Agar Nggak Jadi Target Kerusakan Tambahan, Anis Matta: Pemerintah Harus Hati-hati Sikapi Perang "Elang Vs Naga"

Kamis, 23 September 2021, 10:49 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, Indonesia saat ini sedang menghadapi bahaya besar di tengah pertarungan supremasi antara Amerika Serikat (AS) dan Cina. Untuk itu, pemerintah harus berhati-hati menyikapi agar jangan menjadi collateral damage atau kerusakan tambahan bagi Indonesia.

“Perang dingin lalu, kita punya tragedi berdarah di sini, namanya G30S PKI. Ini menujukkan Indonesia menjadi target collateral damage (kerusakan tambahan). Jangan sampai sekarang pun kita menjadi collateral damage. Pemerintah harus lebih hati-hati menyikapinya,” kata Anis Matta dalam diskusi Gelora Talk bertajuk ‘Perang Supremasi Amerika Vs China, Akankah Meledak di Laut China Selatan?', Kamis (23/9/2021).

Anis Matta mengatakan, hal ini merupakan isu strategis yang berhubungan dengan eksistensi Indonesia sebagai bangsa. Menurutnya, dengan mengangkat secara terus menerus itu tersebut, diharapkan menjadi medium penyadaran kepada pemerintah dan masyarakat.

"Kita ingin menyalakan sirene sebenarnya, peringatan kepada masyarakat kita, kepada pemerintah kita, bahwa sekarang kita perlu sangat berhati-hati dan perlu waspada,” katanya.

Baca juga : PTM Jadi Dilema, Anis Matta: Pemerintah Harus Bisa Manfaatkan Era Digital untuk Reformasi Pendidikan

Indonesia, dikatakannya, harus pandai melihat perang supremasi antara AS dan Cina dari skenarionya, bukan drama yang terjadi. Menurut Anis, Indonesia mesti bisa membacanya dan menempatkan skenario tersendiri.

“Jangan lihat dramanya, tapi skenarionya, dan begitu kita melihat skenarionya kita mesti menempatkan pada skenario kita sendiri,” tegas Anis.

Namun sayangnya, Indonesia tidak mempunyai skenario, sehingga menjadi persoalan. Akibatnya, kebijakan luar negeri yang diambil Indonesia terputus-putus, tidak terintegrasi. Lebih merupakan kebijakan yang reaktif atau tidak menjadi bagian dari satu rencana jangka panjang.

"Dalam pertarungan antara ‘elang’ dan ‘naga’, Indonesia memerlukan skenario jangka panjang dengan melihat skenario kekuatan AS dan Cina kemudian Indonesia mencari celah untuk kepentingan nasional kita," jelasnya.

Baca juga : Energi Baru Terbarukan Harus Jadi Prioritas, Ketua DPD RI Minta Pemerintah Berani Manfaatkan Tenaga Nuklir

Dalam babak sejarah Indonesia yang baru, kata Anis, diperlukan satu arah. Arah baru tersebut akan mengajak kepada satu cita-cita dan satu imajinasi. Di tengah krisis global saat ini, menurutnya, ada dua celah, yaitu menjadi korban dan mendapatkan manfaat.

“Jadi, sudah saatnya kita membuat terjemahan baru yang lebih imajiner terhadap makna konstitusi kita. Makna (politik luar negeri) bebas aktif, tapi kita juga harus ikut dalam pelaksanakan ketertiban dunia. Ini maksudnya menjadi kekuatan kelima dunia," terang Anis.

Perang supremasi ini, ungkap Anis Matta, akan melahirkan kepemimpian baru dan aturan global baru ke depan. Sehingga Indonesia harus memahami filosofi dari perang supremasi antara AS-Cina.

“Sebaiknya kita mesti paham dari filosofinya, kalau kita tidak duduk di meja makan, kita tidak akan pernah ikut makan,” tandas Anis Matta.

Baca juga : Masih Jauh dari Target, DPR: Pemerintah Harus Cari Jalan Keluar untuk Program Vaksinasi Nasional

Sementara pada kesempatan yang sama, pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana mengatakan, AS ingin mengamankan kepentinganya di Indo-Pasifik agar tidak didominasi. AS, kata dia, tidak ingin melihat Indonesia jatuh ke tangan Cina.

“Amerika Serikat akan mendekati negara-negara mana saja yang berhadapan dengan Cina termasuk Indonesia. Kita akan mendapatkan banyak tawaran, dan tawaran itu bisa diambil sepanjang untuk kepentingan nasional kita,” kata Hikmahanto.

Sedangkan Connie Rahakundini Bakrie menilai, perang di LCS bisa saja terjadi. Namun bahaya sebenarnya, adalah upaya pembukaan paksa Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) di Timur dan Barat oleh AUKUS (Amerika Serikat, Inggris dan Australia). “Kalau ALKI Timur Barat dibuka, maka seolah-olah tamu yang melintas rumah kita, kita tidak punya kemampuan dan ketegasan menjaga martabat kepentingan kita,” kata Connie. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal