LampuHijau.co.id - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, terobosan teknologi yang lebih banyak dan lebih besar perlu ditingkatkan sebagai sense of urgency dalam menghadapi perubahan iklim.
"Yakni perasaan atas urgensi perubahan iklim. Sebab yang kita saksikan adalah respons yang sangat lambat terhadap ancaman perubahan iklim. Padahal, riset masif mengenai perubahan iklim telah dilakukan sejak akhir tahun 1960-an dari kalangan ilmuwan," tuturnya dalam diskusi Gelora Talk bertema 'Ancaman Climate Change, Bagaimana Sektor Pertanian dan Kelautan Nasional Menghadapinya', Rabu (24/11/2021).
Riset tersebut, dikatakan Anis, mulai gencar dilakukan sejak manusia dapat terbang ke bulan dan memotret bumi. Di mana sejak saat itu, riset mengenai perubahan iklim mengalami peningkatan yang luar biasa.
“Sehingga seharusnya sekarang ada kebijakan yang lebih cepat dan terobosan teknologi. Di luar dari hal itu, kita juga bisa melakukan hal-hal kecil yang langsung dan ada dalam jangkauan kita, yaitu dalam program literasi iklim,” tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, Badan PBB untuk Cuaca menyebutkan, perubahan iklim melalui perubahan temperatur terus-menerus naik. Di mana tahun kemarin sudah 1,2° Celcius diatas periode pra industri.
“Tahun ini sedikit turun, yaitu 1,09° Celcius. Namun ini bukan berarti bumi semakin mendingin. Hanya memang ada variasi dari tahun ke tahun. Yang harus diwaspadai adalah tren kenaikan yang terus menerus terjadi,” jelasnya.
Dikatakannya, ada beberapa indikator yang digunakan untuk memonitor perubahan iklim. Yang pertama, tentunya emisi gas rumah kaca yang utamanya adalah gas karbondioksida atau CO2. Kemudian adalah temperatur; perubahan curah hujan; sea level rise dan acidification serta tutupan es attau cryosphere di kutub.
“Perlu saya sampaikan, di Indonesia juga ada cryosphere yang terdampak perubahan iklim,” tambahnya.
Sementara Wakil Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor Ahmad Fakih menjelaskan, berdasar laporan terbaru, perubahan iklim telah mempengaruhi setiap wilayah berpenghuni di seluruh dunia. Di mana manusia berkontribusi pada banyak perubahan pada kejadian cuaca dan iklim ekstrim. Temperatur meningkat, demikian pula dengan curah hujan.
“Di Indonesia, sebagian besar bencana disebabkan oleh hidrometeorologi, yang merupakan turunan dari curah hujan. Baik yang berkaitan dengan ekstrim basah maupun kering. Hal itu bisa berdampak ke berbagai aspek. Di bidang pertanian, bisa menyebabkan kegagalan panen. Lalu, banjir maupun kekeringan,” pungkasnya. (Asp)