LampuHijau.co.id - Masyarakat dari berbagai elemen terus berunjuk rasa menuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersikap netral di Pemilu 2019. Permintaan ini merupakan buntut pernyataan sejumlah elite politik, yang menyebut penyidik senior KPK Novel Baswedan sebagai 'orang Gerindra'.
"Saat ini sudah terindikasi ketidaknetralan di dalam internal KPK. KPK tidak boleh terlibat politik praktis. Tapi nyatanya, malah bermanuver, ini bahaya. Gawat potensi KPK tidak netral," ujar Koordinator Korps Santri Peduli Indonesia (KSPI), Said Husein di kantor KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019).
Baca juga : Disebut Orang Gerindra, KPK Diminta Periksa Novel Baswedan
Menurut Husein, kabar Novel merupakan kepanjangan tangan partai politik tertentu perlu disikapi secara serius. Apalagi, Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Puyono sempat memperkuat tudingan ini dengan menyebut Novel sebagai 'orang kita'. "Kemudian Jubir Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Andre Rosiade juga menekankan, bila Prabowo menang di Pilpres 2019, maka Novel bakal dijadikan jaksa agung," kata dia.
KSPI meminta pimpinan KPK tak tinggal diam menyikapi informasi tersebut. Penyelidikan secara mendalam perlu dilakukan, agar isu tak bergulir liar. Jika tidak ada tindakan yang diambil, KSPI khawatir masyarakat tak lagi percaya dengan kredibilitas lembaga antirasuah. Adapun sebagai wujud protes, massa sempat melakukan aksi cap jempol darah.
Baca juga : Dilarang Merokok Sambil Berkendara, Pilih Denda 750 Ribu Atau Penjara 3 Bulan
"Ini adalah strategi untuk memecahkan masyarakat dengan negara. Ini sangat bahaya. Agus Raharjo harusnya bertindak mengambil kebijakan. Novel jangan bawa KPK ke arah politik. Kalau petinggi KPK diam saja dan tidak bertindak maka kemungkinan petingi-petinggi KPK jadi orang Gerindra. Ketika sudah diisi binaan politik, lebih baik bubarkan KPK," tandasnya. (RIZ)