Narasi Pemakzulan dan Pemilu Curang, Mahfuz Sidik: Bahayakan Negara dan Bangsa

Kamis, 18 Januari 2024, 10:49 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik menegaskan, narasi pemakzulan dan Pemilu curang yang dikembangkan oleh pasangan calon (paslon) tertentu sangat membahayakan negara. Pasalnya, dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Menurut Mahfuz, ketika urusan politik kepemilihan dikembangkan sedemikian rupa dalam situasi sekarang, bisa berakibat fatal dan akan memperluas hotspot peristiwa politik baru di dunia.

"Ketika sekarang dikembangkan narasi hati-hati kecurangan Pemilu, kemudian upaya pemakzulan Presiden Jokowi (Joko Widodo), kita harus mawas betul. Sebab narasi ini justru membahayakan kita sebagai negara dan bangsa. Dalam konteks kepentingan nasional, dua narasi ini berbahaya, karena kita ini hidup di tengah situasi global sekarang," kata Mahfuz Sidik, dalam diskusi Gelora Talks 'Mengapa Arus Balik Dukung Prabowo Terus Mengalir?', Rabu (17/1/2024) sore.

Mahfuz mengatakan, dua narasi ini sengaja dikembangkan oleh paslon 1 dan 3 untuk memainkan emosi masyarakat. Hal ini dinilainya sebagai bentuk kepanikan bahwa mereka tidak mungkin bisa mengalahkan pasangan nomor urut Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Baca juga : Ada Arus Perubahan Kepemimpinan, Mahfuz Sidik: Kehadiran Pemimpin Muda di 2024

"Ada indikasi paslon nomor 1 dan 3 bersatu dengan mengembangkan dua narasi ini, kecurangan Pemilu, dan pemakzulan. Itu dituntun oleh kepanikan mereka, apakah bisa mengalahkan pasangan nomor 2 atau tidak, sehingga ingin memainkan emosi masyarakat," ungkapnya.

Sebaliknya, upaya tersebut justru akan memunculkan simpati balik ke paslon nomor 2, dan tidak akan mempengaruhi opini publik seperti pasca debat calon presiden (capres) ketiga beberapa waktu lalu.

"Pada debat capres ada pandangan performa Prabowo kalah dari paslon lain. Tapi di arus bawah, ada arus lain, ada perpektif lain yang membuat arus balik, dukungan ke Prabowo semakin besar. Kita berharap paslon tidak bikin blunder lagi," katanya.

Mahfuz pun berpandangan, narasi pemakzulan dan Pemilu curang akan membuat 'blunder' baru paslon 1 dan 3, serta menciptakan simpati kepada paslon 3. Untuk itu, ia menyarankan agar paslon 1 dan 3 lebih baik fokus untuk meningkatkan peforma mereka selanjutnya, daripada menciptakan 'blunder-blunder' baru. Terlebih dalam situasi dunia yang tidak baik-baik saja, peristiwa politik di suatu negara bisa mempengaruhi di negara lain, termasuk akan mempengaruhi situasi di dalam negeri.

Baca juga : Kapolsek Kemayoran Minta Warga yang Rayakan Natal di Gereja Gunakan Transportasi Publik

"Dari perang Rusia-Ukraina sudah merembet ke perang Palestina-Israel, sekarang nambah lagi perang antara Amerika dan Inggris melawan faksi Houthi di Yaman.

Lalu, Taiwan baru saja selesai Pemilu, yang calonkan dimenangkan dukungan dari Amerika. Dan kita tidak tahu apakah hotspot akan merembet ke Indonesia, paling tidak situasi tersebut telah mempengaruhi situasi di dalam negeri kita," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Senior Indikator Politik Indonesia Kennedy Muslim mengatakan, elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran dalam sisa satu bulan ini, tidak akan bisa digoyang oleh paslon lain, pasca debat ketiga.

"Kalau isu pemakzulan, justru akan memunculkan kontra produktif dan arus balik dukungan ke Prabowo seperti ketika ada penolakan Gibran jadi cawapres berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi. Di bawah kita temukan data berbeda, mereka justru mendukung Prabowo. Bahkan dukungan generasi milenial dan gen Z ke Prabowo juga besar, karena mereka tidak suka capres yang suka membully," kata Kennedy.

Baca juga : Dewas KPK: Dugaan Pelanggaran Firli Bahuri Layak Disidang Etik

Sementara Praktisi Komunikasi Politik dan Digital Marketing Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau Ipang Wahid mengatakan, pasca debat capres ketiga beberapa lalu, ada arus dukungan yang besar ke Prabowo Subianto.

"Respon terhadap debat ketiga justru menggerakkan arus dukungan ke Prabowo. Ini termasuk ibu mertua saya, setelah menonton debat tidak mau mendukung calon itu, terlalu menyeramkan. Karakter pemilih kita itu berbeda dengan Amerika, dalam konteks di Indonesia, itu berbeda. Tidak bisa apa yang dilakukan Anies Baswedan, itu diterima di kita," kata Ipang.

Menurut Ipang, apa yang dilakukan Anies di luar kepantasan, adat ketimuran kesopanan yang ada di Indonesia. Sehingga Anies dihukum dalam tanda kutip oleh publik.

"Kalau Ganjar ini kesalahan strategi dari PDIP memusuhi Jokowi, meskipun pada akhirnya diralat, tetapi itu sudah terlambat. Pemilih Jokowi sebagian besar beralih ke Prabowo. Salah kalau Ganjar musuhi Jokowi, karena kepuasan publik kepada Jokowi uprovalnya diatas 70 persen," pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal