LampuHijau.co.id - Sinyal kuat diberikan oleh Partai Nasional Demokrat (NasDem) untuk membentuk koalisi bersama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Demokrat, menuju Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024 mendatang. Demikian yang terungkap saat Ketua DPP Nasdem Sugeng Suparwoto merespons Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, yang memprediksi empat poros di Pilpres 2024 yang sudah mulai tampak, yakni, PDIP; Gerindra-PKB; Koalisi Indonesia Bersatu yang beranggotakan Golkar-PAN-PPP; dan Koalisi NasDem-PKS-Demokrat.
“Sangat mungkin bisa saja terjadi dan itu bahkan menjadi exercise kami dari NasDem,” kata Sugeng dalam Newscast Special Road to 2024 CNNIndonesia TV, Selasa (28/6/2021) malam.
Baca juga : Banyak Kontribusi Untuk Masyarakat, Fraksi Demokrat Minta Pemprov Perhatikan FAJI
Lebih lanjut ia mengungkapkan, NasDem kemungkinan besar tidak mengusung kader internal partai, melainkan mengusung kader partai lain pada kontestasi politik 2024 mendatang. Menurutnya, Nasdem ingin fokus pada kepentingan partai melainkan mencari calon pemimpin Indonesia, yang memang dinilai memiliki kapabilitas dan pantas.
Di sisi lain, hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai NasDem, dikatakannya, telah merekomendasikan tiga nama calon presiden yang berpotensi bakal diusung dalam Pilpres 2024. Tiga nama tersebut merupakan usulan para kader NasDem di daerah selama tiga hari Rakernas di JCC Senayan, Jakarta mulai 15-17 Juni lalu.
Baca juga : Rempuni Deklarasi Dukung Puan Maharani Capres 2024
Tiga nama bakal capres NasDem tersebut adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Padahal menurutnya, internal partai NasDem juga telah memiliki kader unggul seperti Rachmat Gobel.
“Kami sempat menyosialisasikan dan menjelaskan sekaligus siap di antara tiga ini untuk kepentingan bangsa,” ujarnya.
Baca juga : Pengamat Politik USU: Airlangga Berpeluang Menang di Pilpres 2024
Sementara Sugeng juga yakin, elektabilitas NasDem tidak akan merosot kendati tidak mengusung kader partainya sendiri.
Ia mencontohkan pada Pilpres 2014-2019 lalu, partainya tetap eksis kendati saat itu mengusung kader partai lain, yakni Joko Widodo dari PDIP. “2014-2019 terbukti kader naik signifikan 64 persen, bahkan secara proporsional dari 36 menjadi 59 kursi,” tandas Sugeng. (Asp)