Kampanye Pemilu 2024, DPR Ingin Jadi Ruang Diskusi Produktif dari Tiga Paslon Capres-Cawapres

Kamis, 26 Oktober 2023, 16:51 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Anggota DPR RI F-PKB Syaiful Huda berharap, pada kampanye Pemilu 2024 mendatang, semua gagasan terbaik dari tiga pasangan calon (paslon) Capres-Cawapres harus mendapatkan ruang sebaik-baiknya dan menjadi diskusi yang produktif. Hal itu diperlukan agar level politik kita meningkat.

"Jadi diskusi yang produktif, supaya kita menaikkan level politik kita yang sangat pragmatis ini. Kita lambungkan pada politik yang sesungguhnya, yaitu soal agenda perjuangan, agenda perbaikan, dan agenda perubahan ke depan," ujarnya dalam Dialektika Demokrasi dengan tema 'Peran DPR Kawal Tahapan Pemilu Usai Pendaftaran Capres' di Media Center, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (26/10/2023).

Menurutnya, program yang nanti akan didorong dalam masa kampanye oleh tiga pasangan tersebut akan lebih baik dibandingkan jika kita terjebak dalam politik pragmatis. Jangan sampai yang disokong oleh logistik dan institusi kekuasaan yang terpilih oleh masyarakat.

"Menurut saya, itu akan lebih baik timbang kita terjebak pada politik pragmatisme. Siapa yang disokong oleh logistik dan institusi kekuasaan yang lalu akan apa, akan menjadi pertimbangan rakyat untuk masyarakat memilih. Saya kira itu tidak produktif," jelas Syaiful.

Baca juga : Relawan Muda Airlangga Dukung Prabowo - Erick Thohir Sebagai Capres - Cawapres

Kemudian, di masa tenang nanti, Syaiful juga berharap tidak ada aktivitas politik. Agar menjadi ruang bagi masyarakat untuk memikirkan atas berbagai argumen, gagasan selama masa kampanye.

"Kita punya masa tenang yang semoga benar-benar tenang, tidak ada aktivitas politik, tidak ada instrumen apapun yang memanfaatkan masa tenang. Malah menjadi ruang untuk konsolidasi. Jadi, masa tenang adalah masa di mana kita memberikan ruang pada masyarakat untuk memikirkan atas berbagai argumen, gagasan selama masa kampanye, untuk diserap," terangnya politisi PKB ini.

Kemudian, yang terakhir yaitu tahap pemilihan. Di mana semua instrumen penyelenggara KPU dan Bawaslu mengambil peran semaksimal mungkin, dan sesignifikan mungkin.

"Karena kami meyakini, ketika proses tahapan kampanye masa tenang tidak tercederai proses demokrasi saya meyakini, partisipasi publik bisa melampaui 80 persen. Ini akan menjadi catatan sejarah kita ketika partisipasi publik menjadi sangat tinggi dalam pilpres 2024," tambah Syaiful.

Baca juga : Ribuan Personel Gabungan Disiagakan Jelang Putusan MK Terkait Batas Usia Capres, Cawapres

Sedangkan dalam konteks tugas DPR, dalam hal ini adalah pengawasan, jadi Apakah DPR masih bisa objektif secara institusi? Ia mengatakan, "Semestinya DPR harus tetap menggunakan asas objektivitas, dalam melihat tahapan Pemilu yang akan kita lalui ini, penetapan, kampanye, masa tenang, dan masa pemilihan dan sampai proses penetapan. Proses yang hampir pasti penyelenggaraan putaran kedua Pilpres, yang mau tidak mau KPU dan pemerintah harus sudah siap dari sekarang."

Pada kesempatan yang sama, Pengamat Politik Citra Institute Yusak Farchan mengatakan, kalau kita mengacu sebelas tahapan Pemilu yang diatur oleh UU Pemilu, sekarang ini kita sudah masuk pada tahapan ke-6, yaitu pencalonan.

"Tinggal tersisa lima tahapan lagi, kampanye, kemudian masa tenang, pemungutan, dan penghitungan suara, kemudian penetapan hasil Pemilu, dan yang terakhir tentu adalah pengucapan sumpah atau janji Presiden-Wapres terpilih, DPR/DPD dan DPRD," ujarnya.

Namun, dari 11 tahapan itu, menurutnya, tidak ada yang paling menarik, kecuali memang dua tahapan. Pertama, tahapan kandidasi atau pencalonan; yang kedua, tahapan kampanye. Nah, di tahapan kandidasi yang sangat panjang, terutama di Pileg-nya ini, dan ini kan memang kita disuguhi banyak sekali dansa-dansa politik bahkan drama-drama politik.

Baca juga : Jadikan Pemilu 2024 Pesta Demokrasi yang Konstitusional dan Perekat Persatuan

"Drama politik pertama adalah bergabungnya partai PKB dengan porosnya bapak Anies, yang sebelumnya kita tak pernah membayangkan PKB bakal bergabung dengan Pak Anies serta PKS. Jadi, menipiskan batas-batas ideologis yang sebetulnya kita tak pernah membayangkan PKB bisa bersatu dengan PKS, sekalipun dalam politik semua kemungkinan itu terbuka lebar.

Drama politik kedua yang tidak kalah menarik saya kira adalah diambilnya Mas Gibran sebagai calon wakil presidennya Pak Prabowo. Ini juga mencengangkan publik, dan itu diambil dalam momentum last minute. Satu hari sebelum pendaftaran calon presiden kemarin," pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal