baca juga : Pengusaha Muda Rugi Rp50 Juta, Ngaku Tertipu Soal Pengadaan SPK Bansos
Lebih lanjut ia mengatakan, negara saat ini sudah memberikan otonomi khusus, dan ada anggaran yang cukup besar dibalik ini. "Mari kita atur, jangan sampai ada lagi dikorbankan terutama rakyat," ujarnya.
Dirinya berharap, semua pihak ikut berperan dalam menyelesaikan masalah Papua. Jangan sampai pemerintah saat ini mewarisi masalah Papua yang berlarut-larut kepada generasi mendatang. “Jangan warisan yang masa lalu dan sekarang nanti kita limpahkan lagi buat generasi berikutnya. Apalagi dalam keadaan lebih parah, kan itu masalahnya,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Anggota MPR RI F-Gerindra, Yan Permenas Mandenas mengatakan, jangankan mau minta merdeka, karena belum mampu urus diri sendiri. "Kita bersyukur yang mendapat perhatian dan kebijakan dari pemerintah pusat secara terus menerus. Jadi, sekarang bagaimana kita membantu pemerintah pusat negara kita sejahtera, sumber daya manusia kita harus lebih siap.
Baca juga : Penyerang Mabes Polri Punya Kartu Anggota Klub Menembak
Nah, ini sebenarnya yang menjadi pikiran yang terus-menerus kita coba dorong ke masyarakat di Papua agar mindset berpikir mereka ini berubah," ujarnya.
Menurutnya, orang di Papua itu simpel saja, walaupun mereka teriak-teriaknya kasar, teriaknya merdeka, tapi kalau pendekatan pembangunan itu bisa menyentuh sasaran mereka, akan menyentuh hati mereka. "Pasti mereka akan berpikir dua kali untuk bisa terlihat lagi, karena mereka merasa bahwa target kesejahteraannya sudah tercapai," terangnya.
Sedangkan jika masih terjadi pergerakan seperti ini, berarti memang ada yang belum tuntas selain itu kita juga harus menyelidiki unsur-unsur apa yang membuat pergerakan di Papua ini berjalan terus. "Selain kita memutus mata rantai aktor-aktor intelektual di balik pergerakan kelompok KKB, tapi juga kita memutus rantai pergerakan dan apa aliran dana sampai kelompok kelompok KKB untuk bisa belanja senjata dan amunisi.
Baca juga : ACFFest: Masyatakat Perlu Film untuk Edukasi Pencegahan Tindak Pidana Korupsi
Sementara ia beranggap, tolak ukur pemerintah pusat, kalau Aceh bisa berhasil diatasi, Papua juga harus bisa dan tunjukkan bahwa kita bisa berhasil di mata dunia. "Kalau itu kita tidak berhasil saya pikir itu akan menjadi bom waktu juga untuk kita," pungkas Yan Permenas. (Asp)