LampuHijau.co.id - Laboratorium Suara Indonesia (LSI) mengukur suara publik jelang Pemilu 2024 di saat memasuki perekonomian global yang gelap.
Albertus Dino S. Fil, Direktur Eksekutif LSI mengatakan, metodologi survei dilakukan LSI pada tanggal 30 September sampai 10 Oktober 2022 di 420 kabupaten/kota di 34 provinsi dengan jumlah sampel 2.280 responden. Ia mengungkapkan, hasil temuan survei adalah kepercayaan dan kepuasan publik terhadap pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dalam menghadapi dampak kegelapan ekonomi global.
"Dari hasil survei terhadap 2.280 responden terkait tingkat kepercayaan publik secara political trust, terkait pemerintahan Presiden Jokowi dalam menghadapi dampak gelapnya ekonomi global terhadap perekonomian nasional, maka sebanyak 82,7 persen responden sangat yakin bisa mengatasi. Publik menilai bahwa pemerintahan Jokowi bisa memenuhi janji-janji politiknya dalam menghadapi Kegelapan Ekonomi global," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (14/10/2022).
Dan secara social trust, sebanyak 84,7 persen percaya bahwa publik menaruh harapan pada pemerintahan Jokowi sangat tinggi, untuk bisa menghadapi ancaman kegelapan ekonomi global yang akan berdampak pada perekonomian nasional.
Dia menjelaskan, dari hasil survei sebanyak 83,6 persen responden puas dengan program program dan kinerja pemerintahan Jokowi dalam melakukan recovery atau pemulihan dan perekonomian nasional pasca Covid-19. Serta saat perekonomian global sedang mengalami krisis menuju situasi kegelapan, tentu saja hasil temuan survei ini memiliki hubungan yang kuat dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang bertumbuh secara positif, di mana pada triwulan pertama tahun ini bisa tumbuh sebesar 5,01% (yoy), tidak jauh berbeda dengan capaian triwulan sebelumnya 5,02% (yoy). Dan triwulan kedua 2022 tumbuh sebesar 5,44 persen (yoy).
*Dinamika Politik Nasional Jelang Pemilu 2024*
Menurut dia,terkait kriteria dan sosok presiden RI yang diinginkan masyarakat, dikaitkan dengan program-program pembangunan yang sedang dijalankan oleh Presiden Jokowi, sebanyak 66,2 persen menginginkan kriteria dan sosok presiden yang bisa melanjutkan program-program pembangunan Jokowi.
"Lalu sebanyak 18,7 persen menginginkan kriteria dan sosok presiden yang tidak mengekor, dan tidak menjawab sebanyak 15,1 persen," ujarnya.
Tahun 2023 diprediksi keadaan ekonomi global gelap atau krisis ekonomi global. Sedangkan tahun 2024, ekonomi global belum akan pulih. Artinya, kepemimpinan nasional setelah Presiden Jokowi membutuhkan sosok yang memiliki kemampuan dan pengalaman dalam menghadapi dampak krisis ekonomi global terhadap perekonomian nasional.
Survei juga menanyakan pada responden dari enam tokoh yang menjabat di pemerintahan dan legislatif, terkait tokoh mana yang paling mumpuni sebagai presiden setelah Presiden Jokowi. Hasilnya, nama Airlangga Hartarto paling banyak dipilih dan diinginkan dengan 26,1 persen. Sementara Prabowo Subianto dipilih 24,2 persen, Ganjar Pranowo 10,1 persen, Andika Perkasa 6,2 persen, Anies Baswedan 4,7 persen, Puan Maharani 3,6 persen, dan tidak memilih 25,1 persen.
Lanjutnya, survei ini juga dilakukan simulasi pasangan tokoh bakal capres-cawapres mana yang akan dipilih jika pilpres digelar hari ini? "Dari hasil jawaban responden, pasangan Airlangga Hartarto-Khofifah Indar Parawangsa dengan simulasi diusung oleh KIB (Golkar-PPP-PAN) dipilih sebanyak 28,6 persen, Ganjar Pranowo-Puan Maharani (PDI Perjuangan) 20,1 persen, Prabowo Subianto- Muhaimin Iskandar (Gerindra-PKB) 19,2 persen, dan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (Nasdem-PKS-Demokrat) 15,7 persen, tidak memilih 16,4 persen," imbuhnya.
Terkait tingkat keterpilihan parpol jika dilakukan pemilu hari ini, maka sebanyak 16,1 persen responden memilih Golkar, Gerindra 15,2 persen, PDIP 14,7 persen, PKB 7,1 persen, PKS 5,1 persen, Demokrat 4,4 persen, PAN 4,2 persen, PPP 3,1 persen. Lalu, Perindo 3,1 persen, Nasdem 2,1 persen, Prima 2,1 persen, PSI 1,1 persen, Garuda 1,1 persen, Buruh 0,9 persen, Umat 0,8 persen, PBB 0,8 persen, Hanura 0,7 persen, Gelora 0,6 persen, PKPI 0,3 persen, Berkarya 0,2 persen, dan tidak memilih 16,3 persen.
Baca juga : Airlangga Capres Idaman Masyarakat di Pilpres 2024
Sementara kesimpulan hasil temuan survei, tingginya tingkat keterpilihan dari Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dibanding tokoh-tokoh lainnya, memiliki hubungan yang kuat dengan jawaban publik terkait tingkat kepercayaan secara politik dan sosial yang sangat tinggi di atas 80 persen terhadap pemerintahan Presiden Jokowi dalam menghadapi dampak gelapnya ekonomi global terhadap perekonomian nasional. Juga terhadap program-program dan kinerja perekonomian nasional Pemerintahan Jokowi, dalam pemulihan ekonomi pasca Covid-19, serta antisipasi dalam menghadapi gelapnya perekonomian global.
Hal ini lantaran Airlangga Hartarto merupakan tokoh atau menteri yang diberi tugas oleh Jokowi untuk mengurusi perekonomian nasional. Dan di sisi lain, Airlangga dinilai sebagai sosok yang memiliki kriteria untuk melanjutkan program-program pembangunan Jokowi," ucapnya.
Begitu juga dengan Prabowo Subianto yang memiliki pengalaman di kabinet Jokowi, yang ada diurutan kedua setelah Airlangga Hartarto. Ia dinilai memiliki kemampuan untuk mengantisipasi dampak dari gelapnya perekonomian global dan dipercaya akan melanjutkan program-program Jokowi nantinya.
"Sementara rendahnya tingkat keterpilihan Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan, karena publik tidak yakin dengan kemampuan mereka berdua untuk menghadapi dampak gelapnya perekonomian global terhadap perekonomian nasional. Pasalnya, pengalaman mereka hanya sebatas gubernur saja," bebernya.
Sementara Pengamat Politik dari Universitas Andalas Arifki Chaniago menilai, survei dari Labolatorium Suara Indonesia itu bukti bahwa sosok Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto masih sangat kuat sebagai capres 2024.
"Saya lihat survei LSI sudah melihat bahwa sosok Airlangga Hartarto masih sangat kuat sebagai Capres 2024,, karena kerja nyatanya," katanya kepada media, Jumat (14/10/2022).
Baca juga : Survei TBRC: Airlangga Sosok Kuat Capres 2024
Arifki meyakini, Airlangga Hartarto sebagai sosok yang tepat menjadi penerus Jokowi. Karena bukti kerja nyatanya sebagai Menko Perekonomian telah membawa perubahan dan membantu Presiden Jokowi.
"Ya, Pak Airlangga tepat menjadi penerus Jokowi. Karena dengan kinerjanya sebagai Menko Perekonomian telah terbukti kerja nyatanya," kata dia.
Menurut dia, adanya survei LSI menunjukkan bahwa Airlangga memang sebagai sosok yang lebih mementingkan kinerjanya untuk masyarakat demi membantu menjalankan program Presiden Jokowi. Meskipun munculnya Anies Baswedan sebagai capres dari partai Nasdem, dan adanya sosok Prabowo serta Puan Maharani, tetapi sosok Airlangga masih sangat kuat diinginkan masyarakat Indonesia. Ditambah adanya dukungan KIB. Selain itu, kata dia, Airlangga-Khofifah juga bisa menjadi pasangan yang tepat. (Yud)