Setara dengan Soekarno, Fahri Hamzah: Prabowo Bisa Jadi Juru Bicara Politik Luar Negeri Indonesia

Waketum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah. (Foto: ist)
Kamis, 6 Juni 2024, 10:12 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengatakan, Indonesia akan segera memiliki seorang presiden yang mempunyai kemampuan setara dengan Presiden RI pertama, Soekarno.

Presiden tersebut, nantinya akan menjadi juru bicara keinginan politik luar negeri Indonesia ke depan. Presiden ini juga diklaimnya akan menjadikan Indonesia sebagai negara superpower baru, kekuatan baru dunia.

"Jadi, salah satu dari pilar penting Indonesia Emas 2045 itu adalah munculnya presiden yang akan menjadi juru bicara politik luar negeri Indonesia," kata Fahri Hamzah dalam diskusi Gelora Talks 'Arah Politik Luar Negeri Prabowo: Dari Isu Ukraina Hingga ke GAZA', Rabu (5/5/2024) sore.

"Alhamdulillah, kita bersyukur bahwa kita akan punya Presiden yang punya kemampuan menjadi juru bicara Indonesia seperti Presiden Soekarno dulu," tambah Fahri.

Menurutnya, pikiran dan pandangan Soekarno ketika itu mampu menjelaskan keberadaan negara baru bernama Indonesia dan berani melakukan konfrontasi dengan negara lain.

Baca juga : Representasi Jawa dan Luar Jawa, Indikator: Prabowo-Erick Lebih Meng-Indonesia

"Tetapi di masa Pak Harto (Soeharto), kemudian sangat slow, karena beliau fokusnya dalam membangun infrastruktur dasar dari sebuah negara maju dan modern," terangnya.

Kendati begitu, Soeharto dinilainya berhasil menjadikan Indonesia sebagai kekuatan baru di Asia, tidak hanya di kemajuan di bidang ekonomi, tapi juga politik dan pendidikan.

"Tapi setelah itu, penjuru bicaranya kurang keras. Pak Habibie (BJ Habibie) hanya sebentar, Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) juga. Lalu, masuk ke Ibu Mega (Megawati Soekarnoputri), Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang berlatar belakang militer, tapi dikenal shoft," jelasnya.

"Kemudian kita masuk ke Pak Jokowi (Joko Widodo) yang kira-kira mirip juga dengan Pak Harto yang agak fokus kepada pembangunan," imbuhnya.

Sementara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebagai presiden terpilih, memiliki kemampuan dan sikap yang keras seperti Presiden Soekarno. Selain kemampuan bahasa asingnya yang cukup baik.

Baca juga : Literasi Keuangan Pelajar, Bank DKI Ikut Berpartisipasi di Puncak Acara Hari Indonesia Menabung 2023

"Mudah-mudahan Pak Prabowo bisa menjadi juru bicara kepentingan Indonesia di dunia internasional, tapi tidak dengan konfrontasi. Terpilihnya Pak Prabowo telah menarik perhatian bangsa-bangsa di dunia," tandas Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini.

Pada kesempatan yang sama, KSAU 2002-2005 Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim mengatakan, Indonesia sekarang tengah berhadapan dengan situasi geopolitik yang tidak menguntungkan, yakni adanya konflik global dan ancaman smart war (perang yang cerdas), bukan perang konvensional.

Konflik geopolitik global itu terjadi antara Rusia-Ukraina, Israel-Iran, Amerika Serikat-China. Lalu, adanya ancaman perang di Laut China Selatan, dan ancaman AUKUS Australia.

"Semua itu adalah konflik geopolitik berupa perang, dan sekarang perang tersebut, sudah mencapai smart war yang memerlukan smart defence sistem," kata Chappy Hakim.

Lebih lanjut Founder and Chairman Indonesia Center for Air Power Studies ini mengatakan, situasi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintahan baru dibawa pimpinan Prabowo Subianto.

Baca juga : Wujudkan Indonesia Superpower Baru, Fahri Hamzah: Harus Jadi Mimpi dan Kosakata Dulu

"Inilah tantangan besar bagi pemerintahan baru, bagaimana memposisikan kita sebagai negara originaly dan originaly position. Dimana NKRI itu, adalah anti imperialisme dan kolonialisme dan pelopor negara-negara nonblok. Sehingga kita bisa mengetahui apa yang harus kita posisikan," tambahnya.

Sementara pengamat politik Timur Tengah & Dunia Islam Hasibullah Satrawi berharap, pemerintahan Prabowo Subianto bisa menjaga harmoni antara agama dan politik.

"Ke depan ini penting adanya rakyat dan militer untuk saling bekerja sama demi kemajuan bersama. Karena itu, Pak Prabowo sebagai tokoh militer dalam demokrasi seperti hubungan antara agama dan negara yang digambarkan Imam Ghazali," kata Hasibullah.

Sehingga, menurut dia,Prabowo perlu memperkuat pesenjataan Indonesia ke depan agar bisa menggerakkan dunia. Pasalnya, apabila tidak memiliki persenjataan yang kuat, Indonesia tidak akan didengar dan bisa mengajak negara lain untuk menjaga perdamaian, tidak cukup hanya seruan moral.

"Manusia itu, prinsipnya butuh sesuatu yang dikalkulasikan dan menakutkan agar bisa berlanjut. Negara seperti Amerika dan negara-negara di Eropa itu, tidak akan mendengar kita, kalau kita hanya ngomong soal moral. Mereka ditakuti, karena persenjataannya," pungkas Hasibullah. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal