Spirit Revolusi Hijrah, Dedy Mizwar: Ajarkan untuk Hindari Politik Kotor

Dedy Mizwar. (Foto: ist)
Kamis, 20 Juli 2023, 14:11 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Doktor Ilmu Pemerintahan Universitas Padjajaran dengan predikat cumlaude Deddy Mizwar (Demiz) yang juga Ketua Bidang Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mengatakan, spirit hijrah telah mengajarkan kepada Umat Islam untuk menghindari praktik politik kotor dalam memilih seorang pemimpin.

“Jadi, sebenarnya peristiwa hijrah ini bukan saja untuk menghindari pembunuhan Rasulullah SAW dari kaum Quraish. Tapi sebuah bentuk ketaatan awal dari Rasulullah kepada Allah SWT, bahwa Allah SWT memiliki grand design mengenai sebuah negara besar,” tutur Deddy Mizwar saat diskusi Gelora Talk bertajuk ‘Tahun Baru Islam: Spirit Revolusi Hijrah dari Politik Kotor’ Rabu (19/7/2023) petang kemarin.

Menurut Demiz, sapaannya, dengan mematuhi ketaatan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW akhirnya terhindar dari praktik kotor kaum Quraish. Di Madinah, Rasulullah SAW akhirnya berhasil membangun kekuatan dan menjadi negara besar di luar Mekkah, yang kekuasaannya kita kenal luas hingga ke Eropa.

“Lalu, bagaimana dengan situasi demokrasi di Indonesia, apakah kita mungkin menghindari politik kotor di Pilpres 2024. Allah SWT itu sudah memiliki grand desain dan calon pemimpin kita itu, sudah ada namanya di Lauhul Mahfudz,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai pentingnya sebuah kesadaran dari para kandidat yang mengikuti kontestasi Pilpres 2024, agar menjadikan spirit hijrah tersebut, sebagai spirit untuk melakukan revolusi dari upaya politik kotor.

Baca juga : AHY Nilai Hukum Bukan Untuk Kepentingan Elite

“Kepemimpinan itu, sebuah amanah dan sebuah ketentuan Allah SWT yang dimana pemimpin kita sudah ada di Lauhul Mahfudz. Kesadaran atas ketaatan ini, yang akan melahirkan pemimpin yang adil dalam membangun bangsanya. Kalau spirit hijrah ini, tidak ada, bisa kacau bangsa dan negara kita,” tegas pemeran Naga Bonar ini.

Selain itu, Demiz berpandangan bahwa kekuasaan pada dasarnya mengantarkan seorang pemimpin itu masuk neraka, jika menjadi pemimpin yang tidak amanah. Namun ketika dia menjadi pemimpin yang adil, pemimpin tersebutlah yang pertama kali akan membuka pintu surga.

“Kalau kekuasan hanya memilih pemimpin tanpa spirit hijrah, apakah itu memilih presiden atau memilih wakil rakyat, tujuannya itu adalah ketaatan kepada kepada Allah SWT. Salah satu ketaatan itu adalah menghindari praktik politik kotor,” tandas mantan Wakil Gubernur Jabar ini.

Pada kesempatan yang sama, Pengamat Politik UI Chusnul Mar’iyah mendorong Partai Gelora untuk menghadirkan ‘Pemilu Halal’ dalam Pemilu 2024. Dalam konteks Pemilu, bisa dimaknai bahwa hijrah itu dari perang senjata ke perang suara.

“Dalam perang suara, inilah terjadi perang keuangan atau finansial. Padahal yang perlu kita pahami dalam sejarah mempertahankan kedaulatan NKRI itu, bukan perang finansial, tapi perang ideologi," ujar Chusnul.

Baca juga : Hadapi Musim Hujan, Heru Minta Dipasang Dua Pompa Baru di Kali Sentiong

Sebagai seorang political scientists, kata Chusnul, Partai Gelora adalah partai yang selalu mengedepankan, agama dan politik tidak boleh dipisahkan. Agama tidak boleh dipinggirkan, karena agama memiliki nilai dalam menjaga moralitas.

“Kalau kita bicara ‘why election integrity maters’ seperti dalam paper saya, bahwa agama itu membawa hijrah tentang value atau nilai. Untuk apa anda berkuasa, jika demokrasi ditentukan elite, rakyat dipaksa memilih dari bos yang satu ke bos yang lain,” katanya.

Anggota KPU RI 2002-2007 ini mengungkapkan, dalam setiap memberikan bimbingan teknis (Bimtek), ia selalu ditanya, bahwa modal sosial dan kapital itu akan selalu menjadi pemenang dalam memilih presiden maupun anggota legislatif.

“Mereka selalu percaya duit, duit, dan duit yang akan menjadi pemenang. Tapi Anda lupa, dari 7.000 caleg misalnya, yang menang itu hanya 575 sampai 580 caleg. Apakah mereka nggak pakai duit? Pakai duit juga, tapi kalah juga. Sekarang ini bagaimana Pemilu itu menjadi barakah semua harus diawasi, termasuk lembaga survei dan media, karena jadi bagian dari itu,” ungkapnya.

Chusnul menilai pentingnya rekruitmen terhadap orang-orang yang akan dipilih sebagi pemimpin, karena sistem Pemilu kita itu meski menggunakan Sistem Pemilu Terbuka, tetapi diwarnai dengan aksi tipu-tipu muslihat.

Baca juga : Untuk Keluarga di Jakarta, BAZNAS Salurkan Bantuan Paket Logistik

“Karena itu, mari kita bangun Pemilu kita ini dengan semangat hijrah tadi, Pemilu yang halal. Makanya saya pusing, kalau ada yang pakai ilmu fiqih itu mengatakan, money politic itu tidak apa-apa, karena membeli kebenaran,” katanya.

Sebab, oligarki kekuasan itu, ungkap Chusnul, sudah merancang kekuasaannya agar tetap bertahan mulai dari kekuasan presiden, kekuasaan politik, hingga kekuasaan ekonomi.

“Hasilnya, dampaknya itu ada UU Pendidikan, kesehatan, cipta kerja, industri, kepemilihan tanah, sampai masalah utang dikuasai semua oleh oligarki. Bahkan oligarki ini juga menggunakan DPT sampai hari H, dan pengangkatan Anggota KPU-KPU daerah sebagai modal untuk mencurangi Pemilu,” pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal