LampuHijau.co.id - Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) memecat para kader yang menamakan diri Presidium Penyelamat Partai Berkarya dari keanggotaan partai usai berencana menggelar musyawarah luar biasa (Munaslub). Keputusan itu merupakan salah satu hasil rapat pleno DPP Partai Berkarya yang digelar di Gedung Granadi, Jakarta, Rabu (8/7). "Memutuskan bulat melakukan pemberhentian sebagai pengurus DPP Partai Berkarya serta pemberhentian tetap terhadap nama-nama yang melakukan apa yang melakukan namanya Presidium Penyelamat Partai Berkarya," kata Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso.
Priyo menyatakan pemecatan itu telah disepakati 30 pimpinan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Berkarya yang hadir dalam acara tersebut. Priyo sendiri saat dikonfirmasi, enggan untuk menyebutkan nama-nama dan jumlah kader Partai Berkarya yang dipecat tersebut. Ia hanya menegaskan orang-orang tersebut sudah tak memiliki hak lagi untuk mengatasnamakan partai dan menggunakan simbol-simbol Partai Berkarya dalam aktivitasnya. "Melarang nama dimaksud menggunakan simbol-simbol Partai Berkarya dengan alasan apapun untuk menghindari tuntutan hukum," kata Priyo.
Baca juga : Dua Tahun Berjuang Melawan Kanker Pankreas, Vialli Akhirnya Dinyatakan Sembuh
Di tempat yang sama, Tommy Soeharto dalam pidatonya turut mengancam kader-kader Partai Berkarya yang tergabung dalam Presidium Penyelamat Partai Berkarya untuk dicopot. Tommy menegaskan tak seharusnya kader-kader Berkarya membentuk Presidium Penyelamat Partai Berkarya untuk menggelar Munaslub. Ia menyatakan seharusnya bisa dibicarakan baik-baik bila ada persoalan dalam internal organisasi. "Yang ironinya ingin menggelar Munaslub. Padahal Berkarya belum mengadakan munas sebelumnya," kata putra dari mendiang Presiden kedua RI Soeharto tersebut.
Untuk diketahui, sebelumnya, sejumlah kader Partai Berkarya yang mengatasnamakan Presidium Penyelamat Partai Berkarya meminta Munaslub segera digelar menyusul nasib parpol yang dinilai tidak jelas usai gagal menembus parlemen dalam Pemilu 2019. Salah satu kader yang tergabung dalam kelompok itu, Ketua DPP Partai Berkarya, Badarudin Andi Picunang mengatakan kegagalan di 2019 merupakan hasil dari ketidakberesan manajemen internal partai. Oleh karena itu, Badar menyerukan evaluasi dan pergantian pimpinan dalam Partai Berkarya. Badar juga menyatakan pihaknya akan menggelar Munaslub pada 11 Juli 2020. Bahkan, ia menyebut sosok Muchdi PR dan Tommy akan bersaing memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Berkarya untuk periode mendatang.
Baca juga : Marco Sportiello Jadi Pemain Serie A ke-15 yang Positif Virus Corona
Lebih lanjut, Tommy Soeharto menuding penyelenggaraan Pemilu 2019 lalu tak berlangsung secara demokratis. Hal itu ia sampaikan saat membuka rapat pleno DPP Partai Berkarya di Gedung Granadi, Jakarta, Rabu (8/7). "Pemilu 2019 sangat tak demokratis," kata Tommy.Putra penguasa Orde Baru Soeharto itu menuding penyelenggaraan Pemilu 2019 tak berjalan demokratis salah satunya karena banyak penyelenggara pemilu tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Misalnya, ia mencurigai banyak penyelenggara yang tak netral dan justru mengatur perolehan suara untuk pihak tertentu. "PPK, nyatanya nggak menghitung suara tapi malah mengatur suara," kata Tommy.(DED)