Anggota DPR: Bikin Pemilu yang Menyenangkan dan Politisi Harus Paham Nilai-nilai Kebangsaan

Kamis, 8 Juni 2023, 20:26 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Mukhamad Misbakhun mengatakan, pemilu sebagai sebuah pesta demokrasi harus diadakan dalam posisi politik dan keamanan yang stabil. Sehingga menjadi menyenangkan bagi siapa saja, baik peserta pemilu atau orang yang berperan serta dalam ajang 5 tahunan tersebut.

"Karena kita mengatakan sebagai pesta demokrasi, kita bikin pemilu itu pemilu yang menyenangkan bagi siapa saja, baik peserta pemilunya atau orang yang berperan serta di dalam pemilu itu," tuturnya dalam diskusi Dialektika Demokrasi 'Bersama Menjaga Stabilitas Politik di Tahun Politik' di Media Center, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/6/2023).

Menurutnya, hal itu menjadi Pekerjaan Rumah (PR), dan kepentingan bersama semua warga bangsa. "Tadi luar biasa disampaikan oleh Pak Herman Khairun soal high politik, ketika kita berbicara high politik, nilai-nilai kebangsaan, bicara tentang soal politik kebangsaan. Bagaimana kemudian high politik dan politik kebangsaan itu kita tujukan untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan kepentingan kekuasaan, bukan juga kepentingan partai demi partai," terangnya.

Pasalnya, dalam sejarah Republik ini, partai itu timbul dan tenggelam. Ada partai yang baru berdiri, ada partai yang sudah lama berdiri seperti Golkar dan kemudian ada partai-partai yang baru didirikan oleh pecahan dan sebagainya,

Baca juga : Sandiaga Uno: Kota Depok Akan Meningkatkan Posisinya Sebagai Kota Kreatif

"inilah yang menjadi tugas kita bersama, karena pemilu yang damai itu bukan givent, bukan datang dari langit, itu harus di kondisikan oleh kita semua," tambah Misbakhun.

Pada kesempatan yang sama, Anggota DPR RI Fraksi Demokrat, Herman Khaeron mengatakan, untuk menciptakan stabilitas politik, tinggal bagaimana kemampuan seorang politisi betul-betul memahami nilai-nilai kebangsaan.

"Kalau berbicara nilai-nilai kebangsaan di lingkungan Majelis Permusyawaratan Rakyat ini, semestinya malu dengan dirinya sendiri kalau masih masih sering mengangkat perbedaan, masih sering kemudian merasa menang sendiri. Itu menurut saya tidak memahami seutuhnya nilai-nilai empat pilar MPR, malu. Karena kami setiap saat melakukan sosialisasi kepada masyarakat, bahwa kita harus menjalankan nilai-nilai Pancasila yang 5 sila itu," jelasnya.

Ia pun menilai, dalam konteks dan tataran pembicaraan high politik dalam nilai-nilai kebangsaan, dirinya dan politisi yang lain memiliki satu visi dan misi yang sama sebagai warga negara dan bangsa. Tetapi pada tataran ataupun konteks pemilu, dikatakannya, memang ada kontestasi, tetapi hal itu sudah biasa.

Baca juga : Apel Akbar Perawat se-DKI Jakarta Peringati HUT PPNI Ke-49: Meneguhkan Semangat Berprofesi Dalam Bingkai Kebangsaan

"Situasi boleh panas, tetapi hati tetap dingin. Kita tidak boleh berpecah belah walau berbeda partai, berbeda baju, tetapi dalam konteks membangun bangsa harus bersama-sama. Terakhir tidak ada kawan sejati, tak ada lawan abadi yang ada adalah kesamaan kepentingan," pungkasnya.

Sementara Peneliti Indikator Politik, Bawono mengatakan, Pemilu adalah hal yang biasa saja, dan merupakan sirkulasi kepimpinan nasional setiap 5 tahun yang sudah menjadi sebuah keharusan di sebuah negara demokrasi seperti Indonesia.

"Pemilu ini problemnya memang dia melibatkan banyak stakeholder, dari penyelenggara pemilu, KPU, Bawaslu, DKPP, dan kemudian dari kandidatnya sendiri yang tidak terbatas pada capres-cawapres, tetapi puluhan bahkan ratusanbbacaleg di pusat, di DPRD, provinsi, kabupaten, dan kota," ujarnya.

Sedangkan berdasarkan pengalaman di dua pemilu dulu misalnya, kenapa marak sekali berita hoaks dan sebagainya. Karena menurutnya, pemilu itu kalau dari sisi kandidat memang berkontribusi juga terhadap stabil atau damainya di tingkat akar rumput.

Baca juga : Anggota DPRD Subang Eni Garyani Serap Aspirasi Masyarakat Sukamulya

"Kalau dilihat di dua pemilu yang lalu, memang banyak diisi ruang-ruang kampanye kita dengan sifatnya pribadi, identitas dan sebagainya. Kalau kandidat-kandidat baik di tingkat pilpres maupun bacaleg, itu bermainnya di tingkat ide dan gagasan. Dan kemudian mengundang katakanlah kompatriotnya, maka masing-masing kandidat tersebut akan saling beradu gagasan dan beradu ide. Itulah yang absen di pemilu kita selama dua periode dahulu. Sehingga kemudian yang ada adalah ruang-ruang yang penuh kebencian, serangan terhadap pribadi dan sebagainya," tandasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal