LampuHijau.co.id - Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung menilai pemanfaatan teknologi dalam Pemilu Anggota Duma Negara Federasi Rusia 2026 memberikan sejumlah pelajaran penting bagi Indonesia, terutama dalam memperkuat transparansi, dokumentasi, dan pembuktian proses pemilu.
Hal itu disampaikan Tamsil setelah memimpin delegasi DPD RI memantau langsung pelaksanaan pemilu di sejumlah wilayah Rusia, termasuk Moskow. Delegasi Indonesia mengamati sejumlah tahapan, mulai dari pembukaan tempat pemungutan suara (TPS), pemungutan dan penghitungan suara hingga penyusunan protokol hasil akhir.
“Ini sesuatu yang baru bagi kita di Indonesia. Kita melihat satu perkembangan penting, di mana teknologi telah mengubah cara demokrasi bekerja,” ujar Tamsil dalam keterangannya, Jumat (25/9).
Menurut Tamsil, teknologi dalam pemilu Rusia tidak sekadar digunakan untuk kebutuhan administratif. Teknologi telah masuk ke berbagai tahapan, mulai dari pengelolaan informasi, perluasan akses pemilih, pemungutan suara, penghitungan, dokumentasi hingga pengawasan.
Rusia juga menyediakan Remote Electronic Voting (REV) atau pemungutan suara elektronik jarak jauh. Selain itu, terdapat sejumlah mekanisme alternatif bagi pemilih yang tidak dapat hadir di TPS, termasuk pemungutan suara di luar TPS, di tempat tinggal, serta mekanisme Pemilih Mobile.
Baca juga : Kapolsek Sagalaherang Sosialisasi Bahaya Bullying kepada Pelajar SDN Sangkuriang
Bagi Tamsil, digitalisasi tersebut relevan untuk dipelajari Indonesia, terutama karena proses pemilu di Tanah Air kerap berujung pada sengketa dan gugatan.
Ia menilai teknologi dapat menciptakan jejak digital yang lebih jelas sehingga setiap tahapan pemilu dapat dicatat, didokumentasikan, diverifikasi, dan diaudit.
“Kalau prosesnya tercatat, terdokumentasi, datanya terverifikasi, dan setiap tahapan memiliki jejak yang dapat diaudit, maka ketika muncul persoalan, kita punya basis pembuktian yang lebih kuat,” katanya.
Tamsil menegaskan teknologi memang tidak otomatis menghapus sengketa pemilu. Namun, digitalisasi dapat membantu mengurangi kesalahan prosedural, memperjelas proses, sekaligus menyediakan data ketika terjadi perselisihan.
“Demokrasi membutuhkan suara yang sah, tetapi juga membutuhkan proses yang dapat dibuktikan. Semakin kuat bukti digitalnya, semakin kuat pula kepercayaan terhadap hasil pemilu,” ujarnya.
Baca juga : MPR RI Dorong Aktualisasi Empat Pilar untuk Perkuat Jati Diri Bangsa di Dunia
Karena itu, Tamsil memandang teknologi pemilu bukan semata-mata alat untuk mengejar efisiensi, melainkan bagian dari infrastruktur kepercayaan demokrasi.
“Teknologi itu masuk ke seluruh proses. Ada pemungutan, pencatatan, penghitungan dan pengawasan. Jadi teknologi menghasilkan sesuatu yang konkret dalam memperkuat legitimasi pesta demokrasi,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa digitalisasi pemilu harus dibarengi dengan perhatian serius terhadap keamanan sistem, validitas data, perlindungan data pribadi, serta kemampuan lembaga pengawas dalam melakukan verifikasi terhadap proses elektronik.
Menurut Tamsil, transparansi menjadi kunci. Sistem pemilu digital tidak cukup hanya cepat dan efisien, tetapi juga harus dapat dilihat, diawasi, serta diverifikasi oleh pihak yang berwenang.
Pengalaman Rusia, lanjutnya, dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia dalam mengembangkan demokrasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan karakter nasional.
Baca juga : Endang S Tohari Dorong Mahasiswa Perkuat Ekosistem Pertanian
“Kita punya nilai sendiri. Ada musyawarah, ada gotong royong, ada semangat keterwakilan. Itu yang harus tetap menjadi ruhnya. Teknologi kita gunakan untuk memperkuatnya,” tegas Tamsil.
Ia juga berharap pemantauan Pemilu Duma Rusia tidak berhenti sebagai observasi, tetapi berkembang menjadi kerja sama konkret dalam kerangka diplomasi parlemen Indonesia-Rusia. Kerja sama tersebut dapat diperluas ke bidang demokrasi dan kepemiluan, antardaerah, investasi hingga alih teknologi.
Bagi Tamsil, perkembangan teknologi harus diarahkan untuk memperkuat kualitas demokrasi sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Teknologi jangan hanya membuat sistem menjadi canggih. Demokrasi juga harus membuat kehidupan rakyat lebih baik. Itu yang harus kita kejar,” pungkasnya. (Asp)