80 Tahun Merdeka, Lalu Hadrian: Pendidikan Kunci Indonesia Emas

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema HUT RI Menjadi Momen Semangat Persatuan Membangun Indonesia Emas 2045 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (13/8/2025).
Kamis, 14 Agustus 2025, 16:48 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Memasuki usia ke-80 tahun kemerdekaan, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menegaskan bahwa masa depan Indonesia akan ditentukan oleh keberanian melakukan reformasi pendidikan. Menurutnya, negara tidak cukup hanya mencerdaskan, tetapi juga harus memerdekakan setiap anak bangsa dalam mengakses pendidikan berkualitas.

“Pendidikan hari ini adalah penentu nasib bangsa dalam menapaki abad kedua kemerdekaan menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Lalu dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema HUT RI Menjadi Momen Semangat Persatuan Membangun Indonesia Emas 2045 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (13/8/2025).

Baca juga : 80 Tahun MPR RI: Masa Lalu yang Menjaga Masa Depan

Ia mengungkapkan, meski Angka Partisipasi Sekolah (APS) di jenjang SD sudah hampir menyentuh 100 persen, kualitas dan kelanjutan pendidikan masih menghadapi jurang ketimpangan. APS mulai turun di jenjang SMP dan anjlok signifikan di SMA (70–85 persen), bahkan merosot tajam di pendidikan tinggi yang hanya 30–40 persen.

Berdasarkan data BPS 2024, rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas baru 9,22 tahun—setara tamat SMP. Di Papua Pegunungan, angka itu bahkan hanya 5,10 tahun, menandakan banyak warga belum tamat SD. Sementara Jakarta memimpin dengan harapan lama sekolah 11,49 tahun, jauh meninggalkan banyak provinsi di luar Jawa yang masih di bawah 9 tahun.

Baca juga : F-Golkar MPR RI Soroti Ketimpangan Anggaran Pendidikan, Mekeng: Mustahil Capai Indonesia Emas 2045

“Ketimpangan ini ancaman nyata bagi masa depan kita,” tegas Ketua DPW PKB NTB tersebut.

Lalu pun mendorong reformasi pendidikan yang menyentuh tiga hal: 1. Memastikan keberlanjutan pendidikan hingga SMA dan perguruan tinggi, khususnya di daerah tertinggal, lewat beasiswa, pengurangan biaya, dan peningkatan akses fisik maupun digital. 2. Memperkuat kualitas kurikulum dan guru agar selaras dengan kebutuhan abad ke-21: literasi digital, karakter, berpikir kritis, dan kolaborasi. 3. Mengurangi disparitas antarwilayah melalui alokasi anggaran yang mempertimbangkan faktor geografis serta pembangunan infrastruktur pendidikan di daerah terpencil.

Baca juga : Gus Alam di Mata Kiai Maman: Rendah Hati dan Humanis

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan komunitas lokal untuk menjaga anak-anak tetap bersekolah. “Pendidikan sejati adalah yang memerdekakan—bukan sekadar menamatkan buku teks, tapi membebaskan pikiran dari keterbatasan,” tegas Lalu.

“Jika kita gagal mengentaskan ketimpangan ini, Indonesia Emas hanya akan menjadi slogan tanpa pijakan nyata," tandasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal