LampuHijau.co.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya menandatangani dan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 101 Tahun 2022 tentang Strategi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak pada Jumat (15/7/2022). Peraturan ini terbit di tengah maraknya kasus pelecehan seksual di lembaga pendidikan.
"Bahwa untuk melindungi anak dari kekerasan dan diskriminasi, perlu dilakukan peningkatan upaya pencegahan dan penanganan kekerasan dan diskriminasi terhadap anak,” demikian bunyi poin pertimbangan pada peraturan tersebut, sebagaimana dikutip Senin (18/7/2022).
Baca juga : APPKSI Minta Jokowi Perhatikan Nasib Petani Sawit: Tolong Tanggung Jawab!
Selain itu, poin pertimbangan lainnya menyebutkan bahwa saat ini jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia masih tinggi, sehingga perlu optimalisasi peran pemerintah.
Berdasarkan data pemerintah, dari 2016 sampai 2020 tercatat 54.366 anak korban kekerasan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 37.435 korban merupakan anak perempuan, dan 16.931 merupakan anak laki-laki. Data tersebut juga menunjukkan bahwa secara umum terjadi kenaikan korban kekerasan dari 7.879 anak pada 2016 menjadi 10.770 anak pada 2020.
Baca juga : Ketua DPR RI Diajak Presiden Jokowi Tinjau IKN Nusantara hingga Kunker ke Samarinda
Lebih lanjut, pertimbangan lain Jokowi menerbitkan aturan ini yakni, peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penghapusan kekerasan terhadap anak saat ini belum optimal memberikan pencegahan dan penanganan. Hadirnya Perpres ini bertujuan untuk membentuk strategi nasional yang akan menjadi acuan bagi pemerintah pusat maupun daerah, dalam mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak.
Ada tujuh strategi yang dimaksud dalam peraturan ini yang. Pertama, penyediaan kebijakan, pelaksanaan regulasi, dan penegakan hukum. Kedua, penguatan norma dan nilai antikekerasan. Ketiga, penciptaan lingkungan yang aman dari kekerasan. Keempat, peningkatan kualitas pengasuhan dan ketersediaan dukungan bagi orang tua/pengasuh.
Baca juga : Jawab Isu Harun Masiku dan Hasil Survei, Firli Buktikan dengan Kerja
Kemudian kelima, pemberdayaan ekonomi keluarga renta. Keenam, ketersediaan dan akses layanan terintegrasi. Dan ketujuh, pendidikan kecakapan hidup untuk ketahanan diri anak. (Asp)