LampuHijau.co.id - Anggota Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron mengatakan, bila semua pasangan calon (paslon) dan pendukungnya mengedepankan kampanye negatif, maka akan sulit masyarakat bersatu kembali. Pasalnya, polarisasi akan terus berlangsung dan masyarakat akan menjadi korban hoaks.
"Sepanjang kubu yang puas maupun tidak puas dipisahkan dalam jarak yang terlalu lebar. Masyarakat akan menjadi korban dari penyebaran hoaks," ucapnya dalam diskusi Dialektika Demokrasi 'Bersama Mencegah Hoaks dan Kampanye Hitam Jelang Pilpres 2024' di Media Center DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/11/2023).
Selain itu, Herman juga mengkritisi lembaga survei yang ikut bermain politik. Di mana lembaga survei tersebut juga menyampaikan ke publik mengenai hasil survei yang tidak sesuai fakta di lapangan.
Baca juga : Demi Keselamatan, Masyarakat Pabuaran Tolak Peredaran Minuman Keras
"Terutama bila hasil temuan dan analisisnya bukanlah kebenaran yang obyektif. Karena sesuatu yang dibuat seolah-olah merupakan fakta namun bukan yang sebenarnya, lebih membahayakan dibandingkan hoaks yang dibuat oleh orang biasa," terang politisi yang akrab disapa Kang Hero ini.
Pada kesempatan yang sama, Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR RI, Yanuar Prihatin mengatakan, hoaks diprediksi meningkat menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Dimana gelombang terbesar maupun ombak justru ada di tingkat elite.
"Pada Pilpres kali ini berbanding terbalik dengan 2019. Dimana gelombang ombaknya justru ada di tingkat elite, sedangkan di bawah justru biasa saja alias lebih santai," ungkapnya.
Baca juga : Kapolsek Pabuaran Bersama Masyarakat Gelar Jumat Curhat di Masjid Al-Huda
Masyarakat juga tidak saling serang dengan kelompok lain yang berbeda pilihan. Gelombang tinggi justru berada di tingkat elite. Di mana efeknya akan lebih besar dan bisa berdampak luas.
"Ada sejumlah manuver yang dilakukan oleh para elite. Jika gelombang ada di tingkat elite, maka efeknya akan lebih besar dan merambat ke mana-mana," tandasnya.
Sementara Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengatakan, hoaks akan terus muncul. Hal itu karena tidak ada narasi pembanding.
Baca juga : Walikota Jakpus Ungkap Modus Praktik Pungli di Kawasan Loksem
"Narasi pembanding adalah ide, gagasan, program yang disampaikan oleh para kandidat. Jika narasi dimunculkan, maka hoaks akan mereda dengan sendirinya," ujarnya.
Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila Kementerian Komunikasi dan Informatika merilis bahwa sekitar 800 ribu website terindikasi menyebarkan hoaks. "Apalagi jika yang bertarung dalam pemilu nanti adalah berita palsu. Maka, tidak ada lagi ruang intelektualitas, karena yang ada hanyalah informasi palsu yang dianggap sebagai kebenaran," pungkasnya. (Asp)