LampuHijau.co.id - Partai Amanat Nasional (PAN) di Kota Depok menghadapi tantangan serius dalam kontestasi politik lokal. Perolehan suara yang stagnan bahkan cenderung menurun dalam beberapa periode menunjukkan bahwa mesin partai belum bekerja optimal.
Kondisi ini harus dibaca sebagai alarm keras bagi seluruh kader dan simpatisan, bahwa tanpa perubahan signifikan di tingkat kepemimpinan, PAN akan sulit keluar dari zona “pelengkap penderita” dalam peta politik Kota Depok.
Kunci kebangkitan PAN terletak pada figur Ketua DPD. Ketua bukan sekadar simbol, melainkan motor penggerak yang mampu menghidupkan kembali gairah politik di akar rumput.
Dalam konteks Depok, dengan demografi pemilih muda yang sangat dominan, maka figur ketua yang tepat adalah sosok muda, komunikatif, dan terbuka terhadap semua kalangan. Hanya dengan cara itu PAN bisa kembali merebut hati publik yang haus akan perubahan gaya politik yang lebih segar dan responsif. Kelemahan PAN selama ini justru terletak pada komunikasi politik yang kaku dan kurang mampu merangkul kelompok di luar struktur internal.
Politik eksklusif tidak akan menghasilkan kemenangan di kota yang plural dan dinamis seperti Depok. Dibutuhkan figur muda yang mampu berbicara dengan bahasa generasi milenial maupun Gen Z, sekaligus menghargai loyalitas kader senior. Kemampuan menjembatani dua kutub ini akan menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk mengonsolidasikan kekuatan.
Selain itu, seorang ketua muda yang komunikatif akan lebih mudah menjalin kerja sama lintas partai, komunitas, maupun elemen masyarakat sipil. Politik hari ini tidak lagi semata soal mesin partai, melainkan soal jaringan sosial yang luas. PAN harus belajar membangun ekosistem politik kolaboratif, bukan sekadar mengandalkan isu atau figur nasional. Tanpa keterbukaan ini, PAN akan terus terjebak dalam politik sektoral yang sempit.
Baca juga : Meski Anggaran Minim, Ketua DPD RI Minta Senator Konsisten Perjuangkan Aspirasi Rakyat
Momentum Musyawarah Daerah atau pemilihan ketua DPD PAN harus dimanfaatkan sebagai pintu masuk transformasi organisasi. Jika kembali mengandalkan pola lama, PAN hanya akan menjadi penonton dalam kontestasi Pilkada maupun Pileg mendatang. Tetapi bila berani mengusung pemimpin muda yang inklusif, PAN berpeluang membalikkan keadaan, bahkan tampil sebagai kekuatan alternatif di tengah kebuntuan politik lokal.
Dengan demikian, jika PAN Kota Depok sungguh-sungguh ingin bangkit dan menang, maka pilihan rasional dan strategisnya adalah menyerahkan kepemimpinan kepada generasi muda yang komunikatif dan mampu merangkul semua pihak. Keberanian mengambil langkah ini akan menentukan apakah PAN akan tetap berjalan di tempat, atau justru melesat sebagai kekuatan baru yang diperhitungkan dalam percaturan politik Depok ke depan.
Penulis : Syahrul Amin Nasution S.Ag, MM, Kader dan Pengamat Perpolitikan Indonesia