Jelang Ramadhan, Komisi VI DPR Pantau Terus Ketersediaan dan Harga Bahan Pokok

Diskusi Dialektika Demokrasi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta soal antisipasi lonjakan harga sembako jelang Ramadhan, Kamis (20/2/2025). (Foto: ist)
Kamis, 20 Februari 2025, 17:45 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron mengatakan, DPR bakal terus memonitor dan memantau ketersediaan serta keterjangkauan harga bahan pokok menjelang Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2025.

"Termasuk ketersediaan dari sisi barang dan ketersediaan dari sisi kedekatan terhadap konsumen. Maupun keterjangkauan dari sisi harga dan keterjangkauan dari sisi barang. Ini yang terus kami pantau," ujarnya dalam diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema 'Antisipasi Lonjakan Harga Sembako Jelang Puasa' di Ruang PPIP Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/2/2025).

Menurutnya, kenaikan harga bahan pangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri, selalu terjadi. Hal itu karena permintaan akan tinggi.

Baca juga : Komisi V DPR: Pemotongan Anggaran Negara Harus Arif dan Bijaksana

"Kalau di Ramadhan sampai pertengahan, memang biasanya permintaan meningkat. Hal itu karena persediaan rumah tangga akan lebih besar dari kebiasaan," terang politisi Partai Demokrat yang akrab disapa Kang Hero ini.

Sedangkan pada Idul Fitri, semakin meningkat. Hal itu karena pembelanjaan ataupun permintaan dari masyarakat juga meningkat.

"Ini sejalan dengan Lebaran, yang masih menjadi hari yang sakral bagi masyarakat untuk mudik. Sekaligus membelanjakan hasil perolehannya selama setahun," tandasnya.

Baca juga : Kunker ke Disdikbud, Komisi 4 DPRD Subang Soroti MBG dan Sarana Pendidikan

Pada kesempatan yang sama, pengamat ekonomi Salamudin Daeng mengatakan, bulan puasa tahun ini masyarakat Indonesia diperkirakan akan lebih menderita. Hal ini agak berbeda dengan sebelumnya.

"Karena sepanjang 2024 kita menghadapi deflasi 5 bulan, sejak April sampai September. Dan praktis tidak ada satu kebijakan yang dapat memompa depresi menjadi inflasi, sehingga jelas itu berbahaya," ungkapnya.

Bahkan menurutnya, sampai Januari, masih belum pulih. Di mana inflasi di bulan Januari sama dengan tahun 2020.

Baca juga : Komisi VIII DPR RI Menerima Audiensi dan Silaturahmi DPP LASQI

"Ini adalah yang terendah sejak tahun 2020. Kali ini, faktor utamanya adalah penurunan daya beli masyarakat," terangnya.

Yang mana penurunan daya beli masyarakat yang berlangsung terus-menerus, ternyata dipicu oleh penurunan daya beli terhadap komponen bahan makanan/bahan makanan pangan.

"Bahayanya, orang jadi mengurangi makan dan mengurangi pembelian bahan-bahan makanan. Hingga saat ini, belum ada kebijakan yang bisa memompa daya beli masyarakat," pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal