LampuHijau.co.id - Bahaya paham ekstremisme yang belakangan ini mulai menyasar kaula muda, patut menjadi perhatian bersama. Bahkan, pelaku aksi terorisme kali ini banyak dilakukan oleh generasi muda.
Penanaman ideologi kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila sejak dini, dinilai penting sebagai penangkalnya. Demikian yang diungkapkan Wakil Ketua MPR RI Dr. Ahmad Basarah saat menjadi pembicara dalam diskusi Empat Pilar MPR RI yang mengangkat tema "Menangkal Penyusupan Paham Ekstremisme di Kalangan Kaum Muda", di Media Center MPR/DPR/DPD RI, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Senin (26/4/2021).
"Berdasarkan kajian Laboratorium 45, yang melakukan kajian terhadap aksi terorisme di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2020, itu tercatat ada 553 serangan teror. Bahkan, kalau ditambah dengan serangan teror yang terakhir di Mabes Polri, itu menjadi 553 aksi terorisme.
Dari beberapa aksi terorisme itu memang menimbulkan gejala dan perkembangan pelaku-pelaku terorisme, yang menuju pada atau dilakukan oleh yang disebut dengan generasi muda," tuturnya.
Baca juga : Dahana Salurkan Bantuan Kebutuhan Pokok bagi Korban Banjir Pamanukan
Lebih lanjut ia menjelaskan, dari data tersebut aksi terorisme memang menyasar generasi muda. "Misalkan saja saudara Nana Ikhwan Maulana dia berusia 20 tahun adalah pelaku bom bunuh diri dalam insiden bunuh diri di hotel RitzCarlton pada tahun 2009 yang lalu, kemudian saudara Dani Dwi Permana usianya baru 18 tahun, ini pelaku bom bunuh diri di hotel JW Marriott tanggal 17 Juli 2009. Kemudian Sultan ajiansyah, 22 tahun, penyerang Pos Lalu Lintas Cikokol-Tangerang pada 20 Oktober 2016. Ada Radial Muslim Nasution usianya 24 tahun, pelaku bom bunuh diri yang menerobos masuk Mapolrestabes Medan pada tanggal 13 November 2019 yang lalu. Kemudian Tendi Sumarno baru 23 tahun, pria penusuk Bripka Prance di halaman Intel Brimob Kelapa Dua tahun 2018 yang lalu.
Kemudian Lukman berusia 26 tahun bom bunuh diri di Gereja katedral Makassar baru-baru lalu terjadi. Dan yang terakhir Zakiah Aini, pelaku teror di Mabes Polri usianya baru 26 tahun," ungkapnya.
Menurutnya, generasi muda ini masih memiliki jiwa militansi yang begitu kuat. Sehingga kalau berhasil direkrut, mereka akan menjadi kaum teroris yang sangat militan.
"Mereka menganggap negara Pancasila bertentangan dengan ajaran Islam. Zakiah Aini pelaku teror di Mabes polri beberapa waktu terakhir ini, dalam wasiatnya kepada orang tuanya juga mengatakan hal yang hampir sama. Dia mewasiatkan kepada orang tuanya bahwa demokrasi dan Pancasila itu adalah produk kafir, maka agar selamat dari perbuatan perbuatan kafir, Thogut, dan lain sebagainya, dia melawan eksistensi negara demokrasi yang berdasarkan Pancasila ini," terang politisi partai PDIP tersebut.
Oleh sebab itu, untuk dapat menangkal paham tersebut, kita harus bisa meyakinkan bahwa Pancasila itu adalah ideologi yang di dalamnya terdapat seperangkat nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
"Dan nilai-nilai kebaikan itu kita yakini dapat mengantarkan bangsa Indonesia sampai kepada tujuannya," tegasnya.
Sedangkan jika merujuk pada sejarah pembentukan Pancasila, Basarah mengatakan, ketika terjadi perubahan dari naskah piagam Jakarta, 22 Juni 1945, di mana naskah piagam Jakarta sila Ketuhanan yaitu berbunyi Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun, ketika akan disahkan oleh panitia persiapan kemerdekaan Indonesia tanggal 18 Agustus 1945, kata Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya berubah menjadi Ketuhanan yang Maha Esa.
"Maka kalau kita selidiki perubahan tujuh kata tersebut, juga persetujuan dan ijtihad para alim ulama pendiri bangsa kita. Ada alim ulama yang menjadi anggota sidang BPUPK, badan penyelidik usaha persiapan kemerdekaan ada yang menjadi anggota panitia tim perumus, panitia delapan, ada tim perumus panitia sembilan dan anggota PPKI.
Baca juga : Polres Banjar Evakuasi Warga Koban Banjir di Kecamatan Pengaron
Ada berbagai macam tokoh agama di sana. Di antaranya adalah tokoh-tokoh agama Islam ada Ki Bagus Hadikusumo pendiri Muhammadiyah, ada Kyai Haji Wahid Hasyim tokoh Nahdlatul Ulama, ada Haji Agus Salim, ada Pak Kasman Singodimedjo, dan lain-lain yang merupakan cendekiawan Islam. Para alim ulama yang menurut saya, pengetahuan keilmuannya tentang Islam tentu sangat dalam. Jadi, tidak mungkin para tokoh agama yang mempunyai pengetahuan keilmuan yang begitu dalam mau menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka, kalau nilai-nilai Pancasila itu bertentangan dengan ajaran Islam," jelasnya.
Sementara narasi semacam inilah yang telah hilang dan tidak diketahui oleh saudara-saudara kita. "Karena saya kira generasi yang saya sebutkan tadi itu termasuk generasi yang loosing terhadap materi tentang Pancasila, karena dihapuskannya P4 dan dihapuskannya mata pelajaran Pancasila," pungkasnya. (Asp)