Ekonomi Indonesia Diprediksi Mampu Hadapi Krisis Global, Ekonom: Asal Pemerintah Jaga Konsumsi Masyarakat

Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto. (Foto: ist)
Kamis, 13 Oktober 2022, 22:40 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Ekonomi Indonesia diperkirakan akan mampu bertahan di tengah ancaman suramnya perekonomian global. Hal itu diyakinkan setelah Pemerintah Indonesia memiliki kebijakan moneter dan fiskal yang adaptif.

“Fiskal kita disiplin, dimana tahun depan defisit akan kembali ke 3%,. Sementara negara lain berjibaku dengan tingkat utang yang tinggi. Dengan pengelolaan utang yang relatif baik, dengan kebijakan moneter yang tidak seagresif Amerika. Tambahan postur ekonomi kita sendiri sangat didorong konsumsi rumah tangga,” tutur Ekonom Bank Permata Joshua Pardede, di Jakarta, Kamis (13/10/2022).

Dikatakannya, konsumsi rumah tangga telah berkontribusi lebih dari 50% dari total PDB Nasional. Kemudian, penopang berikutnya adalah ekspor. “Artinya, saat ekonomi dunia melambat, ekspor akan melambat, tetapi fakta kontribusi ekspor tidak besar daripada konsumsi,” ungkap Joshua.

Baca juga : Bansos Solusi Pemerintah Hadapi Krisis Ekonomi Global, Ekonom: Strategi Tepat, tapi Harus Ada Relokasi Anggaran

Oleh sebab itu, pekerjaan rumah pemerintah adalah menjaga konsumsi masyarakat. “Saya kira, asal konsumsi kita tetap terjaga, pemerintah memprioritaskan belanja-belanja untuk mendukung daya beli masyarakat, untuk mendukung pelaku UMKM yang notabene adalah backbone ekonomi kita sendiri,” tandas Joshua.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ekonomi Indonesia akan mampu menghadapi ancaman krisis ekonomi global. “Indonesia faktor eksternalnya masih sangat kuat. Sehingga Indonesia tidak termasuk dalam negara yang rentan terhadap masalah keuangan,” kata Menko Airlangga beberapa waktu lalu.

Namun, Ketua Umum Partai Golkar ini mengingatkan bahaya Perfect Storm, tantangan 5C yaitu Covid-19 yang belum selesai, conflict Ukraina yang berkepanjangan, climate change atau perubahan iklim, commodity price yang melonjak, dan cost of living dampak dari inflasi.

Baca juga : Ekonomi Digital Indonesia Capai 150 Miliar US di 2025, Ekonom: Tak cuma Infrastruktur, Pemerintah Harus Tingkatkan SDM

Sementara pada kesempatan berbeda, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengungkapkan hal senada. Ia memprediksi kondisi ekonomi Indonesia masih bisa bertahan menghadapi ancaman resesi global. Pasalnya, konsumsi rumah tangga menempati porsi lebih besar dalam ekonomi Indonesia. Menurutnya, itulah yang mampu membantu mengatasi pelemahan ekonomi akibat faktor global.

"Ekonomi kita masih cukup terjaga karena 50 persen lebih ekonomi kita ditopang oleh ekonomi domestik. Makanya dengan permintaan masyarakat yang tinggi, pertumbuhan ekonomi kita masih di kisaran 5 persen," terangnya, Kamis (13/10/2022).

Meski demikian, ekonomi domestik bisa menjadi bumerang bagi Indonesia jika daya beli masyarakat menurun. Padahal, menurut Nailul, tidak mudah memulihkan daya beli masyarakat ketika sudah terlanjur jatuh. Pemerintah pun diminta menjaga inflasi inti agar tidak melonjak terlalu tinggi.

Baca juga : Puan Ingatkan Ancaman Krisis Pertalite, Gus Falah Desak Regulasi Prorakyat

"Namun demikian, jika daya beli masyarakat terpukul, bisa lama pulihnya karena pemulihan daya beli ini cukup lama dibandingkan ekspor-impor kita. Makanya dari awal disampaikan perlu menjaga daya beli masyarakat dengan menjaga tingkat inflasi, terutama inflasi inti," tegasnya.

Atas dasar itu, Nailul mengingatkan pemerintah untuk menahan inflasi sebisa mungkin tidak melebihi 10%. Karena dampak susulannya akan sangat berbahaya bagi konsumsi rumah tangga yang menopang perekonomian Indonesia.

"Jika inflasi menggila sampai ke angka dua digit, bisa berbahaya bagi konsumsi rumah tangga," pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal