LampuHijau.co.id - Anggota Komisi IX DPR RI Cellica Nurrachadiana menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menyukseskan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) demi mencetak Generasi Emas 2045.
Dalam forum Dialektika Demokrasi di Kompleks Parlemen, Kamis (7/8), politisi Demokrat itu menilai pembangunan SDM jauh lebih kompleks dibanding pembangunan fisik. “Butuh komitmen panjang dari semua elemen bangsa. Pemerintah tidak bisa jalan sendiri,” tegasnya.
Baca juga : DPR RI Bersama BGN Sosialisasi Makan Bergizi Gratis Menuju Indonesia Emas 2045
Cellica menyebut CKG telah menjangkau 16 juta warga, dan ditargetkan menyasar 53 juta peserta didik. Ia menyoroti pergeseran fungsi Puskesmas yang kini lebih kuratif akibat beban tinggi, khususnya di daerah urban. “Edukasi keluarga penting. Hipertensi misalnya, bukan cuma soal obat, tapi kepatuhan minum obat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran MBG bagi anak-anak dan kelompok rentan agar tak hanya makan kenyang, tetapi juga sehat dan bebas stunting. “Gizi seimbang sejak dini itu investasi masa depan,” tambahnya.
Baca juga : Komnas Perempuan Nilai Puan Maharani Ingin Wujudkan Generasi Emas Melalui RUU KIA
Sementara itu, Yanuar Arif Wibowo (Fraksi PKS) menekankan bahwa problem kesehatan masih kental di desa, termasuk keterbatasan air bersih. “Kontribusi air bersih terhadap stunting itu 60%. Tapi aksesnya masih timpang,” kritiknya.
Ia mendorong pemanfaatan program infrastruktur berbasis masyarakat untuk solusi berkelanjutan.
Baca juga : Konsisten Bantu Generasi Muda, Baznas-Bazis DKI Terus Lakukan Kolaborasi
Dari sisi akademisi, Ade Reza Hariyadi (UNKRIS) menilai CKG dan MBG sebagai wujud kehadiran negara dalam memenuhi hak dasar rakyat.
“Program ini bukan sekadar janji politik, tapi investasi jangka panjang bangsa,” jelasnya. Namun ia mengingatkan, program populis harus ditopang perencanaan teknokratik yang kuat. “Transformasi dari political planning ke teknokratik planning jadi tantangan utama,” pungkasnya. (Asp)