LampuHijau.co.id - Analisa politik dari Pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Teguh Yuwono mengatakan, hasil survei Citra Network Nasional (CNN) menyebutkan elektabilitas Airlangga Hartato semakin melejit sejak menjadi Ketua Umum Partai Golkar dan Menteri Perekonomian.
"Saya melihat hasil survei CNN yang membuat elektabilitas Airlangga adalah bukti kinerjanya sebagai Ketum Golkar membuat partai besar itu naik elektabilitasnya," kata Teguh kepada wartawan, Rabu (8/6/2022).
Teguh mengungkapkan, Airlangga sebagai tokoh yang mampu membawa Partai Golkar jauh lebih baik, sehingga berdampak pada elektabilitas sebagai capres 2024. "Airlangga sosok yang tepat menjadi nahkoda Partai Golkar karena beliau telah membuktikan dengan kegiatan dan kinerjanya selama ini," ujarnya.
Baca juga : FPI Reborn Dukung Anies Baswedan di Pilpres 2024
Meskipun banyak figur lainnya yang muncul, namun peluang Airlangga sebagai capres di Pilpres 2024 sangat kuat, jika melihat hasil survei CNN. Hal ini tergambar dari hasil survei CNN bahwa sebanyak 70 s/d 85 persen dari 2.200 responden sangat tahu dan mengenal Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Tetapi dari capaian kinerja mereka, sebanyak 90,8 persen menyatakan tidak pernah merasakan kinerja mereka sebagai pejabat publik serta kebijakan mereka tidak berdampak pada kehidupan masyaraka.
Artinya, mereka populer namun karyanya tidak dinikmati mayoritas masyarakat Indonesia di 34 provinsi. Berbeda dengan Airlangga Hartarto, walaupun hanya 50 persen masyarakat yang mengenal dan tahu, tetapi sebanyak 89,8 persen publik yang diwakili oleh 2200 responden menyatakan mereka merasakan dan menikmati kinerja dari kebijakan kebijakan yang dibuat oleh Airlangga, serta kebijakan dan program Airlangga berdampak positif terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat selama era pandemi covid yang berpengaruh negatif terhadap perekonomian keluarga.
Dari hasil survei, jika pemilihan presiden di gelar hari ini simulasi nama-nama terpilih, ternyata nama Airlangga Hartarto dipilih paling banyak oleh 29,2 persen dari 2.200 responden. Sementara Prabowo dipilih sebanyak 12,2 persen, Ganjar Pranowo 11,8 persen, Anies Baswedan sebanyak 5,1 persen, dan Andika Perkasa 4,4 persen. Lalu Khofifah Indar Parawansa 3,2 persen, dan tokoh lainnya di bawah 2 persen. Sementara yang tidak memberikan pilihan sebanyak 22,1 persen.
Baca juga : Pengangkatan Ririek Adriansyah Jadi Presdir Telkomsel Dinilai Cacat Hukum
Tingginya tingkat keterpilihan Airlangga dibandingkan tokoh lainnya, seperti Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan yang tergambar seperti merakyat, dan Prabowo Subianto yang bersosok tegas, menunjukkan ada korelasi yang kuat antara keinginan masyarakat yang menginginkan sosok presiden penganti Jokowi, bisa mengangkat perekonomian masyarakat yang terpuruk akibat covid. Di mana hampir 96,4 persen masyarakat menginginkan presiden yang mampu mengangkat perekonomian masyarkat.
Sedangkan sosok presiden merakyat dan populer hanya diinginkan oleh sebanyak 38,2 persen, sosok yang tegas dan comanding hanya diinginkan oleh 35,2 persen. Begitu juga korelasi dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi dalam hal pemulihan ekonomi yang tinggi mencapai 84,2 persen. Di mana Airlangga dinilai sebagai seorang figur yang mampu membangkitkan kondisi perekonomian nasional.
"Kemampuan itu ada pada Airlangga yang memang selama ini dikenal piawai dalam menangani masalah ekonomi. Apalagi posisinya yang saat ini menjabat Menteri Perekonomian," kata Direktur Eksekutif Citra Network Nasional Ahmad Zaki.
Sementara untuk preferensi publik terhadap pilihan partai politik jika pemilu digelar hari ini, terjadi persaingan yang sangat sengit di masyarakat antara tiga besar pemenang pemilu 2019 yang ada di koalisi pemerintahan presiden Jokowi. Dan hasilnya, Partai Golkar menjadi partai dengan tingkat keterpilihan tertinggi mencapai 18,2 persen, disusul Gerindra 17,7 persen, PDI Perjuangan 16,3 persen, PKB 5,1 persen, PAN 4,8 persen, PPP 4,4 persen, Nasdem 4,2 persen, PKS 4,1 persen, Demokrat 4,1 persen, dan Perindo 2,4 persen, Prima 2,2 persen, PSI 1,7 persen Garuda 1,4 persen, PBB 1,1 persen, Hanura 0,9 persen, PKPI 0,4 persen, Gelora 0,3 persen, Berkarya 0,2 persen dan partai umat 0,1 persen, partai Buruh 0,1 persen, sementara tidak memilih sebanyak 10,3 persen. (Yud)