Mudik 2026 Lebih Terkendali, DPR Soroti PR Rest Area dan Penyeberangan

Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya (Atas), dan Peneliti Institute Studi Transportasi, Darmaningtyas (Bawah kanan), dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema Catatan Evaluasi Arus Mudik 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Kamis, 9 April 2026, 18:12 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Lonjakan mobilitas hingga 147 juta orang pada arus mudik dan balik Lebaran 2026 tidak berujung pada lonjakan korban jiwa. DPR menilai, tren penurunan fatalitas kecelakaan menjadi sinyal positif keberhasilan pengelolaan mudik nasional, meski persoalan klasik kepadatan di sejumlah titik masih menjadi pekerjaan rumah.

Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya, mengungkapkan data sementara Kementerian Perhubungan menunjukkan pergerakan masyarakat meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Namun di saat bersamaan, angka fatalitas kecelakaan justru menurun.

“Pergerakan mencapai sekitar 147 juta orang, dan alhamdulillah tingkat fatalitas menurun,” ujarnya dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema Catatan Evaluasi Arus Mudik 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Meski demikian, DPR belum puas. Danang menegaskan target zero accident tetap menjadi standar yang harus dikejar dalam setiap penyelenggaraan mudik nasional.

Baca juga : KUHP Baru 2026: DPR Soroti Pentingnya Sosialisasi dan Penegakan Hukum di Kepri

Menurutnya, capaian tahun ini tidak lepas dari sinergi lintas lembaga. Mulai dari Kementerian Perhubungan sebagai koordinator, Kementerian PUPR dalam penyediaan infrastruktur, BMKG melalui informasi cuaca, hingga rekayasa lalu lintas oleh Korlantas Polri.

Namun di balik capaian itu, Danang menyoroti titik rawan kepadatan, terutama di ruas Tol Trans Jawa wilayah Cirebon. Keterbatasan kapasitas rest area memicu antrean kendaraan hingga meluber ke badan jalan.

“Rest area di Cirebon perlu ditingkatkan karena menjadi titik tengah krusial bagi pemudik,” tegasnya.

Selain jalur darat, kepadatan juga terjadi di lintasan penyeberangan, khususnya rute Gilimanuk–Ketapang yang tahun ini beririsan dengan momentum Hari Raya Nyepi.

Baca juga : Kombes Zain Dwi Nugroho Tinjau Rest Area KM 13,5 dan KM 14, Eks Kanit Resmob Mendampingi

Meski sempat terjadi antrean panjang, ia mengapresiasi respons cepat petugas dalam mengurai kemacetan. Danang juga menilai kebijakan work from anywhere (WFA) terbukti efektif memecah puncak arus perjalanan. Ia menyebut skema ini berpotensi menjadi solusi jangka panjang dalam manajemen mudik nasional.

Sementara itu, Peneliti Institute Studi Transportasi, Darmaningtyas, melihat kelancaran mudik tahun ini tak lepas dari penurunan jumlah pemudik dibanding dua tahun sebelumnya.

Ia mencatat pergeseran pola pergerakan, di mana puncak arus baru terjadi pada H-3, bukan lagi H-7 seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Di Yogyakarta yang biasanya macet, Lebaran kali ini justru lancar. Bahkan di kampung-kampung cenderung sepi,” ujarnya.

Baca juga : Mulai 1 Februari 2025 Perjalanan KA Alami Perubahan, Cek Jadwal Keberangkatannya

Penurunan mobilitas itu berdampak langsung pada perputaran ekonomi. Darmaningtyas mencatat, uang yang beredar saat Lebaran juga mengalami penurunan signifikan.

“Pada 2024, perputaran uang mencapai Rp193 triliun dengan 157 juta pemudik. Tahun 2025 dan 2026 turun menjadi sekitar Rp140 triliun dengan 147 juta pemudik,” jelasnya.

Ia menilai, kondisi tersebut membuat dampak ekonomi Lebaran di daerah tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya—sebuah catatan penting di tengah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis konsumsi domestik. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal