Pemerintah Optimis Faktor Eksternal dan Internal Ekonomi Kuat, Pengamat: Bank Sentral Harus Naikkan Suku Bunga

Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto. (Foto: ist)
Rabu, 12 Oktober 2022, 18:36 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, fundamental perekonomian Indonesia mampu memperlihatkan kinerja yang tetap impresif. Faktor eksternal dan internal Indonesia, dikatakannya, bisa menopang pertumbuhan ekonomi di tengah krisis global.

“Indonesia faktor eksternalnya masih sangat kuat. Sehingga Indonesia tidak termasuk dalam negara yang rentan terhadap masalah keuangan. Dari internal, ekonomi kita kuat karena kita punya domestic market. Sekarang konsumsi turut menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi, terlebih diprediksi di tahun depan pun pertumbuhan ekonomi kita diantara 4,8%-5,2%,” jelas Menko Airlangga, Selasa (11/10/2022) kemarin.

Selain itu, Menko Airlangga yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini memaparkan, nilai tukar rupiah memang mencatatkan depresiasi hingga 6%. Namun, itu menurutnya masih lebih kuat dibandingkan pelemahan mata uang negara-negara lain.

Hal ini pun diamini oleh Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat yang mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dollar tidak seperti mata uang negara lain. “Memang rupiah turun juga terhadap dollar, tetapi dibandingkan mata uang lain pelemahan kita tidak parah. Jika dibandingkan pound turunnya sampai 50%, Euro 30%, kita cuma 6%,” jelasnya di Jakarta, Rabu (12/11/2022).

Baca juga : Pemerintah Optimis Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5%, Ekonom: Bukan Bualan, Tapi Harus Terukur

Salah satu faktornya adalah Bank Indonesia (BI) yang belum agresif menaikkan suku bunga acuan, jika dibandingkan Amerika maupun Eropa. Teguh mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat impresif dan tangguh menghadapi ancaman resesi. Terlebih, jika dibandingkan dengan negara negara Eropa yang mengalami krisis energi karena perang Rusia-Ukraina.

“Sebaliknya, kita diuntungkan karena krisis energi. Kita eksportir batubara. Di Indonesia kita diuntungkan nilai ekspor, neraca perdagangan surplus, alhasil pertumbuhan ekonomi kuat, dan rupiah kuat terhadap dollar,” jelas Teguh.

Di sisi lain, keuntungan Indonesia dari komoditas termasuk sektor energi membuat Indonesia tangguh di tengah tantangan global. Kemudian kondisi pasar saham juga disebut Teguh masih menarik. “Secara fundamental tidak masalah kalau IHSG turun, karena dihitung dari awal 2022 kita masih naik 5-6%, sementara yang lain seperti Thailand Singapura sudah minus,” ungkap Teguh.

Sementara pada kesempatan berbeda, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengungkapkan, perekonomian Indonesia masih bisa bertahan untuk saat ini. Meski demikian, Yose mengingatkan kondisi ke depan akan semakin berat.

Baca juga : Pertemuan Airlangga-Prabowo, Pengamat: Bisa jadi Penjajakan Koalisi untuk 3 Pasangan Calon

"Perekonomian kita pasti akan masih bisa bertahan, tetapi kondisi akan semakin buruk ke depan," ujarnya di Jakarta, Rabu (12/10/2022).

Menurutnya, saat ini pemerintah masih bisa menahan kenaikan harga barang sehingga inflasi masih terjaga. Kondisi akan lebih sulit ke depan karena penerimaan pemerintah dari ekspor komoditas, seperti mineral dan kelapa sawit akan mengalami penurunan. Hal itu akan membuat pemerintah harus mengurangi subsidi.

Selain itu, Yose juga mengungkapkan, Bank Indonesia (BI) juga harus menaikkan suku bunga acuan sebagaimana yang dilakukan bank sentral negara lain, terutama The Fed. Sebab saat ini, penurunan devisa Indonesia sudah hampir 10%.

"Kita tidak bisa terus-terusan mengalami devisit seperti itu. Jadi Bank sentral juga harus menaikkan suku bunga. Akibatnya depresiasi mungkin harus terjadi dengan agak lebih kencang dibanding sekarang," tuturnya.

Baca juga : Piala Dunia U-20 Ajang Pembuktian Pengembangan Industri Olahraga, Pengamat: Kemen Parekraf Harus Mulai Bergerak

Menurutnya, strategi untuk tidak tidak menaikkan suku bunga acuan juga berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah pada USD. "Itu terjadi karena Bank Sentral kita selama ini tidak menaikkan suku bunga, sehingga terjadi perbedaan signifikan antara suku bunga dalam negeri dengan suku bunga Bank Sentral lain. Akibatnya terjadi capital outflow. Mungkin pelemahan rupiah ini akan semakin kelihatan ke depan," tandasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal