Tri Windu Lalu, Lalu Berlalu...

Rabu, 26 Nopember 2025, 17:53 WIB
Misteri

LampuHijau.co.id - Hari ini, 26 November 2025. Saya ingin mengenang. Eh bukan mengenang, ingin menuliskan kenangan. Eh bukan ding. Ini bukan sekadar kenangan, tapi catatan perjalanan. Ah, bukan juga karena kesannya terlalu hebat. Loh, memang hebat. Setidaknya dalam skala personal, sudah cukup hebat.

Jadi cerita dimulai dari triwindu lalu.

Okelah. Mungkin memang hebat untuk sebagian orang. Tapi ya sangat mungkin saja, juga biasa-biasa saja untuk sebagian lainnya. Semua boleh menilai to ya? Semua punya subyektivitas sendiri-sendiri kan ya. Wong yo cuma gitu aja, ndak usah diperdebatkan.

Tapi tri windu yang lalu, sebuah karya (boleh to disebut sebuah karya walaupun sejatinya bukan karya-karya beneran) ditoreh bersama para penjual kata-kata. Saat itu, kami masih muda-muda. Saya baru memasuki pintu usia 30an tahun. Yang lain lebih muda lagi. Gak usah disebutin namanya satu-satu soale banyak, tapi mereka semua punya banyak peran. Biar semua nama pada nulis sendiri-sendiri, sesuai versinya masing-masing, wong semua bisa nulis bagus kok.

Baca juga : Gempa 6,6 Skala Ritcher Guncang Papua Tengah, Untungnya Tidak Berpotensi Tsunami

Hanya Bang Zoel atau lengkapnya Zoel Fauzi Lubis yang senior (semoga selalu sehat bang). Serta, tentu saja bos EMGE yang punya hajat imperium bisnis media (swargo langgeng kagem pak bos).

Nama koran sudah dibuat sebelum kelahirannya. Lampu Merah. Nama yang aneh, seperti pilihan takdir hidupnya yang juga aneh. Dari mula, diniatkan sebagai koran yang serius. Koran beneran. Mengedukasi tentang bahaya kejahatan, cerita kriminal ditulis sebagai pengingat untuk selalu hati-hati dimanapun.

Tapi takdir sudah dipilih. Lampu Merah yang aneh, beneran jadi koran aneh. Nyleneh. Jauh dari umum. Siapa yang memulai keanehan itu? Ya enggak tahu, tahu-tahu udah jadi serba aneh. Nah, anehnya lagi, semua yang aneh-aneh itu, ternyata laku dijual.

Wah ternyata banyak orang aneh yang suka yang aneh-aneh di Jakarta itu ya.

Baca juga : Hilangnya Kasat Reskrim Bintuni, Senator PFM Desak Kapolri Buka Kasusnya Terang Benderang

Semakin lama, semakin aneh. Koran dibuat semaunya. Gak ada pakem, gak pake aturan. Seenak-enaknya saja. Ngawur dan gak teratur. Tapi yang ancur-ancuran itu kok ya diterima pembaca. Malah, pembacanya makin menggila. Dan, kami juga bertambah gila.

Semua jadi gila. Gila segila-gilanya dalam membuat koran, menjual koran, mencari iklan, serta mengelola semuanya hingga menjadi tak ada yang bisa membendung. Melambung dan terus membumbung.

Ya ampun Gusti. Paringono sabar...

Saya sampai ngungun. Heran tingkat langit. Soalnya, Lampu Merah menyala tanpa kuning dan hijau. Ini bahaya. Tau sendiri kan, kalau lampu merah menyala terus, lalu lintas berhenti total. Mampet gak gerak. Hidup itu, harus ada siklus. Habis lampu merah ya lampu kuning, baru lampu hijau. Bergantian biar selaras. Jalannya lancar, kehidupan harmonis. (elah ini ngomong apa to ya...?)

Baca juga : Menanti Keadilan untuk Andri Maulida di PN Jakarta Timur

Baiklah. Saya tidak ingin menulis banyak-banyak. Biar tidak dikira terjebak masa lalu. Tulisan ini juga cuma lintasan kecil, iseng-iseng dari pada tidak nulis. Mudah-mudahan masih ada yang inget, kita punya nostalgia yang sama, walaupun mungkin beda cita rasa.

Hari ini, 24 tahun yang lalu kita pernah sama-sama membuat sejarah. Ya sejarah kecil-kecilan tapi memberi kenangan yang sulit dihapus dari ingatan.

Tri windu lalu, lalu berlalu...

Ya sudah. Semua sudah berlalu, yang tertinggal semoga bukan cerita pilu. Sehat-sehat selalu semua kawan yang pernah ikut berjuang di lampu merah. (cakir)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal