LampuHijau.co.id - Siapa sangka, Gedung Parlemen yang megah di kawasan Senayan bukan sekadar simbol demokrasi hari ini, tetapi merupakan monumen sejarah perlawanan terhadap penjajahan dan imperialisme global. Dibangun di masa Presiden Soekarno dengan semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA), gedung ini menyimpan kisah perjuangan Indonesia dalam menantang dominasi Barat dan memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil.
“Gedung Conefo ini adalah simbol anti penjajahan, anti penindasan, dan anti kolonialisme. Bung Karno membangunnya bukan untuk parlemen, tapi sebagai pusat kekuatan baru dunia melawan eksploitasi Barat terhadap Asia dan Afrika,” tegas anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, dalam Dialektika Demokrasi bertema “Spirit Conefo dan Relevansinya dengan Masa Kini”, Kamis (24/7/2025) di Kompleks Parlemen, Senayan.
Bonnie menegaskan, semangat pembangunan gedung ini berakar dari tekad Bung Karno yang keluar dari keanggotaan PBB pada 1965, sebagai bentuk protes terhadap ketimpangan global. Conefo (Conference of the Emerging Forces) lahir sebagai tandingan PBB, menghimpun kekuatan negara-negara dunia ketiga untuk melawan imperialisme baru.
“Bung Karno dijatuhkan karena ide besarnya ini. Amerika Serikat tidak tinggal diam melihat upaya Indonesia membangun poros kekuatan global baru,” kata Bonnie.
Gedung Conefo dibangun di atas lahan seluas 80 hektare dan dirancang oleh arsitek Soejoedi Wirjoatmodjo bersama timnya. Arsitekturnya modern dan simbolik, tanpa pilar besar. Hal ini menandakan kesetaraan, tanpa kelas, serta terbuka bagi seluruh rakyat.
“Tidak seperti gedung-gedung elitis, Gedung Parlemen ini dirancang agar siapa pun bisa masuk. Ini adalah rumah rakyat sejati,” tegas arsitek senior Budi A Sukada, yang juga menjadi narasumber diskusi bersama akademisi UGM, Wildan Sena Utama.
Baca juga : Dugaan Penyalahgunaan Tambahan Kuota Haji, Mahasiswa Demo KPK Minta Menag Diperiksa
Budi juga menyindir rancangan Ibu Kota Negara (IKN) baru yang menurutnya tidak jelas arah dan jati dirinya. “Gedung ini penuh semangat dan ideologi. IKN? Saya tidak melihat semangat yang sama,” tukasnya.
Sementara itu, Wildan menyebut bahwa kolonialisme gaya baru masih hidup hingga hari ini. “Lihat saja bagaimana Amerika Serikat membiarkan Israel menyerang Gaza, dan justru menyerang balik Iran ketika negara itu membela diri. Ini bentuk baru imperialisme yang masih berlangsung,” ujarnya.
Diskusi tersebut menjadi pengingat bahwa semangat anti-imperialisme dan solidaritas Asia-Afrika belum usang. Sebaliknya, ia semakin relevan di tengah ketimpangan global yang masih mengakar.
Baca juga : Sidang Perkara Pengurusan RW Perumahan Permata Buana, Lurah Kembangan Utara Jadi Saksi
“Spirit Conefo harus dihidupkan kembali. Kita butuh tatanan dunia baru yang lebih adil dan setara. Semua negara harus memiliki hak yang sama, tanpa dominasi satu kekuatan atas lainnya,” pungkas Bonnie.
Gedung Conefo kini memang menjadi rumah wakil rakyat. Namun, warisan sejarah dan semangatnya harus tetap hidup—bukan hanya sebagai bangunan, tapi sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan global yang masih berlangsung hingga kini. (Asp)