LampuHijau.co.id - Perkembangan dunia balap motor di tanah air tidak pernah sepi dari peminat, meski tidak semulus bulu tangkis dan olah raga lainnya, namun minat terhadap olah raga adu nyali ini tetap digandrungi dari masa ke masa.
Ironisnya, banyak para rider malah memilih aksi balap liar, yang pastinya resiko dan kerap memakan korban jiwa.
Menyikapi hal ini coach balap Ahmad Marta dari 43 Racing School mengatakan bahwa bakat-bakat pembalap di Indonesia tidak pernah hilang dan terbendung.

Baca juga : Peras Warga yang Sedang Renovasi Rumah, Pria Ini Ditangkap Polisi
"Indonesia saat ini sebenarnya lebih dibanding era-era sebelumnya ya karena apa mungkin sekarang pabrikan lebih punya link keluar kedua mungkin sekarang media sosialnya lebih lebih ada dibanding dulu kan paling kita dari TV atau koran aja kalau sekarang media hasil semua bisa keluar dan bisa menjadi gambaran buat anak-anak pembalap yang muda-muda, dia tahu harus ngapain, kalo pada saat dulu nggak, nah sekarang lebih berkembangnya jauh lebih pesat dan sekarang link go internasional juga lebih gampang dibanding dulu ya," kata Ahmad Marta di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Tidak kalah hebatnya menurut Ahmad Marta adalah terkait terus terlahirnya bakat-bakat pembalap muda yang kualitasnya bersaing dengan rider internasioal.
"Potensinya bagus-bagus kok, cuman kita kalah di fasilitas-fasilitas aja sih sama dukungan dari pemerintah," ungkapnya.
Oleh karenanya Ahmad Marta berpandangan, agar para bibit muda, terkhusus yang biasa mengadu nyali di ajang balap liar bisa mengembangkan potensi di ajang balap motor professional, dikarenakan, ada kepastian jenjang karier dan masa depan buat si rider.
Baca juga : Peduli Masyarakat, Dahana Bangun Sarana Pendidikan dan Air Bersih
"Apakah dia mau disitu aja dengan penuh risiko dan mungkin dia masa depannya juga enggak adakan akhirnya mungkin bisa lebih tertarik untuk ikut ke road race mungkin bisa go internasional dan lain-lain tapi kalau main balap liar maka dia hanya bermain nya di situ aja yang ada masanya, tapi kalau balap pro mungkin ada terus ada tahapan ke atasnya," ungkap pria bertangan dingin, yang mencetak rider internasional.
Diungkapkan Ahmad Marta, para rider muda yang gandrung di balap liar tidak akan sulit beradaptasi dengan para pembalap Pro, asalkan mau dan gigih dalam berlatih, serta disiplin.
"Sebenarnya kesulitan itu dari balap liar hanya main gas dan kopling, mereka sudah bisa pastinya akan mudah, paling perbedaannya nanti di riding style dia harus tahu hal baru seperti racing line dan giginya difungsikan seperti apa kayak gitu, kalau dia kan hanya kopling gas lurus mau pergi selesai, kalau ini kan dia butuh teknik dan lain-lain," ujarnya.
Sementara itu siswa 43 Racing School Pandu Padmogani Z mengatakan bahwa dirinya bahagia bisa hijrah dari ajang balap liar ke ajang balap motor professional yang mendapatkan gemblengan fisik, mental dan jasmani secara intensif.
Baca juga : Bupati dan Wabup Subang Komitmen Mutasi dan Promosi Tanpa Ada KKN
"Di sini (43 Racing School) ya lebih teratur sama lebih positif lah, jauh banget positif kalau di sana (ajang balap liar) nggak, kita sering keluar malam, hidup nggak teratur, lagi dengan Resiko yang lebih parah, juga kalau misalkan amit-amit kecelakaan gitu kan naudzubillah, di sini lebih aman kan memakai wearpack make helm yang memenuhi standar juga sama sepatu memenuhi standar semuanya dilindungi.
Disini latihan fisik lebih banyak, seperti cepat lari push up dan segala macam. Jadi lebih baik," tutupnya.