Indonesia Emas Butuh Generasi Berjiwa Kebangsaan

(KI-Ka) : Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron bersama Akademisi dan pegiat pendidikan, Adjat Wiratma dalam Dialektika Demokrasi di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (5/8/2025).
Selasa, 5 Agustus 2025, 18:00 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron, mengingatkan bahwa menyongsong Indonesia Emas 2045 bukan sekadar soal bonus demografi atau pertumbuhan ekonomi, tapi soal membangun manusia Indonesia yang berkarakter, bermoral, dan berjiwa kebangsaan.

Dalam Dialektika Demokrasi di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (5/8/2025), Herman menegaskan pentingnya penanaman nilai-nilai kebangsaan sejak usia dini sebagai fondasi menuju 100 tahun Indonesia Merdeka.

“Kita ini merdeka bukan karena diberi, tapi hasil perjuangan panjang. Dari perang-perang lokal, Sumpah Pemuda, hingga Proklamasi 17 Agustus 1945. Sejarah ini harus terus ditanamkan ke generasi muda, kalau tidak, mereka akan kehilangan jati diri,” ujar Herman.

Menurutnya, Indonesia tidak akan mampu bersaing di panggung global jika generasi mudanya tercerabut dari akar kebangsaan. “Banyak negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan tidak kaya sumber daya alam, tapi mereka unggul karena rakyatnya punya karakter dan disiplin yang kuat. Kita harus menanamkan nilai nasionalisme sejak dini agar Indonesia tidak hanya besar secara populasi, tapi juga bermartabat,” tambahnya.

Baca juga : Serangan Israel Tewaskan Direktur RS Indonesia di Gaza, Ketua DPD RI : Pelanggaran Berat Kemanusiaan!

Herman juga menyoroti pentingnya peran negara dalam mendesain kurikulum dan program yang menanamkan semangat kebangsaan, bukan hanya menjadi beban moral kelompok tertentu. Program 4 Pilar MPR RI, BPIP, hingga agenda-agenda strategis Presiden Prabowo Subianto dinilai Herman sebagai instrumen penting yang harus terus diperkuat.

“Saya yakin Presiden Prabowo akan melanjutkan warisan nilai-nilai perjuangan bangsa. Program makan bergizi gratis, sekolah rakyat, koperasi desa, itu semua wujud nyata ekonomi gotong royong. Ini harus menjadi gerakan nasional, bukan program sektoral,” tegasnya.

Herman pun menekankan peran media sebagai “corong kebangsaan” yang harus terus memproduksi narasi-narasi positif yang memperkuat identitas bangsa di tengah derasnya arus informasi global. “Media jangan terjebak hanya memberitakan sensasi. Media harus menjadi katalisator untuk memperluas kesadaran kolektif bangsa tentang siapa kita dan ke mana kita menuju,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa, tanpa kecuali, untuk terus menjaga keutuhan NKRI. “NKRI harga mati. Tidak boleh sejengkal pun lepas. Ini amanat pahlawan yang harus kita jaga,” tandasnya.

Baca juga : Wujudkan Generasi Indonesia Emas 2045, Program MBG Terus Digeber di Bandung

Krisis Identitas Generasi Z: “Mereka Lebih Kenal Marvel Daripada Ki Hajar Dewantara”

Kegelisahan serupa disampaikan oleh akademisi dan pegiat pendidikan, Adjat Wiratma. Menurutnya, Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis identitas generasi muda yang serius. “Coba tanya anak-anak sekarang, mereka lebih kenal Iron Man daripada Ki Hajar Dewantara. Ini bukan sekadar fenomena, ini alarm bahaya,” tegas Adjat.

Ia menilai lemahnya pemahaman sejarah dan nilai kebangsaan di kalangan Generasi Z bisa berdampak serius pada proses pengasuhan Generasi Beta—generasi yang akan mengisi Indonesia Emas 2045. “Kalau generasi yang akan menjadi orang tua saja tidak paham sejarah bangsanya, bagaimana mereka bisa mewariskan nilai-nilai itu ke anak-anaknya?” ujarnya tajam.

Adjat menyoroti minimnya representasi simbol-simbol kebangsaan di ruang publik anak-anak, termasuk dalam lagu dan cerita. Ia bahkan menyesalkan fenomena sekolah yang membebaskan siswa dari kewajiban upacara kemerdekaan jika 17 Agustus jatuh di hari Minggu.

Baca juga : Menyongsong Indonesia Emas 2045 Lewat Program Makan Bergizi Gratis untuk Rakyat

“Ini soal karakter bangsa, bukan soal administrasi sekolah. Upacara itu bentuk konkret penanaman rasa cinta tanah air,” tegasnya.

Ia mengapresiasi inisiatif simbolik pemerintah seperti program “Merah Putih”, namun menilai itu masih jauh dari cukup.

Menurutnya, Indonesia butuh narasi kebangsaan yang lebih kontekstual dan relevan bagi anak-anak zaman now. “Kenapa lagu kebangsaan anak-anak masih itu-itu saja? Harusnya tiap generasi punya lagu nasionalisme yang mereka rasakan sebagai miliknya. Kalau tidak, kita akan kehilangan generasi pemuda yang berakar pada bangsanya sendiri,” pungkas Adjat. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal