Rekam Jejak Sabam Sirait yang Berpolitik Sebagai Panggilan Hidup

Jumat, 25 Maret 2022, 01:02 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Sosok Sabam Sirait memang begitu terkenal di kancah perpolitikan nasional. Bahkan, tokoh nasional yang satu ini salah satu yang berdiri tegak saat melawan rezim orde baru. Kini, seluruh rekam jejak kehidupan politik Sabam terekam dalam buku ‘Sabam Sirait: Berpolitik Bersama 7 Presiden’.

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Pareira, yang coba mengenang mengatakan, ia melihat sosok Sabam mirip dengan petuah dari sosiolog terkemuka Max Weber. “Nasihat Max Weber ini sangat populer sangat terkenal dan banyak dipakai atau jadi pegangan mahasiswa politik di Eropa, politik sebagai panggilan, politik sebagai profesi. Kuliahnya ini, Max Weber menjelaskan tentang orang yang memahami politik sebagai panggilan hidupnya, politik sebagai pekerjaan utama dia dan politik sebagai pekerjaan sampingan, ini yang membedakan politisi itu,” tutur Andreas di Media Centre DPR RI, dalam diskusi bertajuk ‘Kebebasan Pers dan Relevansinya Kini', Kamis (24/3/2022).

Yang membedakannya, lanjut Andreas, adalah perilakunya. Sementara politik yang politisi memahami politik sebagai profesinya dia berjalan dengan substansi dan etika dan keyakinannya, itu muncul di dalam sikapnya.

Baca juga : Atasi Gejolak Harga, Pasar Jaya Siapkan Minyak Goreng Murah di Seluruh Gerai Pangan

“Sehingga kalau kita melihat Pak Sabam, kalau kita memperhatikan perjalanan bapak Sabam, itu dia lakukan selama perjalanan hidupnya dengan keyakinan itu ,” ujar Andreas.

Selain itu, ia menceritakan pengalaman PAW DPR RI bersama Sabam di tahun 2005 silam, dengan mengenang nasihat Sabam ‘Jangan belajar jadi pemimpin tetapi belajar lah menjadi Pengikut’. Menurut Andreas, nasihat ini sangat bermakna.

“Beberapa pengalaman bertemu dengan bapak Sabam ini luar biasa, saya melihat bapak Sabam orang yang memahami benar dirinya, hidupnya dengan politik sebagai panggilan hidup dia,” tandas Andreas.

Baca juga : Pemkot Tangerang Berikan Relaksasi Pajak

Pada kesempatan yang sama, jurnalis senior Kompas Joseph Osdar melihat sosok Sabam Surait adalah pribadi yang berani bertaruh dengan risiko. Hal ini bisa dilihat dari gaya Sabam menyampaikan interupsi dalam sidang Umum MPR tahun 1993.

“Jadi saya katakan, bukan hanya Bung Sabam berani, tetapi dikatakan, wah, PDI berani sekali. Pada saat itu demokrasi yang Bung Sabam kumandangkan bukan yang dia katakan, tetapi action-nya itu. Dan itu cukup berisiko bagi saya, apalagi pada saat itu saya di istana,” ungkap Joseph.

Senada dengan Josep, narasumber lainnya, CEO Tempo Bambang Harymurti juga memiliki ingatan historis dengan sosok Sabam, yaitu saat kebebasan pers dikekang. “Karena perannya beliau dalam kebebasan pers dan demokrasi itu pada waktu itu di saat pemberedelan Tempo, Detik, dan Editor. Dan pada saat itu, ketika AJI didirikan membuat protes disampaikan ke DPR dan yang hanya berani menerima adalah Bapak Sabam Sirait sebagai Anggota Komisi I. Pada saat itu mahal sekali, dan itu luar biasa,” ujar Bambang.

Baca juga : Johan Minta Perbaikan UU Cipta Kerja Harus Berpihak Terhadap Pangan Nasional

Kemudian jurnalis senior DPR Andoes Simbolon coba melihat dan mengenang sosok Sabam dari sisi lain. Dikatakannya, terlepas dari jiwa politik sosial dan aktivisme yang tinggi dalam pribadi Sabam, Andoes melihat sosok Sabam tak hanya tokoh nasional tetapi figur yang tak lupa dengan adat istiadat.

“Jadi, kebetulan marga saya Simbolon, beliau hormat dan memanggil saya Lae dan terkadang Hula-Hula sambil memperlihatkan ibu jarinya selayaknya orang Jawa,” kenang Andoes.

Sementara Buku ‘Sabam Sirait: Berpolitik Bersama 7 Presiden’ tersebut memiliki 254 halaman. Pada kesempatan diskusi, sebanyak ratusan buku juga turut dibagikan kepada para jurnalis yang hadir dan meliput. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal