Pemerintah Diminta Tolak Tegas Keinginan Donald Trump Relokasi Pengungsi Gaza ke Indonesia

Gelora Talks bertema Tranformasi Politik Amerika Pasca Pelantikan Donald Trump. (Foto: ist)
Kamis, 23 Januari 2025, 12:34 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Analisis Geopolitik Dina Sulaeman meminta Pemerintah Indonesia menolak secara tegas keinginan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, untuk merelokasi sebagian pengungsi Gaza ke luar wilayah Palestina, termasuk ke Indonesia selama rekontruksi pasca perang berlangsung.

Pasalnya hal itu justru akan memberi dalih bagi Israel untuk mengusir warga Gaza dari tanah airnya, merampas dan menduduki tanah Gaza seluruhnya.

"Ide Trump atau tim transisinya untuk mengeluarkan orang-orang Gaza dari Gaza itu, sejalan dengan keinginan Israel selama ini yang menginginkan Gaza kosong dan kemudian diduduki. Saya pikir pemerintah Indonesia perlu menolak dengan tegas," kata Dina dalam Gelora Talks 'Transformasi Politik Amerika Pasca Pelantikan Donald Trump', Rabu (22/1/2025) sore.

Menurut Dina, persoalan Palestina akan selesai apabila Palestina Merdeka. Sebab hukum internasional sudah menegaskan bahwa Israel tidak sah menduduki tanah-tanah Palestina. Maka Israel harus keluar dari Tepi Barat, dan berhenti memblokade Gaza.

Baca juga : Polres Metro Jakarta Pusat Terapkan Restorative Justice Terhadap Ratusan Pengguna Narkoba

"Saya pikir disinilah Indonesia punya peran penting untuk meminta Dewan Keamanan PBB agar membentuk pasukan penjaga perdamaian atau peacekeeping operation untuk menjaga gencatan senjata," katanya.

Ia pun berharap, dunia internasional mengawal gencatan senjata dengan menyetujui pembentukan pasukan penjaga perdamaian.

"Kita tahulah karakternya Trump itu, dia itu pengusaha, yang dia lihat hanya keuntungan saja. Di satu sisi dia ingin mendapatkan dukungan publik secara domestik dari rakyatnya, dan disisi lain seakan-akan menjadi pahlawan di depan pendukungnya. Tetapi semua kebijakan Trump itu hanya sensasional saja,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Ketua DPP Koordinator Bidang Hubungan Luar Negeri Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Henwira Halim. Ia mengatakan, Trump memang punya kepentingan di Israel, karena di AS banyak orang Yahudi.

Baca juga : Penembakan Donald Trump Akibat Gaya Komunikasi Ekstrem, Bisa Terjadi di Indonesia?

"Trump ini sebenarnya tipe orang yang tidak bisa ditantang dan proteksionis. Kalau dijabani bahasanya kayak anak gaulnya di sini, Trump akan gunakan banget posisinya sebagai Presiden Amerika," kata Henwira.

Menurutnya, di AS saat ini rakyatnya terbelah antara mendukung Palestina dan Israel, sehingga Trump menginginkan agar situasi saat pelantikan dirinya sebagai Presiden AS berjalan stabil. Maka diciptakan upaya gencatan senjata antara Palestina-Israel.

"Israel sudah kewalahan secara militer, sementara dukungan politik di dalam negeri berkurang. Ada tekanan internasional, karena Palestina sekarang sudah dilihat, bukan isu agama lagi, tetapi ini isu kemanusiaan," ungkapnya.

Sementara peneliti senior Pusat Riset Politik BRIN Dewi Fortuna Anwar mengatakan, seluruh dunia perlu mewaspadai kebijakan Presiden AS Donald Trump yang terpilih untuk kedua kalinya.

Baca juga : Pencinta Sepakbola Apresiasi Kang Niko Rinaldo Cup Diadakan di Subang Utara

"Trump, pertama kali jadi Presiden itu dia mengubah kebijakan Amerika Serikat. Dari tadinya pendukung utama globalisasi, menarik diri dari globalisasi.

Sekarang Amerika mendukung kerjasama internasional di berbagai bidang termasuk, Climate Change dan energi terbarukan. Tapi saya katakan, Amerika bisa menarik diri sewaktu-waktu, salah satunya keluar dari WHO yang merupakan pendonor terbesar," kata Dewi.

Dewi pun berharap, Indonesia tidak perlu takut terhadap ancaman Trump akan mengenakan tarif 100 persen pasca bergabung ke BRICS.

"Trump tidak mengancam akan mengenakan seratus persen tarif kepada seluruh anggota BRICS, kecuali terjadi de-dolarisasi untuk mengurangi hegemoni dollar," pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal