LampuHijau.co.id - Muncul pertanyaan besar ketika Capres 02 Prabowo Subianto menyatakan deklarasi kemenangannya di Pilpres 2019, tak terlihat sosok Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan untuk mendampinginya. Apakah PAN akan merapat ke kubu Jokowi?
PAN merupakan bagian dari koalisi Adil dan Makmur, yang mengusung capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk maju menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia masa jabatan 2019-2024.
Menurut Peneliti LIPI, Wasisto Raharjo Jati, Ketum PAN sudah mengetahui sejak awal bahwa paslon 02 akan mengalami kekalahan dalam proses hitung cepat atau quick count. Dalam konteks ini, ada indikasi lain jika kader PAN justru berpikir untuk melakukan manuver politik pada detik-detik akhir Pemilu 2019.
Baca juga : Dituding Server Disetting Menangkan Jokowi 57 Persen, KPU Bakal Lapor ke Mabes Polri
“Pasca Pemilu 2019 ini, semua parpol tak terkecuali PAN berpikir realistis untuk kans politik yang lebih tinggi. Para elit politik PAN sebenarnya sudah paham kalau Prabowo-Sandi kalah versi quick count, sehingga mereka berupaya menarik diri pelan-pelan untuk mencari peluang baru," jelas Wasisto dalam pesan singkatnya kepada wartawan, kemarin.
Sebenarnya, kata Wasisto, jejak politik partai yang didirikan oleh Amien Rais itu, ia mensinyalir sejak awal memang tidak terlalu tegas niat berada dalam kubu oposisi.
Seperti diketahui, pada Pilpres 2014, PAN awalnya tidak berada di koalisi Jokowi. Namun kemudian, PAN justru mendukung Jokowi-Jusuf Kalla dan bergabung dalam Kabinet Kerja.
Baca juga : KPU: Stop Saling Klaim Kemenangan! Tunggu Penghitungan Resmi
“PAN pernah memiliki kader yang menjabat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB). Karena koalisi politik parpol kita bukan kartel yang anggotanya mapan. Jadi, koalisi kita berbasis kepentingan, kalau kalah ya cari peluang lain,” ujar Wasisto.
Menurut dia, apabila Prabowo kembali kalah dalam Pilpres ini, maka nantinya ada dua pilihan bagi partai koalisi Adil Makmur. Pertama, koalisi partai itu jadi kubu oposisi di DPR. Kedua, beberapa partai, semisal Partai Demokrat dan PAN akan merapat ke pemenang Pilpres 2019.
“Koalisi partai itu jadi kubu oposisi di DPR, dan beberapa partai, misal Demokrat dan PAN mungkin coba untuk merapat ke Jokowi," ucap Wasisto.
Baca juga : 9 TPS di Kota Bekasi Terancam Pemungutan Suara Susulan
Sebelumnya, mengenai ketidakhadiran Ketum PAN dan Presiden PKS dalam konferensi pers klaim kemenangan Prabowo pada Rabu (17/4), telah dijelaskan oleh Koordinator Jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak. Dikatakan Dahnil, Zulkifli Hasan dan Sohibul Iman harus meninggalkan kediaman Prabowo, lantaran harus memantau real count di parpol masing-masing.
Dalam konpers itu Prabowo mengklaim unggul dengan perolehan suara mutlak, yakni 62 persen. Untuk kedua kalinya, mantan suami Titiek Soeharto melakukan sujud syukur setelah mengklaim kemenangan.
“Bang Zul cek real count PAN, Pak Sohibul juga cek real count PKS. Kan di sini ada Pak Salim, PAN ada Pak Amien Rais, Berkarya ada Pak Priyo dan Mbak Titiek," kata Dahnil di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (DED)