Bantu Palestina Merdeka, Wakil Ketua BKSAP DPR: Pemerintah Harus Pintar dan Kreatif dalam Action

Kamis, 13 Juni 2024, 20:23 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Wakil Ketua BKSAP DPR RI Sukamta mengatakan, jika Indonesia serius ingin membantu memerdekakan Palestina, pemerintah harus pintar dan kreatif. Pemerintah Indonesia harus action dengan agar kekerasan di Gaza-Palestina bisa distop.

"Palestina satu-satunya bangsa yang masih terjajah. Sesuai amanah konstitusi di pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 kita harus kreatif pintar untuk memaksa semua pihak itu mendengarkan aspirasi, untuk realisasi kemerdekaan bangsa Palestina. Setidak-tidaknya kita perlu action, yaitu supaya kekerasan di Gaza segera distop," tutur Sukamta, dalam Dialektika Demokrasi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/6/2024).

Menurutnya, logika untuk memaksa mereka itu memberhentikan kekerasan itu pasti bukan kekuatan militer. Pasalnya Indonesia pasti tidak mau ikut campur secara militer.

"Tidak juga mau beradu secara militer, karena kita tempatnya jauh. Dan juga kekuatan militer kita kalah dengan negara-negara besar lain," ujarnya.

Namun yang mungkin bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan kekuatan ekonomi.

Baca juga : Starlink Beroperasi, Komisi VI DPR Minta Pemerintah Adil karena Bisa Jadi Ancaman

Sukamta juga menegaskan, jangan sekali-kali kompromi buka hubungan diplomatik dengan Israel. Pasalnya jika hal itu terjadi, kata dia, kartu truf kita akan hilang.

"Hari ini jangan ngomong diplomasi deh. Sekali Indonesia buka hubungan diplomatik dengan Israel, satu-satunya kartu truf yang kita punya hilang kita berikan kita nggak punya kartu trup lagi.

Kalau ada orang mau mengkompromikan hubungan diplomasi dengan Israel, itu sama dengan kita menyerahkan seluruh kartu yang bisa kita mainkan untuk mendukung kemerdekaan bangsa Palestina," tegas politisi PKS ini.

Selain itu, dengan menekan hubungan ekonomi kepada Israel dan para pendukungnya. "Kita Indonesia ini punya banyak hal yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain yang menjadi kebutuhan mereka.

Kita punya pasar besar, kita punya sumber daya alam yang banyak. Dan posisi Indonesia secara geografis ini dibutuhkan oleh banyak negara besar. Kita belum menggunakan kartu-kartu semua ini untuk menekan apa yang dilakukan Israel dan pendukungnya," tandas Sukamta.

Baca juga : Pekerja Menolak Tapera, DPR: Pemerintah Harus Kaji Ulang dan Sosialisasikan

Pada kesempatan yang sama, pengamat hubungan internasional, Hikmahanto Juwana mengatakan, yang dibutuhkan oleh dunia ini untuk menghentikan Israel adalah kemanusiaan.

"Saya yakin, kalau kita bicara kemanusiaan akan didukung oleh banyak pihak termasuk rakyatnya. Buktinya, Amerika Serikat para mahasiswanya kan isu kemanusiaan yang diangkat. Bukan kita membela Palestina, Hamasnya, dan lain sebagainya bukan. Tapi kemanusiaan, mereka tidak bisa melihat orang dianggap sebagai binatang. Of the Humanis ini, koalisi kemanusiaan ini sangat penting. Dan ini sudah dimulai oleh Indonesia melalui pak Prabowo di KTT Yordania," terangnya.

Untuk itu dirinya berharap, apa yang dilakukan oleh Prabowo dan pertemuan di KTT Yordania yang membahas tentang Gaza, akan membentuk koalisi kemanusiaan dari banyak Negara.

"Dari banyak negara itu akan membentuk yang kita sebut sebagai koalisi kemanusiaan," harapnya.

Sementara praktisi media, John Andhi Oktaveri mengungkapkan, dalam kasus Palestina ini terutama untuk Raffah ternyata media sosial kita sudah berkembang begitu jauh. Sehingga kita paham benar apa yang disebut kemarin dengan "all ice on rafah" yang membuat semua mata terjun kepada Rafah.

Baca juga : Oknum Polisi Diduga Aniaya Remaja Hingga Tewas, Wakil Ketua DPRD Subang Lina Marliana: Prihatin, Jangan Terulang Lagi!

"Di akhir Mei ini membuat apa media sosial semua menjadi aktif membentuk opini sendiri sehingga tidak ada lagi dominasi optimis seperti Indonesia yang lebih cenderung keberpihakannya kepada salah satu blok di dunia ini.

Nah, fenomena ini menarik kenapa karena media sosial yang berkembang ini langsung mengirimkan gambar dan kejadian-kejadian yang di lapangan baik di Rafah, di seputaran Gaza itu enggak bisa ditutup-tutupi. Sehingga, muncullah solidaritas internasional yang membentuk gerakan kemanusiaan," ungkapnya.

Lebih lanjut John menegaskan, karena media sosial itulah muncul gerakan-gerakan yang ingin menghentikan kekerasan yang terjadi di Gaza dan Rafah-Palestina.

"Itu yang dikatakan profesor tadi, muncul lah yang namanya koalisi kemanusiaan. Walaupun secara kekuatan senjata enggak punya, tapi kekuatan politik dan kekuatan kemanusiaannya ini sangat sangat menentukan," pungkas John. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal