KIB Umumkan Capres di Akhir Pendaftaran Pemilu, Ini Penjelasan dan Analisa Pengamat...

Kamis, 13 Oktober 2022, 21:39 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Pengamat Politik dari Universitas Diponegoro, Teguh Yuwono mengatakan, pilihan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang akan mengumumkan Calon Presiden (Capres) sampai batas akhir pencalonan Presiden 2024, membuktikan bahwa koalisi ini masih harus memperdalam komunikasi politik dalam menemukan sosok yang tepat, meski sosok itu berasal dari luar internal anggota KIB.

“KIB masih di antara partai pengusung, masih berbeda pandangan, sehingga perlu komunikasi dan simulasi,” ujar Teguh, Kamis (13/10/2022).

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengatakan, deklarasi capres yang akan diusung oleh KIB akan dilakukan menjelang pendaftaran pemilu pada September 2023 mendatang. Airlangga juga mengatakan, KIB masih akan membuka diri untuk partai lain bergabung, termasuk dengan PDI Perjuangan.

“Jilid terakhir. Jadwal pemilu kan September 2023 pendaftarannya,” kata Airlangga, beberapa waktu lalu.

Baca juga : Ikut Senam di Lomba Piala Puan Maharani, Puan: SICITA buat Badan dan Jiwa Sehat

Menurut Teguh, ada dua hal yang menyebabkan KIB masih membutuhkan waktu dalam menentukan calon mereka. “Saya kira poin pertama, kenapa itu memang KIB tidak memiliki calon yang kuat menjadi sentral dari media darling, sehingga memang adanya mengambil pendekatan legalistik bahwa calon itu dicalonkan jelang pendaftaran,” terangnya.

Terlebih, ada dua nama yang sudah mengemuka dicalonkan sebagai Capres. Mereka adalah Prabowo Subianto dari Gerindra dan Anies Baswedan yang diusung Partai Nasdem. Sedangkan KIB maupun parpol lain, masih menunggu langkah dari PDIP.

"Saya yakin mereka masih nunggu PDIP. Karena PDIP juga belum mengambil sikap, saya kira tidak ada pilihan kecuali menunggu sampai garis akhir,” jelas Teguh.

Kemudian terkait hasil survei yang mengangkat nama pasangan Ganjar-Airlangga, menurut dia, masih ada ganjalan dari keduanya. “Soal Ganjar, ini kan saling menyandera antara Ganjar-PDIP dan partai lain. Feeling saya, Pak Ganjar tidak akan terlalu awal. Meski surveinya Ganjar-Airlangga tinggi, itu juga tidak jadi jaminan bagi Ganjar untuk mau diusung Golkar,” tandas Teguh.

Baca juga : Hasil Survei, Mayoritas Pendukung Puan Warga Pedesaan, Ini Penjelasannya...

Sementara pada kesempatan berbeda, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai, hal itu disebabkan KIB memang sedianya ditujukan untuk mewadahi Capres potensial yang tidak mempunyai tiket Pilpres 2024. Karena itu, besar kemungkinan KIB mengusung sosok seperti Ganjar Pranowo.

"KIB, menurut saya, disiapkan untuk Capres eksternal. Seperti kendaraan untuk Ganjar Pranowo," ungkapnya.

Pangi menjelaskan, kader KIB akan lebih diposisikan sebagai pengisi kursi cawapres berpasangan dengan Capres yang diambil tokoh ekstenal.

"Kalau ada dari kader KIB itu posisinya, saya lihat potensinya pada cawapres. Tapi capresnya tetap dari tokoh eksternal atau capres potensial namun belum mendapat dukungan dari parpol tertentu," terangnya.

Baca juga : BAZNAS Raih Penghargaan Indonesia Customer dan Sales Team Champion

Meski demikian, menurut Pangi, peluang Ganjar maju di Pilpres 2024 akan lebih besar ketika Ganjar maju dari PDIP dibanding dari KIB. "Ganjar dengan PDIP peluangnya besar ketimbang dengan KIB," tambahnya.

Pangi mengungkapkan, kecil kemungkinan PDIP bergabung dengan KIB. Karena gengsi politik dari PDIP sebagai partai besar. Kerja sama politik PDIP dan KIB akan mungkin terjadi ketika PDIP menjadi partai penentu dalam koalisi tersebut.

"Tapi setahu saya, prospek atau minat PDIP, saya pikir tidak. Levelnya PDIP bukan level pengikut, dia partai penentu. Jadi, gengsi politiknya bukan pelengkap atau meramaikan koalisi saja," pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal