LampuHijau.co.id - Sarekat Islam (SI) menggelar silaturahmi dan doa bersama di sekretariat rumah bersama, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2019) malam. Silaturahmi dan doa ini digelar untuk memperingati milad SI ke-114, dalam menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa.
"Untuk saat ini, kami fokus pada kegiatan dakwah dan pendidikan yang kami kelola sejak lama. Ada sekitar 600 sekolah dan beberapa universitas yang sudah berjalan dan berkegiatan belajar," ujar Ketua Sarekat Islam Hamdan Zoelva, Rabu malam.
Hamdan mengatakan, pihaknya juga sedang memfokuskan diri pada pembangunan kesadaran melalui dakwah ekonomi. Kata dia, ini dilakukan mengingat SI sangat kental dengan semangat kebangsaan yang luar biasa.
"Kemarin saat suasana pemilu yang menguras pikiran dan emosi dari seluruh rakyat Indonesia, kami berdiri di tengah. Karena itu, harus ada perekat di bangsa ini yang menjaga kebersamaan di kelompok nasionalis dan Islam agar tidak terbelah," ujarnya yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi.
Baca juga : Sekda Berharap Pemadam Kebakaran Kota Cirebon Punya Peralatan Canggih
Sarekat Islam, kata Hamdan, tetap mengharapkan adanya nuansa damai dan sejuk pada seluruh rangkaian politik di Pemilu 2019 hingga menuju titik pelantikan Joko Widodo-Ma'ruf Amin pada 20 Oktober mendatang.
"Transisi demokrasi yang baik harus kita kawal dengan baik. Termasuk saat agenda pelantikan presiden harus kita jaga. Itu agenda kita bersama termasuk saat transisi nantinya," jelas Hamdan.
Ia meminta semua pihak menghentikan polemik politik dan polarisasi perpecahan. Sebaliknya, masyarakat terus fokus pada perjuanhan membangun bangsa.
"Tantangan kita kedepan semakin berat. Kita terlalu ricuh dalam politik, proses ini harus berjalan damai. Kalau ada masalah kita kritisi," ungkap Hamdan.
Baca juga : Jelang Arus Mudik, Kapolres Indramayu Cek Pos Pelayanan dan Pos Pengamanan
Sementara, Ketua Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (Semmi) Bintang Wahyu Saputra menekankan pentingnya pemahaman ideologi untuk mementahkan maraknya paham radikal dan ekstremis yang semakin meresahkan.
"Kita melihat, masyarakat mulai kehilangan arah sehingga apapun yang jadi polemik bisa semakin besar. Ini berbahaya bagi keutuhan bangsa dan negara," terang Bintang.
Menurutnya, aksi mahasiswa yang kerap kali muncul dalam menolak UU KPK, juga dinilai tidak etis dan relevan untuk dilakukan. Apalagi persoalan UU sudah berjalan hingga Mahkamah Konstitusi.
"Kan ada yang sedang mengajukan judicial review di Mahkamah Konstitusi. Ya, kita tunggu saja. Justru saya khawatir demo itu sebagai bentuk menekan proses hukum, apalagi ada potensi ditunggangi jelang pelantikan Presiden," katanya.
Baca juga : Perayaan Paskah PNS, Bukti Toleransi Beragama di DKI Berjalan Bagus
Sekjen PB Semmi Harjono menegaskan, keamanan negara harus lebih ditingkatkan mengingat belakangan ini ada beberapa kelompok teror yang siap menyerang.
"Makanya, saya prihatin dengan kejadian yang menimpa Menko Polhukam beberapa waktu lalu. Aksi teror tidak dapat dibenarkan oleh alasan apapun," tukasnya. (YUD)