LampuHijau.co.id - Aksi teror yang belum lama terjadi telah melibatkan generasi milenial. Di mana pelaku yang menyerang Mabes Polri adalah seorang wanita yang masih berusia 25 tahun. Radikalisme pun menjadi latar belakang dari terjadinya hal tersebut.
Di era yang serba digital saat ini, Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR RI Agun Gunandjar Sudarsa memandang ada sisi positif dan negatifnya. Dikatakannya, anak muda harus paham terhadap jati diri bangsanya untuk bisa menangkal paham radikalisme tersebut.
Baca juga : Demi Kenyamanan Penumpang, KAI Tingkatkan Fasilitas Stasiun Jatibarang
"Kaum muda ini harus paham jati diri bangsanya. Jadi, harus ada rasa memiliki dan rasa tanggung jawab bahwa kita sebuah bangsa yang menempatkan prinsip kebangsaan kita. Seperti keragaman itu adalah sebuah keniscayaan, dan justru keberagaman itulah yang menjadi modal dasar kita untuk menjadi kuat yang disebut dengan Bhineka Tunggal Ika," tuturnya pada diskusi Empat Pilar MPR RI dengan tema 'Penanaman Nilai-Nilai Kebangsaan untuk Menangkal Radikalisme bagi Generasi Muda' di Media Center, Senayan, Jakarta, Senin (5/4/2021)
Menurutnya, paham-paham digitalisasi ini memaksa orang untuk menjadi sangat individualistik, menjadikan orang angkuh, sombong dan belagu. Ini sisi negatifnya, padahal bangsa kita tidak seperti itu," terangnya.
Baca juga : Partai Demokrat Fokus Membina Kader dan Pengurus yang Setia kepada AHY
Lebih lanjut, Politisi Partai Golkar ini mengatakan, Indonesia merdeka karena adanya toleransi di antara segenap para pemimpin bangsa, dari paham-paham dasar pemikiran yang berbeda. "Ada orang NU, ada orang Muhammadiyah, ada orang Nasionalis, mereka saling menghargai. Polarisasi ideologi itu yang saya maksud hari ini itu nggak ada lagi itu. Pengakuan, penghargaan bahwa itu adalah sebuah keniscayaan, hormati dan toleransi itu nggak ada," jelasnya.
"Kita merdeka karena apa? Karena kolaborasi, bersama, bersatu, tidak lagi mengenal perbedaan itu. Jadi, harus toleran menghargai satu sama yang lain, tidak ada yang merasa paling angkuh. Karena kesempurnaan itu di mata Tuhan, bagaimana amal ibadahnya, bukan karena kedudukan dan jabatannya, sama aja, toleran," tambahnya.
Sementara dalam mencapai tujuan, kita tidak bisa sendirian, harus bersama, makanya mengepal, namanya kolaborasi. Dan kesemuanya itu diperlukan yang namanya konsitensi. "Jadi, poinnya tidak sombong, toleransi, kolaborasi, dan konsistensi," pungkasnya. (Asp)