LampuHijau.co.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta Pusat menggelar simulasi pemungutan suara di halaman kantor Walikota Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2024). Bilik-bilik tempat pemungutan suara hingga kotak surat berjejer di halaman Kantor Walikota Jakarta Pusat.
Suasana pesta demokrasi lima taun sekali pun nampak kental terasa. Terlihat sejumlah petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) sibuk mensterilkan lokasi TPS yang disimulasikan. Mereka memakai kostum pakaian adat lengkap dari ujung kepala sampai kaki. Mulai dari pakaian adat Jawa, Sumatera, Sunda, dan masih banyak lagi. Selain petugas KPPS, peserta Pemilu 2024 pun dihadirkan di dalam TPS tersebut.
Dalam simulasi kali ini, peserta dihadirkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Seperti pemilih disabilitas, ibu hamil, serta pembuat onar yang mungkin hadir dalam Pemilu 2024. Tujuannya, untuk mendemonstrasikan solusi serta penanganan apabila ada kejadian tak menyenangkan seperti itu.
Adapun simulasi itu dimulai dengan proses membuka segel kotak suara yang berisi ratusan lembar surat suara. Mulai dari surat suara Presiden dan Wakil Presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD DKI Jakarta yang disimbolkan dengan berbagai warna, yakni putih, kuning, merah, dan biru.
Baca juga : Langgar Aturan, APK Bergambar Masinton Terpampang di Pagar Walikota Jakarta Pusat
Kemudian, petugas KPPS memanggil satu persatu peserta Pemilu sesuai urutan pendaftar yang hadir. Simulasi nampak digelar dengan senyata-nyatanya, bahkan peserta pemilu diberi surat suara yang berisikan nama-nama calon berikut partai pengusungnya. Hanya saja, surat suara itu bermuatan tidak sah lantaran hanya diperuntukkan untuk simulasi saja.
Kemudian sempat juga terjadi adu mulut antara petugas dan warga yang hendak mencoblos. Warga tersebut dilarang masuk ke TPS lantaran menggunakan atribut salah satu partai politik.
"Hari ini kami lakukan simulasi pencoblosan suara atau simulasi KPPS peserta pemilu yang dipilih dan juga simulasi ini Insya Allah bermanfaat karena kami coba menghadirkan suasana atau suasana yang ril masa pencoblosan nanti," kata Ketua KPU Jakarta Pusat, Efniadiansyah saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, simulasi ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat serta stakeholder terkait agar memahami alur dan prosedur Pemilu 2024 mendatang. Pasalnya tahun ini, lanjut dia, Pemilu akan diarahkan agar ramah disabilitas.
Baca juga : Perlakuan Khusus untuk Hasbi Hasan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat
"Maka kami berusaha semaksimal mungkin memberikan fasilitas termasuk dengan ada beberapa disabilitas tunanetra," kata Efni.
"Makanya hadirnya hari ini (disabilitas), supaya kami beri tahu dan mereka bisa merasakan apa saja yang kami fasilitasi termasuk surat suara yang ada huruf braille," lanjutnya.
Salah satu pemilih disabilitas netra yang ikut serta adalah Dewi (30). Dia yang didampingi kekasihnya, Jonathan menyebut jika Pemilu 2024 nanti adalah kali pertamanya mendapatkan pendamping saat mencoblos. Sehingga, simulasi kali ini bisa menjadi gambaran untuk Dewi memahami posisi serta cara msncoblos di hari H nanti.
"Ini kali pertama saya juga sebagai pendamping di Pemilu. Makanya tadi sempat bingung juga pas di dalam bilik emang boleh ngarahin, tapi sih katanya boleh yang penting pas nyoblosnya sesuai hati nurani dia," kata Jonathan saat ditemui di lokasi, Selasa.
Baca juga : Fahri Hamzah Menilai Fenomena Gibran di Pilpres 2024 Jadi Guncangan Kuat di Jatim
"Saya udah tiga kali ikut pemilu, tapi sebelumnya enggak pernah dikasih pendamping, jadi kayak orang normal aja, nah baru ini boleh ada pendamping," ujar Dewi menimpali.
Kendati demikian, Dewi mengaku hanya mengetahui para kandidat capres cawapres dan DPR RI. Sedangkan untuk caleg DPRD DKI dan DPD, ia mengaku tak ada yang mengenalnya. Namun, Dewi akan tetap menggunakan hak suaranya dalam Pemilu 2024 nanti.