LampuHijau.co.id - Memperingati Hari Buruh sekaligus Hari Pendidikan Nasional, puluhan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Tangerang menggelar aksi mimbar bebas di Tugu Adipura, Kamis (7/5/2026).
Dalam aksinya, mereka melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan pemerintah, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga sistem kerja outsourcing.
Ketua DPC GMNI Kota Tangerang, Elwin Mendrofa mimbar bebas ini digelar sebagai upaya menyuarakan berbagai persoalan sosial yang dinilai semakin membebani masyarakat.
“Ini sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan di ranah buruh maupun di dunia pendidikan,” ujar Elwin kepada wartawan di lokasi.
Baca juga : Wali Kota Tangerang Siap Jalankan Rekomendasi LKPJ dari DPRD
Salah satu yang disoroti Elwin adalah alokasi anggaran pendidikan 20% dalam APBN yang kini mencakup program MBG. Menurutnya, langkah ini tidak tepat sasaran karena tidak menyentuh akar masalah pendidikan.
“Jadi Kami memohon kepada pemerintah pusat agar anggaran MBG ini sebaiknya disubsidi ke BBM dan gaji guru honorer di setiap sekolah di berbagai wilayah,” katanya.
Di samping itu, GMNI juga menilai pelaksanaan program MBG dalam skala nasional belum tepat untuk diterapkan di wilayah perkotaan.
“Lebih baik MBG difokuskan kepada daerah-daerah tertinggal, jangan dalam skala nasional. Karena melihat anggaran yang sangat besar dan melihat juga kondisi dinamika perputaran ekonomi di Indonesia saat ini,” ujar Elwin.
Baca juga : Sachrudin Bangga, Kontribusi UTD PMI Kota Tangerang Tembus Dunia
Wacana Badan Gizi Nasional yang akan melebarkan program MBG hingga ke universitas, Elwin secara tegas menolak karena itu sebagai bentuk penghinaan bagi kaum intelektual.
Ia menilai mahasiswa lebih butuh dukungan dana riset dan penelitian ketimbang makan gratis.
"Harusnya anggaran diperbesar untuk penelitian dan riset, bukan MBG. Kami akan melakukan konsolidasi besar-besaran untuk menyampaikan hal ini ke pusat," tegas Elwin.
Mereka menilai kebutuhan utama kampus saat ini bukan program makan gratis, melainkan peningkatan kualitas riset dan penelitian akademik.
Baca juga : Kapolres Berbagi dengan Ojol di Kota Tangerang: Mitra Penting Menjaga Situasi Kamtibmas
Elwin mengatakan minimnya dukungan anggaran penelitian membuat kualitas riset perguruan tinggi di Indonesia sulit berkembang.
“Harusnya yang masuk di dalam ranah kampus itu bukan MBG, tapi bagaimana anggaran dibesarkan kepada pihak perguruan tinggi untuk khusus penelitian dan riset,” katanya.
Di sisi lain, GMNI juga menyoroti sistem outsourcing yang dinilai merugikan pekerja serta besarnya potongan aplikator terhadap pengemudi ojek online yang berdampak pada pendapatan yang semakin kecil di tengah meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat perkotaan. (WAH)