LampuHijau.co.id - Anggota DPR RI, Yanuar Prihatin mengatakan, relawan adalah individu-individu yang secara cerdas mengambil bagian untuk suatu politik formal. Tapi, keberadaannya berada di luar kerangka formal politik yang terbentuk karena kesadaran.
Bahkan, politisi PKB itu mengapresiasi posisi relawan yang menurutnya justru sangat penting sebagai bagian dari mendinamisir demokrasi, mengakselerasi partisipasi yang jauh lebih berkualitas, serta bisa memberikan efek kepada pengurangan cost politik, karena relawan punya inisiasi yang luar biasa.
“Kemarin waktu Pilpres misalnya, pada zaman era Jokowi, saya perhatikan betul bagaimana kerja relawan. Bagaimana di tingkat nasional, provinsi, bahkan sampai tingkat lokal, sebagian di antaranya inisiatifnya muncul dengan sukarela. Bahkan, di beberapa kasus pilgub itu juga muncul,” ungkap Yanuar saat diskusi Dialektika Demokrasi bertema 'Fenomena Kemunculan Relawan Capres Sejak Dini: Siapa Punya Ambisi?' di Media Center MPR/DPR/DPD RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/11/2021).
Baca juga : Terkait Kasus Dugaan Pengancaman, Polda Metro Jaya Tetapkan Jerinx Tersangka
Menurutnya, dalam situasi tersebut relawan semacam interest group, tapi memberikan efek positif kepada proses demokrasi kita itu yang pertama. "Kedua, apakah kemunculan relawan kemudian kita kaitkan dengan ambisi politik? Saya kira ini terlalu jauh. Pasalnya, setiap event politik mesti ada target, ada goal, ada capaian, ada tujuan yang mau dicapai, baik relawan maupun oleh calon kandidat," ungkapnya.
“Jadi, mau dia berkompetisi jadi calon presiden atau cawapres saya kira itu normal aja,” tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Nurdin Halid mengatakan, fenomena kemunculan relawan capres saat ini adalah suatu yang positif. “Relawan ini adalah gerakan rakyat dari akar rumput dimana mereka ingin mendapatkan pemimpin yang baik dan sesuai harapan,” ujarnya.
Baca juga : Karutan Depok Ditahan Polres Jakbar, Diduga Terlibat Narkoba
Menurutnya, manfaat relawan ini ada tiga, yang pertama, membranding tokoh; kedua, menekan politik identitas; dan yang ketiga, menjadi pengawas informal dari pemimpin terpilih.
Sementara Nurdin Halid mengatakan, jika kemunculan relawan dinilai terlalu dini, tergantung pada pilihan strategis, dan berkaitan dengan kepentingan politik yang dikehendaki terhadap tokoh yang dijagokan.
“Karena logikanya begini, untuk capres atau cawapres itu tidak mungkin sekonyong-konyong tiba-tiba. Kira-kira begitu. Jangankan kelas presiden, untuk Pilkada di level Bupati, Wali Kota itu saja kandidat harus merencanakan jauh-jauh hari. Apalagi ini pilpres, mesti jauh-jauh hari membuat peta, mapping keadaan, melihat rute jalannya, dianalisa berbagai faktor yang memungkinkan dia bisa naik mobilitas vertikalnya ke atas. Nah, relawan dalam kaitan ini tidak mesti kita lihatkan dalam konteks ambisi atau gak ambisi. Saya melihatnya normal saja,” tandasnya. (Asp)