Beberapa Koalisi Sudah Terbentuk, Pengamat: Masih Cair, Parpol Cenderung Pragmatis Menuju 2024

Salah satu koalisi menjelang Pemilu 2024 yang sudah terbentuk adalah Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), terdiri atas PAN, Golkar, dan PPP. (Foto: net)
Selasa, 23 Agustus 2022, 19:44 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Direktur Eksekutif Algoritma Aditya Perdana mengatakan, sejumlah elite partai politik saling beranjangsana, meski beberapa koalisi sudah terbentuk. Koalisi di Indonesia dinilainya begitu cair dengan parpol yang berpikiran pragmatis.

"Parpol di Indonesia pragmatis iya, karena mereka melihat ikatan-ikatan itu ya, dibuat cair saja, memudahkan untuk berinteraksi satu sama lain,” kata Aditya Perdana, di Jakarta, Selasa (23/8/222).

Adapun koalisi yang sudah terbentuk adalah Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), Koalisi Gerindra-PKB, juga poros Nasdem-PKS-Demokrat.

“Memang demikian adanya, bahwa sampai saat ini, detik ini, belum ada kesepakatan yang jelas soal koalisi. Dalam bahasa mudahnya, masih saling lirik melirik, masih tahap awal, belum ada yang mengikat satu sama lain, meski secara formal mereka bilang, KIB ada, Nasdem-PKS-Demokrat, belum ada pengantinnya belum ada,” jelas Aditya.

Baca juga : Lincah Bangun Komunikasi, Pengamat: Puan Aktor Penentu di Pilpres 2024

Meski telah bergabung dengan sebuah koalisi maupun merapat pada poros tertentu, parpol dikatakannya, masih terus menjajaki peluang, sehingga bisa saja nantinya ada perubahan. Seiring itu, parpol sedang lirik melirik, di mana lembaga survei memasangkan sejumlah nama elite sebagai eksperimen.

“Eksperimen itu dalam konteks menggalang dukungan atau memastikan bahwa si A cocok dengan si B atau B cocok dengan yang lain. Mungkin bisa terjadi atau tidak,” terang Aditya.

Sehingga dengan nama-nama yang beredar ini, bisa menjadi panduan atau bahkan nilai tawar bagi elite tersebut dan parpolnya.

“Pada dasarnya parpol belum punya satu kesamaan dan ideologis, untuk memudahkan mereka untuk melekat satu sama lain, jadi masih sangat cair," tandas Aditya.

Baca juga : Koalisi yang Ada Belum Menampilkan Tokoh, Pengamat: PDI-P Siapkan Puan di Pilpres 2024

Sementara Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) A. Khoirul Umam mengemukakan sejumlah analisis terkait kabar bergabungnya partai dalam gerbong Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Menurutnya, wacana tentang rencana masuknya partai politik lain ke KIB masih sebatas wacana. Kabar itu memang santer sejak bulan lalu, namun hingga pertemuan KIB di Jawa Timur minggu lalu, hal itu belum terbukti.

“Hal itu mengindikasikan, partai-partai masih belum yakin dan butuh menimbang ulang keputusan untuk bergabung dengan KIB,” ujarnya.

Jika nantinya akan ada partai lain dalam gerbong KIB, maka KIB akan mendapati sejumlah keuntungan, yakni memperbesar peluang memenangkan Pilpres 2024. “Plus-minus koalisi besar memang terletak pada potensi kemungkinan menangnya yang lebih besar dan dukungan parlemen yang kuat, saat nanti di pemerintahan,” tambahnya.

Sebelumnya, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) menanggapi Partai Demokrat yang mengungkapkan butuh koalisi besar untuk memenangkan Pemilu 2024 dan menjalankan pemerintahan. PAN, sebagai salah satu anggota KIB, menyetujui wacana koalisi besar, dan mengajak Demokrat untuk bergabung bersama KIB dengan Golkar dan PPP. Meski demikian, koalisi besar tidak menjamin penuh kemenangan.

Baca juga : Koalisi Parpol Mulai Terbentuk, Pengamat: Belum Permanen hingga Ada Penentuan Capres-Cawapres

“Sejarah Pilpres 2004 dan 2014 telah membuktikan. Saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didukung koalisi kecil pada Pilpres 2004. Begitu pula Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2014. Keduanya menang berkat popularitas dan elektabilitas,” pungkas Khoirul Umam. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal