LampuHijau.co.id - Koordinatoriat Wartawan Parlemen bersama Biro Pemberitaan DPR RI menggelar diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Mitigasi Geopolitik Indonesia Menghadapi Dampak Perang India-Pakistan”, Jumat (16/5), di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Diskusi ini menghadirkan Anggota BKSAP DPR RI Syahrul Aidi Maazat dan Pengamat Hubungan Internasional Hikmahanto Juwana. Syahrul Aidi menilai konflik India-Pakistan mengubah peta kekuatan global. Kemenangan Pakistan, yang didukung alutsista berbasis teknologi China, menunjukkan dominasi baru.
“Indonesia harus melirik teknologi pertahanan dari China untuk memperkuat posisi tawar. Jangan hanya bergantung pada satu negara,” ujarnya. Ia menegaskan, kemandirian nasional tak hanya soal pangan, tapi juga senjata dan obat-obatan. “Kalau kita hanya konsumtif, kita akan lemah. Negara kuat adalah yang mampu memproduksi apa yang dibutuhkan dunia,” tegasnya.
Sementara itu, Hikmahanto Juwana mengingatkan bahwa dunia tidak sedang butuh perang, apalagi antara dua negara bersenjata nuklir. Ia melihat potensi Indonesia sebagai mediator global, khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.
Baca juga : Sudin Sosial Jakpus Siaga di 49 Titik Halau Pengemis Musiman Jelang Ramadan
“Pak Prabowo punya jaringan luas dan bisa memainkan peran strategis dalam meredam konflik,” ujarnya. Ia juga menyoroti dampak perang terhadap pasar global. “Stabilitas geopolitik kini sangat berpengaruh terhadap bursa saham. Pemerintah harus mendengar suara pasar sama seriusnya dengan mendengar rakyat,” jelasnya.
Hikmahanto mendorong penguatan industri pertahanan dalam negeri, bukan sekadar menjadi pembeli. “Kalau kita tidak bisa memodifikasi atau menciptakan teknologi militer sendiri, kita akan selalu tertinggal,” pungkasnya. (Asp)