LampuHijau.co.id - Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 bakal disuguhi perang dingin antara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Vs Partai Gelora (Gelombang Rakyat). Seperti pertandingan sepak bola antara Real Madrid Vs Barcelona, Partai Gelora yang rata-rata diisi penggawa eks-PKS ini, sesumbar mendapatkan 10 juta pemilih hingga 2023. PKS nampaknya tidak tinggal diam, partai dakwah itu mengaku santai ketika mengetahui target suara Partai Gelora.
Sekjen DPP Partai Gelora Mahfuz Sidik menyakini, partai barunya itu mampu merekrut 10 juta pemilih. "Kita akan melakukan rekrutmen anggota secara masif dan terbuka hingga April 2023 dan mencatatkan 10 juta anggota di tingkat provinsi, kabupaten/kota," kata Mahfuz saat membuka Rakornas Kehumasan Nasional Partai Gelora secara digital, kemarin. Setelah mendapatkan pengesahan pada tanggal 2 Mei 2020 lalu, Mahfuz mengaku partainya kini fokus melakukan pengembangan struktur organisasi Partai Gelora. "Sekarang kita memiliki 30 pengurus DPD (dewan pengurus daerah), 2836 tingkat DPC (dewan pengurus cabang) dan 130 kantor perwakilan luar negeri. Tersisa sekitar 40 persen, 60 persennya sudah selesai. Kita tuntaskan hingga Desember 2020," ujar Mahfuz.
Mahfuz lantas meminta seluruh DPW (dewan perwakilan wilayah) Partai Gelora, untuk bekerja keras selama tiga tahun kedepan. "Target ini tidak sederhana dan berat, tetapi banyak hal berat sudah kita lalui. Dan dengan kesungguhan, doa dan kerjasama tentu target ini bisa tercapai," umbar Mahfuz. Bahkan Mahfuz mengklaim, jika partainya banyak diminati politisi ulung yang ingin bergabung. "Partai Gelora menerima banyak politisi yang berdatangan dalam dua bulan terakhir . Mereka punya ‘rumah’ ( partai ) yang dijalani, terikat dengan partai tersebut dan bukanlah partai ecek-ecek. Tapi karena merasa ada preference, merasa cocok mereka pun bergabung," ungkap Mahfuz.
Baca juga : Usut Djoko Tjandra Jokowi Didesak Bentuk Tim Khusus
Lebih lanjut kata Mahfuz, pada bulan November 2020 mendatang, Partai Gelora akan membuat kegiatan bertema Digital Kolaborasi yang akan memperkenalkan kepengurusan dari tingkat DPN, DPW, DPD hingga DPC. "Saat ini jumlah penduduk Indonesia mencapai 272 jiwa dan memiliki 175 juta pemilih. Dimana sekitar 160 juta merupakan pemilih yang aktif di sosial media (sosmed). Kalau kita proyeksikan 2024, jumlah penduduk 285 juta jiwa dan pemilihnya 196 juta, maka pengguna sosmed akan bertambah banyak. Disinilah pentingnya kita beradaptasi dengan budaya baru," tandas Mahfuz.
Dihubungi terpisah, anggota DPR RI Fraksi PKS Mardani Ali Sera tak gentar dengan proyeksi Partai Gelora. Dengan adanya partai yang dinaungi bekas kader PKS, anggota Komisi II DPR ini mengatakan, partai pimpinan Sohibul Iman itu akan lebih semangat lagi. "Pertama karena (mereka) sudah keluar, yang jelas mereka tidak (bukan bagian) PKS lagi. Kedua mau target berapapun monggo saja, karena tiap partai pasti punya target. Jadi, monggo saja," ucap Mardani saat dihubungi wartawan, kemarin.
Ketika disindir pertanyaan, apakah PKS akan merasa tersaingi dengan kehadiran Partai Gelora?. Mardani menjawabnya dengan santai. "Enggak ada (tidak takut tersaingi). Kalau buat kita malah bagus (hadirnya Partai Gelora) untuk meningkatkan kinerja. Dan sudah terbukti di 2019 dengan segala kondisinya PKS naik (suara dan jumlah kursi di DPR RI)," ungkap Mardani. Lebih lanjut, Mardani juga memaparkan strategi partainya agar suaranya tak berkurang dan tak direbut oleh mantan kader partainya. "Partai lain juga bersaing dengan PKS. Tapi, kalau kita (PKS) itu jika fokus sebagai partai dakwah, partai khikmat dan menjadi oposisi, kita yakin kepercayaan publik akan meningkat," tandas Mardani.
Baca juga : Jaring Anggota, Partai Gelora Luncurkan Aplikasi Mobile
Sementara itu, peneliti Insititut Riset Indonesia (Insis) Dian Permata meyakini strategi politik di Pemilu 2024 antara PKS dan Partai Gelora akan sama. "Karena Gelora identik dengan PKS. Ini lantaran elit Gelora bekas punggawa PKS. Begitu juga dengan barisan muda gelora. Diwarnai jebolan organisasi Kammi (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)," kata Dian saat dihubungi wartawan, kemarin.
Jika sampai DPR meloloskan syarat Parlementary Thereshold (PT) menjadi 7% dari suara nasional, Dian merasa ragu kedua partai tersebut lolos ke Senayan. "Saat ini sendiri ada wacana menaikan PT dari 4% suara menuju 7% suara. Maka setidaknya, suara Gelora-PKS harus ada di kisaran 10 juta atau menyamai hasil perolehan demokrat pada pemulilu 2019. Hanya saja, mengaca pada hasil Pemilu 2019, untuk mencapai 4 persen saja, PPP mencapai angka itu perlu keringat dan darah," tandas Dian.
Sedangkan, Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengaku kedua partai tersebut adalah partai berpengalaman dalam mencari suara. Meski, Partai Gelora adalah partai baru dan akan ikut bertanding di Pemilu 2024 mendatang. Akan tetapi, Pangi tak merasa yakin jika kedua partai itu akan lolos ke DPR. Kalau syarat Parlementary Thereshold (PT) disetujui DPR naik 7% suara dari 4%. "Sekarang saja partai besar ngejer (target PT) 7% suara untuk bisa duduk di DPR. Ini jelas sebuah tantangannya agak berat," ucap Pangi saat dihubungi wartawan, kemarin.
Baca juga : Putusan Vonis Penyiram Novel Buktikan Polri Tak Main Mata
Jika ingin lolos, Pangi berharap PKS maupun Partai Gelora harus meracik strategi canggih. "Strateginya harus macem-macem. Karena ini pastinya memutar balik semua," tandas Pangi. (DED)