Hadapi Tekanan Ekonomi Global, Ekonom: Pemerintah Harus Jaga Perekonomian Domestik

Kerja sama ekonomi Indonesia-China. (Foto: ist)
Selasa, 22 Nopember 2022, 21:19 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah mengatakan, pemerintah belum perlu melakukan extra effort, menambah kebijakan terkait beratnya prospek perekonomian global. Asal, pemerintah mampu menjaga perekonomian dalam negeri.

“Namun bagaimana menjaga perekonomian domestik tidak terganggu, karena ekonomi domestik sedang mengalami pemulihan. Dan di tengah kondisi global, andalan kita adalah permintaan domestik, pasar dalam negeri, jangan sampai ada gangguan,” ujar Piter, Selasa (22/11/2022).

Adapun pernyataan Presiden Joko Widodo untuk berhati-hati dalam membuat kebijakan, kemudian apa yang diutarakan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo adalah sebagai peringatan. “Tidak ada pejabat yang mengatakan kita akan alami resesi, kondisi yang suram. Namun ada kesamaan pandangan bahwa kita harus hati-hati. Kondisi global memang berat jadi kita harus hati- hati. Karena bagaimanapun kita bisa terdampak jika tidak mengambil keputusan yang benar,” terang Piter.

Baca juga : Dampak Negatif Kenaikan Suku Bunga, Ekonom: Pemerintah Harus Buat Kebijakan Shock Absorber

Begitupula dengan aksi BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%, dianggap sebagai langkah yang tepat.

“Justru kenaikan suku bunga itu untuk meredam inflasi juga, tidak sekedar meredam pelemahan nilai tukar. Tetapi kenaikan suku bunga juga bisa meredam inflasi, karena artinya, pengetatan demand, menurunkan demand, dalam rangka untuk mengurangi tekanan inflasi,“ tambah Piter.

Prospek ekonomi global sendiri diprediksi akan melambat dan mempengaruhi Indonesia. Hal itu telah berulang kali disampaikan oleh pejabat pemerintah. Tidak hanya Presiden Joko Widodo tetapi juga Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Baca juga : Presidensi G20 Diprediksi Berikan Efek Positif bagi Perekonomian Indonesia

Sebelumnya, hal senada juga diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Menurutnya, dunia menghadapi risiko yang dapat memunculkan gejolak ekonomi, baik pada sisa tahun ini dan tahun depan. Kunci untuk menghadapi gejolak tersebut dikatakannya adalah sinergi dan koordinasi.

“Sinergi, sinergi, sinergi. Koordinasi, koordinasi, koordinasi. Koordinasi harus erat,” ucap Perry beberapa waktu lalu.

Sementara Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengungkapkan, hal terpenting dalam menghadapi gejolak ekonomi global adalah sinergitas antara kebijakan moneter dan fiskal. “Sinergitas kebijakan moneter dan fiskal penting dilakukan, mengingat memang kondisi resesi global semakin mendekati kenyataan,” tuturnya, Selasa (22/11/2022).

Baca juga : Hibah PGII USD600 Miliar, Ekonom: Pemerintah Harus Ikat Komitmen Itu untuk Mempercepat Transisi Energi

Menurutnya, instrumen kebijakan fiskal dan moneter juga patut difokuskan untuk menjaga inflasi pada titik keseimbangan. “Keseimbangan inflasi menjadi penting di mana inflasi harus dijaga agar tidak terlampau tinggi dengan instrumen moneter dan fiskal,” terangnya.

Nailul menambahkan, dari sisi moneter, kenaikan suku bunga acuan memang dinilai bisa mengendalikan inflasi, namun berdampak kepada perekonomian yang melambat. Sedangkan dari sisi fiskal, instrumen stok barang harus dilakukan untuk mengendalikan harga komoditas dalam negeri. Menurutnya, BI telah mengambil peran dengan menaikkan suku bunga, sehingga sekarang adalah tugas Pemerintah untuk menjalankan kebijakan fiskal.

“Makanya memang Pak Perry menekankan sinergi, karena BI udah naikin suku bunga acuan berkali-kali. Giliran Pemerintah eksekutif dari sisi fiskalnya,” pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal