LampuHijau.co.id - Komisi V DPR RI menyampaikan duka mendalam sekaligus melontarkan kritik keras atas kecelakaan beruntun kereta api yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam.
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menegaskan bahwa insiden yang menewaskan tujuh orang dan melukai puluhan lainnya tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa. Ia meminta penanganan korban menjadi prioritas utama, sekaligus mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
“Ini tragedi serius. Penanganan korban harus maksimal, tapi yang lebih penting adalah memastikan kejadian serupa tidak terulang,” kata Lasarus, Selasa (28/4).
Baca juga : Tabrakan Kereta Bekasi, DPR Desak Investigasi Total dan Transparan
Lasarus menyoroti persoalan klasik yang hingga kini belum tuntas: darurat perlintasan sebidang. Ia menilai lambannya penanganan ribuan titik perlintasan sebidang menjadi bom waktu yang terus mengancam keselamatan publik.
“Komisi V sudah bertahun-tahun mengingatkan. Tapi faktanya, ribuan perlintasan sebidang masih belum tertangani. Ini bukan lagi sekadar kelalaian, tapi kegagalan sistemik,” tegasnya.
Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (Persero), hingga 2024 terdapat 3.896 perlintasan sebidang, dengan lebih dari 1.000 di antaranya tidak terdaftar. Meski pada 2025 jumlahnya menurun menjadi 3.703 titik, ratusan perlintasan masih belum dijaga, membuka celah besar terjadinya kecelakaan.
Baca juga : Sengketa Tanah Benhil Memanas, DPR Sentil Keras Pemprov DKI Soal Aset
Lasarus menekankan bahwa di banyak negara, jalur kereta api dirancang steril tanpa perlintasan sebidang. Sementara di Indonesia, kondisi sebaliknya justru masih menjadi praktik umum.
“Di negara lain, jalur kereta itu steril. Di sini justru penuh persinggungan dengan jalan umum. Selama ini dibiarkan, maka risiko kecelakaan akan terus berulang,” ujarnya.
Kecelakaan di Bekasi Timur sendiri diduga dipicu rangkaian insiden. Peristiwa awal terjadi saat sebuah taksi tertabrak KRL di perlintasan. Setelah proses evakuasi, insiden lanjutan terjadi ketika KRL tujuan Jakarta–Cikarang yang tengah berhenti di stasiun ditabrak KA Argo Bromo Anggrek jurusan Surabaya.
Baca juga : Mudik 2026 Lebih Terkendali, DPR Soroti PR Rest Area dan Penyeberangan
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyebutkan total korban meninggal dunia mencapai tujuh orang, sementara 81 lainnya mengalami luka dan masih menjalani perawatan intensif.
Tragedi ini kembali menegaskan urgensi pembenahan sistem keselamatan transportasi rel di Indonesia, yang selama ini dinilai masih jauh dari standar ideal. (Asp)