Anggota DPR RI Katakan Abu Janda Banyak Aksi Tapi Kurang Isi

Minggu, 31 Januari 2021, 11:36 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Fenomena Abu Janda dikatakan menjadi salah satu masalah intelektualitas influencer. Inilah yang diungkapkan oleh Aggota DPR RI, Dedi Mulyadi yang juga pegiat sosial. Menurutnya, Abu Janda termasuk pesohor yang banyak aksi namun minim referensi.

"Abu Janda adalah problem minimnya gagasan kaum influencer. Banyak aksi kurang isi. Banyak aksi kurang referensi," ujar Dedi dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/1/2020) lalu.

Lebih jauh Dedi menjelaskan, Abu Janda selalu muncul dengan pakaian tradisional Jawa. Namun cara bicara dan tindak tanduknya tidak mewakili budaya Jawa.

Baca juga : Wakil Ketua DPR RI Dukung Langkah Pemerintah Terbitkan SE Larangan Bagi ASN Terlibat Organisasi Terlarang

"Saya malah bertanya, sebenarnya dia ini mewakili siapa. Kalau mewakili kaum tradisi, tradisi mana yang dia kembangkan. Kalau mewakili kaum Nahdiyin dia nyantri di mana dan kitab apa yang dia sukai. Balau bicara tentang plruaslisme, nasionalisme, maka dilarang untuk bersikap rasialisme," tutur Dedi.

Lebih lanjut Dedi mengatakan, negeri ini membutuhkan orang-orang yang memiliki karya nyata dan sikap keteladanan yang memadai. Hanya dengan kedua sifat itulah, kata Dedi, masyarakat bisa membangun Indonesia yang majemuk ini secara baik.

Menurutnya, berbagai tindakan yang membuka ruang perdebatan tanpa dasar hanya akan melahirkan konflik yang tak berkesudahan. "Saatnya menata negeri ini dengan baik. Demokrasi harus diisi oleh orang-orang cerdas," tambahnya.

Baca juga : Ketua DPD RI Ingatkan Pemda Beri Sanksi Tegas bagi Pelanggar Prokes

Selain itu, demokrasi diharapkannya hanya akan diisi oleh orang-orang cerdas dan objektf, tanpa membabi-buta berbicara kepada sebuah kelompok pemikiran yang berbeda. "Kalau kaum pluralis membabi buta pada kelompok yang dianggap berbeda, apa bedanya dengan kaum fundamentalis?" Jelas Dedi.

Dikatakannya, kerangka berpikir tentang kebangsaan hanya akan diisi jiwa kebangsaan. Sebaliknya, ketika berbicara tentang kebangsaan atau nasionalisme, kalau jiwanya hanya diisi jiwa kelompok atau isme, Dedi menilai itu tidak ada artinya.

"Artinya bahwa kebangsaan atau nasionalisme hanya menjadi paham berdasrkan isme yang kita yakini. Maka dalam perjalanannya hanya saling mengalahkan. sehingga isme-isme itu hanya isu atau kemasan. Nasionalisme itu isi dari sistem kebangsaan kita, bukan hanya kemasan," terang Dedi.

Baca juga : Antisipasi PHK Pekerja, Industri Baja Nasional Tetap Bikin Inovasi

Sementara itu, Dedi menilai, hari ini isme-isme itu berubah menjadi kemasan politik, karena kemasan politik, seringkali perilaku mereka yang merasa nasionalis tapi tidak mencerminkan nasionalisme.

"Ternyata tidak bisa objektif, tetap berpihak. Di luar golongan kita, kita anggap salah. Fenomena Abu Janda itu salah satunya. Dia juga termasuk problem influencer yang minim gagasan tapi banyak aksi," pungkas politisi Partai Golkar tersebut. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal