Pilkada DKI 2024, Syarif: Efek Ekor Jas Sulit Diharapkan, Mesin Partai Harus Dipanaskan

Selasa, 25 Januari 2022, 18:33 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Wakil Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta meminta semua kader partai di Jakarta untuk kerja keras untuk menjadi tokoh di lingkungannya. Tujuannya, untuk memenangkan Calon Gubernur DKI yang akan diusung partai pada Pilkada Oktober 2024 mendatang.

Sebab sudah diputuskan DPR RI dan pemerintah, bahwa Pilpres dan Pileg pada Pebruari 2024. Dan Pilkada nya Oktober 2024. Artinya, efek ekor jas sudah tak bisa diharapkan untuk memenangkan Cagub. Satu-satunya cara, menghidupkan mesin partai.

"Dengan keluarnya keputusan DPR RI pemerintah itu, ada anomali efek ekor jas. Justru tak signifikan naikan elektabilitas partai. Ekor efek jas tidak berpengaruh karena 2024, justru pilpres dan pileg lebih dulu, dan Pilgub DKI malah November 2024," kata Syarif dalam Forum Group Diskusi di kantor DPD Partai Gerindra DKI, Selasa (25/1/2022).

Baca juga : Saat Pilkada Subang 2024, Koalisi Partai Pengusung Jimat-Akur Diprediksi Pecah

Syarif yang juga Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta ini menambahkan, semua elemen kader maupun mesin partai harus bergerak dari sekarang. Untuk mewujudkan impian Gubernur DKI 2024 berasal dari partai Gerindra.

"Efek ekor jas apa yang Gerindra harapkan. Ini yg kita diskusikan. Harus ada seperti almh Haji Lulung di Jakarta. Soalnya, jarak Pilpres dan Pileg ke Pilkada sangat jauh atau 9 bulan. Beda dengan Pilkada 2017, semua tokoh partai terjun ke Jakarta untuk dukung Anies-Sandi," ujarnya.

Cara lain, lanjut Syarif, semua kader harus mampu mensosialisasikan keberhasilan Anies-Ariza selama memimpin DKI lima tahun ini. Ini membutuhkan kerja keras dan ini bisa dilakukan.

Baca juga : Pemilu 2024 Jadi Ujian, DPR RI: Banyak Hal yang Harus Dipertimbangkan dengan Matang

"Kita harus cari jas-jas baru di Jakarta. Atau jas lokal seperti almarhum haji Lulung. Soalnya pada Pilgub 2024, efek tokoh Prabowo sudah tak bisa diharapkan. Karena jarak waktu yang cukup panjang. Seandainya Prabowo terpilih, mungkin Oktober 2024 sudah menyusun kabinetnya. Artinya, jasnya sudah ketinggalan karena pileg dan pilpres Pebruari 2024. Jadi tak punya efek ke Pilkada yang berlangsung Oktober 2024," papar Syarif.

Sementara Pengamat Politik Ujang Komarudin mengaku, dirinya sebenarnya bukan ahli. Tapi dia mampu membangun ketokohan seseorang.

"Mohon maaf, yang saya cermati selama ini kader Gerindra selalu terlena dengan ketokohan Prabowo. Jadi, tidak bekerja maksimal. Akhirnya mesin partai tak jalan. Beda dengan yang dilakukan PAN dan PKS serta PSI. Di mana pengolahan media sosial PKS dan PAN juga lebih bagus," ungkap Ujang.

Baca juga : Ketua DPR RI l: PPKM Level 4 Dilonggarkan, Pemerintah Harus Hati-hati

Peluang Gerindra menang di Pilkada DKI, kata Ujang, sangat besar. Ambil contoh, PKS saja 2004 juga bisa menang di Jakarta.

"Artinya, apa keahlian kita harus kita tonjolkan. Sebagai contoh, orang Yahudi terkenal dimana-mana dan selalu raih Nobel. Bila mesin partai Gerindra bergerak, saya optimis bisa mengantar Prabowo jadi Presiden 2024 serta Gubernur DKI yang juga berlangsung 2024," imbuh Ujang.

Forum Group Diskusi ini juga dihadiri Ahmad Riza Patria yang juga Ketua DPD Partai Gerindra DKI dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Ariza berharap, diskusi ini bisa mencari solusi yang bagus untuk membesarkan Partai Gerindra. (ULI)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal