Pengamat: Ada Pemain Proyek di Pertanian, Halangi Swasembada Pangan

Foto: IST
Minggu, 24 Nopember 2024, 12:07 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Pengamat politik dan kebijakan publik dari Pusat Kajian Politik dan Kebijakan Publik (PKPK) Saiful, menilai Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas tidak lebih dari pencari proyek yang menggunakan jabatan dan gelarnya. "Ya itu biasalah bagi para pengejar proyek-proyek besar di lembaga pemerintahan. Dengan terlibatnya Andreas dalam begitu banyak proyek Kementan, secara langsung menjadi alat ukur bagaimana kerja Andreas yang setelah dievaluasi tidak berkontribusi apa-apa, malah dihentikan," kata Saiful.

Saiful menjelaskan, pada tahun 2017 Andreas yang menjabat sebagai Ketua AB2TI mengadakan kerjasama proyek dengan BB Padi Kementan dalam rangka pemuliaan varietas dan produksi benih padi. Namun proyek itu dihentikan. Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian BB Padi Kementan, Suprihanto ketika itu membeberkan kerjasama yang akhirnya dihentikan, karena tidak sesuai dengan tujuannya, yaitu melepas varietas padi milik AB2TI yang bersifat spesifik lokasi, berdaya hasil tinggi dan layak diusulkan untuk dilepas menjadi varietas unggul nasional.

Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung selama tiga tahun sampai 2019. Pembatalan kerjasama dengan AB2TI itu, menurut Saiful karena Andreas mengabaikan beberapa tahapan pelepasan varietas. Pembatalan tersebut berdasarkan hasil evaluasi akhir tahun 2017 menunjukkan bahwa AB2TI tidak memahami prosedur dan kaidah standar pelepasan varietas.

Baca juga : Sentra Gakkumdu Akan Pastikan Proses Pilkada Berlangsung Tanpa Pelanggaran

Ditemukan beberapa hal yang menyalahi prosedur baku. Saiful mengatakan, dengan mengungkap berbagai dokumen terkait sepak terjangnya di sektor pertanian, model kritik Andreas ini merupakan motif seorang pencari kerja yang bersembunyi di balik kata-kata ilmiah. 

Namun Andreas sempat langsung bisu jadi pengamat pertanian setelah mendapatkan proyek Rp 5 miliar lebih dari Kementan pada tahun 2022. “Kontrak proyek miliaran rupiah itu untuk pemetaan komoditas hortikultura bersama Dirjen Hortikultura Kementan. Di tahun 2023, Andreas kembali diam karena berhasil meneken kontrak untuk proyek Swakelola Pengembangan Lahan Pertanian Produktif bersama Direktorat Perlindungan dan Penyediaan Lahan Kementan. 

Namun sejak 2024, setelah tidak lagi mendapat proyek, Andreas kembali mengkritik Kementan yang sedang mengejar Swasembada Pangan. Sementara itu, Koordinator Aliansi Masyarakat Penyelamat Pertanian Indonesia (AMPPI), Deby Saputra menegaskan apa yang dilakukan Andreas tidak berdampak signifikan bagi kinerja Kementan dalam upayanya mencapai target swasembada.

Baca juga : Tiga Pimpinan Parpol Optimis ARD - Lina Marliana Menang Pilkada Subang

Hal ini dibuktikan dari keberhasilan Kementan dalam swasembada beras di tahun 2017, 2019 dan 2020. “Saat itu, secara tegas Kemenran menolak keras adanya impor. Di tahun 2019 tercatat surplus beras mencapai 2.38 juta sehingga Indonesia kembali swasembada beras,” kata Deby.

Deby mengatakan, upaya pencapaian swasembada merupakan langkah simultan yang dilakukan Kementan. Kementan di tahun 2015 telah merehabilitasi jaringan irigasi tersier lebih dari 2,4 juta hektar, menyediakan lebih dari 80 ribu unit traktor dan benih padi 2,7 juta hektar.

“Kemudian juga melakukan mekanisasi produksi serta menjaga stok pupuk subsidi yang memadai bagi petani. Kementan terus mendorong transformasi pertanian dari pertanian tradisional ke pertanian modern. Dengan modernisasi target peningkatan produksi hasil pertanian menjadi lebih visibel untuk diwujudkan,” katanya.

Baca juga : Jakarta Pusat jadi Pilot Project Audit Energi oleh Dinas Tenaga Kerja

Dikatakan Deby, pencapaian kerja tersebut pada akhirnya menuai kekaguman dunia internasional Termasuk FAO (Kundhafi Kadiresan) terhadap pembangunan pertanian Indonesia dan sangat mengapresiasi hasil kerja Kementerian Pertanian (Kementan) sinergi TNI, Penyuluh, Petani, dan seluruh pihak terkait.

Berdasarkan data BPS sinyal positif akan terjadi kenaikan produksi terus menguat. Bahkan dalam Survei Kerangka Sampel Area (KSA) amatan Juni 2024, proyeksi jumlah produksi beras di Agustus dapat mencapai 2,66 juta ton dan pada September semakin meningkat menjadi 2,96 juta ton. Total produksi Agustus – September tahun ini mencapai 5,62 juta ton, meningkat 11,5 persen bila dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 5,04 juta ton. “Program langlah cepat pompanisasi dan perluasan areal tanam (PAT) yang digagas Kementan berdampak sangat baik,” tutup Deby. (SEP)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal