Curhat Bocah Suku Tidung yang Fotonya Ada di Uang Kertas Edisi 75 Tahun Kemerdekaan RI

Minggu, 23 Agustus 2020, 22:16 WIB
Misteri

LampuHijau.co.id - Uang pecahan Rp 75 ribu yang baru beredar itu bergambar sembilan bocah. Semuanya memakai baju adat. Ada satu gambar anak yang viral di dunia maya karena disebut mengenakan baju khas Tiongkok. Padahal itu merupakan baju Suku Tidung. Adalah Muhammad Izzam Athaya, yang wajahnya terpampang di uang kertas rupiah edisi spesial itu. Dia juga yang menjadi viral. Izzam dianggap memakai baju negara lain, padahal baju yang dikenakan adalah baju adat suku-nya, Suku Tidung, Kalimantan Utara.

Pada tahun lalu, Agustus 2019, Izzam memang diminta Bank Indonesia dan PT Peruri untuk ikut pemotretan memakai baju adat Tidung. Lokasi pemotretan berada di Rumah Balai Adat Suku Tidung Tarakan. Saat itu dia tidak tahu kalau fotonya akan masuk ke dalam gambar uang kertas. ’’Pakaian disediakan BI. Saat itu tidak disebutkan akan menjadi model uang negara. Hanya diinfokan foto-foto tersebut akan menjadi database PT Peruri dan BI,’’ kata Hendra, ayah Izzam.

Bapak satu anak itu justru tahu dari rekannya yang lebih dulu menukarkan uang Rp 75 ribu edisi kemerdekaan tersebut. Dan memang benar itu wajah Izzam. Hendra yang antusias lantas mendaftar melalui pintar.bi.go.id untuk menukarkan uang di Kantor Perwakilan BI Kalimantan Utara. ’’Jadwalnya Senin, 24 Agustus, baru saya dapat,’’ ujarnya.

Baca juga : Pemulihan Ekonomi, Bupati Subang Jadikan Koperasi Sebagai Garda Terdepan


Sebagai orang tua, Hendra bangga karena Izzam menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Meski begitu, dia sempat tidak percaya. Sebab, bocah 9 tahun itu anak rumahan yang pemalu. Dia jarang keluar untuk main. Pemotretan tahun lalu itu adalah pengalaman pertama bagi Izzam. Izzam adalah putra asli Suku Tidung. Suku asli pesisir Kaltara. Awalnya, Hendra cukup prihatin dengan kabar di media sosial yang menyebut anaknya Tionghoa.’’Saya berpikir mungkin yang memberitakan itu tidak tahu yang sebenarnya,’’ ucapnya. 


Namun, dia berusaha mengambil hikmah. Dengan menjadi buah bibir di dunia maya, toh akhirnya suku dan pakaian adat Tidung dikenal masyarakat. Hal tersebut turut menjadi kebanggaan Pemerintah Daerah Kota Tarakan dan SD Negeri 041 Tarakan, tempat Izzam bersekolah. Dia masih duduk di bangku kelas V. ’’Pesan kami mungkin sederhana saja, jika kita meragukan sesuatu, lebih baik konfirmasi kepada sumber yang tepat, jangan menduga-duga,’’ imbuh Hendra. 


Menurut dia, Izzam kini lebih percaya diri sejak wajahnya menjadi bagian di belakang uang pecahan Rp 75 ribu itu. Kini dia mendapat banyak tawaran wawancara dari berbagai media nasional. ’’Hari ini (kemarin, Red) dua kali, Kamis (20/8) bahkan ada lima kali interview. Banyak juga tetangga yang kaget,’’ ujar Hendra.

Baca juga : Siapa Minat Jualan Daun Pisang di Jepang? Seikat Harganya Sampai 800 Ribu

Terkait baju adat Tidung, mengutip Radar Tarakan, BI Kaltara tidak tahu-menahu. BI pusat berkunjung ke Kaltara untuk melakukan pengambilan gambar pada 2019. ’’Kalau soal kenapa dipilih baju adat Tidung, enggak ada usulan dari kami. Mereka (BI pusat, Red) sudah ada langkah sendiri. Sudah ada pemilihan dan minta ada surat tugas sekaligus untuk klarifikasi dan segala macam. Kami hanya menjalankan,’’ jelas Kepala Tim Sistem Pembayaran PUR dan Manajemen Intern BI Kaltara Arman Ardiyan. Arman menuturkan, baju adat yang dipilih adalah yang belum pernah ada di gambar uang sebelumnya. Sepanjang sejarah uang nasional, memang belum ada pakaian khas Kaltara. Sebab, Kaltara merupakan provinsi baru.

Sementara itu, tokoh masyarakat adat Tidung, Datu Norbeck, mengatakan bahwa baju yang tertera di uang Rp 75 ribu tersebut bagian dari busana pengantin adat Tidung. Baju itu merupakan baju pengapit pengantin yang namanya sina beranti. ’’Orang Tidung Tarakan menyebut China (Tionghoa, Red) itu sina. Sina beranti itu artinya China berhenti, tapi tidak ada hubungannya dengan China,’’ jelasnya.


Menurut legenda, lanjut Datu Norbeck, baju adat Tidung awalnya tidak memiliki nama, tapi sering digunakan dalam acara pengantin. Baju itu pun berkesan bagi warga China. Pada suatu waktu, warga China itu rela menghentikan langkahnya untuk melihat pakaian tersebut lebih dekat. Masyarakat Tidung pun menyebut sina beranti. Foto dalam uang itu mencantumkan jamong punsuk melaka yang merupakan mahkota kebesaran bagi pengapit pengantin. ’’Punusuk itu puncak, melaka itu nanas. Jadi yang dipakai pengantin, punusuknya itu dua susun, kalau pengapit itu satu punusuknya,’’ beber Datu Norbeck.(MW/JP)

Baca juga : Uang Baru Pecahan Rp 75 Ribu, Dana Segar dari Rakyat Buat Negara (Cos, Cuma Buat Souvenir Aja Tuh)


 

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal