LampuHijau.co.id - Hari ini, mari berkisah tentang keris Dhapur Maheso atau Kebo. Inilah jenis keris yang termasuk populer. Ada berjenis-jenis varian dalam keris ini. Pada keris lurus misalnya, ada Kebo Lajer, Kebo Teki, Kebo Salurung, Kebo Giri atau contoh-contoh yang lain.
Sementara mewakili keris kebo yang memiliki luk antara lain Kebo Dengen atau Mahesa Dengen, Mahesa tan Kober, Mahesa Anabrang atau Mahesa Nyabrang, dan lain-lainnya.
Nanti dulu. Sebelum lebih jauh, masih ada yang menggelitik, sebab ada pendapat bahwa untuk jenis keris berdapur kebo yang bilahnya lurus, disebut kebo. Tapi agak aneh, untuk keris kebo yang berluk disebut mahesa.
Baca juga : Lahir di Bawah Padewan Dewi Sri Sifatnya Penuh Welas Asih
Memang, belum terlacak mengapa ada pembedaan seperti itu. Sama halnya, belum terkuak apa yang membuat pembuat keris alias mpu keris, menamainya kebo atau kerbau atau mahesa. Bukan nandi atau sapi.
Ki Sugeng Winarto menyebutkan bahwa ada yang berpendapat, keris berdapur kebo atau mahesa adalah keris petani. Pendapat ini tentulah erat kaitannya dengan kerbau sebagai alat membajak sawah.
Tapi Ketua Edukasi Keris di Perkumpulan Tosan Aji Brajabumi itu, punya pendapat berbeda. Karena berdasar banyak literatur, keris kebo pada awalnya dimiliki para pangeran, raja, serta bangsawan.
Pendapat senada juga disampaikan oleh kolektor keris ternama, MT Arifin. Pria kelahiran Kebumen yang menetap di Surakarta itu, menyebut ada kesalahan saat menganggap keris kebo hanya identik dengan petani. Sebab, keris kebo ada sejarahnya tersendiri.
“Tidak betul dhapur kebo semacam itu untuk petani. Itu merupakan salah bentuk keris tertua, ciptaan Mpu Lantanpai, dibabar di goa sangat, sekarang disebut goa langse di Jogjakarta. Sebagai pusaka utama Raja Pakundak. Keris itu diberi nama Sang Mahesaladrang tapi nama dhapurnya ada tersendiri saya lupa,” jelasnya.
Keris itu mulanya kembar, tapi yang satu patah. Saat putranya dewasa, yakni pangeran Putaran Jaya memerintah, terjadi pemberontakan Ratu Banowati, buliknya. Terjadi peperangan di Kutoarjo. “Pangeran terdesak dan masuk hutan. Akhirnya terselamatkan saat di tengah malam hujan lebat, berhasil keluar melalui jalan kubangan luar naik kerbau kendaraannya. Nah sebagai penghargaan, bentuk pusaka kerajaan sebutaannya diganti dhapur kebo,” kata MT Arifin.
Baca juga : Terima PM Singapura, Ketua MPR Dorong Kerja Sama Lebih Erat di Segala Bidang
Mendengar penjelasan itu, diskusi keris menjadi lebih menarik. “Nderek nyimak dan mencatat ulasan dan pembabarannya bopo.semakin menambah referensi dan mengenai keris keris berdapur kebo/mahesa,” kata Ki Sugeng.
Lalu Bopo MT Arifin kembali menjelaskan bahwa pada saat keraton menjadikan keris berkaitan dengan aksesori regulasi dan status sosial di jaman Mataram, maka kemudian bentuk keris yang sederhana itu dianggap sebagai keris prtani.
“Keris luk 13 yang renik dan wah dianggap keris raja. Tapi memang, pada waktu keris kebo diciptakan, istilah keris belum ada. Sebutannya wuku,” ungkap MT Arifin yang secara nasional dikenal sebagai akademisi dan pengamat militer. (C-1)